Search and Hit Enter

Belajar Menulis Dari Pakar/Maestro I Bersama Djokolelono. Dari Science Fiction Hingga Setan Van Oyot.

Anak laki-laki berusia 9 tahun bernama Prim masuk ke dalam laboratorium rahasia yang berada di salah satu universitas di Bandung. Alat yang dia sangka untuk permainan, ternyata benda hasil penelitian. Lonjakan listrik yang kuat mengubahnya menjadi anak yang cerdas dalam berbahasa Inggris dan mampu berpindah tempat dalam waktu yang cepat meski jarak kedua tempat sangat jauh. Cerita ini berada di buku berjudul ‘Getaran‘, yang ditulis Djokolelono di tahun 1972. Waktu di mana penulis-penulis Indonesia belum ada yang menulis cerita yang mengangkat tentang fiksi ilmiah seperti yang terkandung di dalam novel ‘Getaran‘.

Novel Fiksi Ilmiah milik Djokolelono berjudul Getaran

Fiksi ilmiah sendiri menurut Isaac Asimov adalah suatu karya tulis fiksi menceritakan tentang sesuatu yang mungkin terjadi, sedangkan kategori fantasi adalah cerita tanpa realitas yang tidak mungkin terjadi.

Dalam workshop yang dilaksanakan di nDalem Natan pada hari Minggu, 7 April 2019 lalu, Djokolelono banyak memberikan gambaran-gambaran tentang apa itu fiksi ilmiah melalui beberapa film. Film pertama yang diputar berjudul ‘1984‘, sebuah film distopian fiksi ilmiah yang diangkat dari novel milik George Orwell yang berjudul sama. Film ‘1984‘ ini menggambarkan sebuah negara rekaan bernama Oceania, di negeri ini digambarkan ada sebuah partai yang menekan masyarakat. Di film itu, seolah George Orwell menyindir suatu negara tertentu namun melahirkan cerita dengan membentuk sebuah negara baru yang tak ada di dunia nyata. Selain film ini, Djokolelono juga memberikan beberapa contoh lain seperti film ‘Animal Farm‘ yang diangkat dari buku yang berjudul sama karangan George Orwell.

Untuk memperjelas tentang apa itu fiksi ilmiah, Djokolelono juga memberikan gambara melalui film ‘Star Wars‘. Bagaimana untuk menjadi anggota atau kesatria Jedi membutuhkan beberapa tahapan. Poin-poin untuk mencapai titik tertinggi untuk menjadi Jedi termasuk dalam kategori fiksi ilmiah. Ada pun poin-poin yang dijadikan contoh di lokakarya kemarin Minggu antara lain: Tes Darah, Lokakarya, The Force, Light Saber, Ujian Padawan, Magang, Trials of Knighthood, Wisuda, Studi Lanjut dan Spesialiasi.

Acara workshop sedang berlangsung

Acara workshop yang dihadiri peserta dari beberapa kota itu berlangsung menyenangkan. Contoh-contoh yang diberikan juga jelas. Menurut Djokolelono, fiksi ilmiah dan fantasi teramat berbeda. Fiksi ilmiah suatu karangan yang mungkin saja bisa terwujud di masa yang akan datang, biasanya untuk fiksi ilmiah berhubungan dengan teknologi, dan didasari oleh pengamatan dan penelitian ilmiah, mengungkapkan hubungan manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam sekitar.

Sedangkan fiksi fantasi sendiri biasanya menceritakan mengenai hal supranatural atau magis.

Para peserta yang hadir sangat antusias mengenai materi fiksi ilmiah ini. Pertanyaan-pertanyaan pun mengalir. Pertama, pertanyaan dilontarkan oleh Ketua Umum Satupena, Dr. Nasir Tamara. Beliau bertanya, mengapa Djokolelono lebih memilih menulis fiksi ilmiah.

“Tahun 1964-1968 saya menjadi mahasiswa astronomi di ITB. Masa kuliah itu saya tinggal di Bosscha, Lembang. Lantaran terletak di atas bukit, keadaan cukup sunyi dan saya jadi sering melamun, kemudian saya mencoba menuliskan pikiran saya saat melamun itu. Saya sangat gemar membaca cerita Mandrake yang dimuat di Malangpost. Saya sangat senang memasukkan suasana Lembang dalam karya-karya saya. Nah, dan ketika karya saya itu dihargai dengan honor, maka saya kecanduan untuk membuatnya lagi.” Papar Djokolelono menjawab pertanyaan Dr. Nasir Tamara.

Pertanyaan lain muncul, seperti yang ditanyakan Olen Saddha, peserta dari Solo, “Bagaimana jika menulis fiksi yang berseberangan dari aturan? Kemudian begini, beberapa waktu yang lalu saya bermimpi. Mimpi itu seolah nyata, lekat sekali di kepala saya. Di dalam mimpi itu, saya seolah melihat mutan-mutan. Selepas bermimpi itu, saya mulai mencari referensi tentang hal serupa. Saya menemukan film yang tokoh utamanya Illya Ivanov, seorang ilmuwan di era Stalin. Dia berencana membuat inseminasi buatan yang melibatkan manusia dan hewan. Namun sebelum inseminasi buatan itu bisa terwujud, dia ditangkap dan diasingkan. Bagaimanakah caranya untuk membuat cerita semacam itu agar terlihat nyata?”

Mendengar pertanyaan itu, Djokolelono pun segera menjawab. 

“Sebelum menuliskannya, seharusnya Anda yakin dulu bahwa hal itu bisa terjadi, meski belum ada hasil ilmiah atas inseminasi buatan yang melibatkan manusia dan hewan. Atau mungkin Anda bisa mengambil sudut cerita yang agak lain, semisal menggunakan alur mundur, di mana-mana anak-anak hasil inseminasi buatan menggunakan sel hewan dan manusia itu lahir dan hidup di tengah-tengah masyarakat. 

Untuk menyelesaikan cerita pun yang diperlukan adalah Anda jangan takut untuk menulis. Mintalah orang lain membaca karya Anda dan lihatlah reaksi mereka atas tulisan Anda.” 

Pak Djoko sedang menjawab pertanyaan peserta.

Pertanyaan-pertanyaan dari peserta lain pun masih bermunculan. Ada yang menanyakan bagaimana menyelesaikan menulis untuk pemula dan bagaimana mencari ide yang sering buntu ketika keinginan menulis itu muncul. Selain memberikan paparan workshop dan menjawab pertanyaan peserta, Djokolelono juga memberikan beberapa soal mengenai kepenulisan fiksi ilmiah yang harus dikerjakan para peserta. 

Saat memberikan paparan di depan para peserta yang kebanyakan kaum milenial.

Setelah acara workshop selesai, acara dilanjutkan dengan launching novel terbaru Djokolelono yang diterbitkan oleh Penerbit Marjin Kiri berjudul ‘Setan Van Oyot‘. Untuk bincang novel ini, pembicaranya selain penulis novelnya, juga ada Ronny Agustinus selaku editor dan pemilik Penerbit Marjin Kiri serta Dr. Nasir Tamara yang memposisikan sebagai pembaca novel ‘Setan Van Oyot‘.

Dari pengakuan penulis novelnya, sebelum acara diskusi dimulai, ada penjelasan bahwa judul dari novel ini adalah sebuah anagram yang terlahir selepas penulis kerap melihat seorang politisi yang sangat kerap muncul di televisi. Uniknya, hanya dari nama yang sering didengar dan dilihat di televisi, terlahirlah judul novel ‘Setan Van Oyot‘. Sebuah novel yang awal kepenulisannya, selalu diceritakan secara bersambung di laman facebook Djokolelono.

Kover novel Setan Van Oyot karya Djokolelono

Pembicara pertama untuk launching novel ‘Setan Van Oyot‘, Dr. Nasir Tamara memaparkan bahwa ‘Setan Van Oyot‘ ditulis Djokolelono di usia yang ke-75 tahun sangat patut diapresiasi. Di usia beliau, menulis novel 300 halaman sama dengan lari marathon menempuh jarak 40 km.

Dr. Nasir Tamara, Ketua Umum Satupena sedang memaparkan novel ‘Setan Van Oyot’

Oyot sendiri dalam bahasa Jawa berarti akar. Karena dianggap sakral, pohon beringin dipanggil ‘kyai’ oleh orang-orang Jawa. Namun, untuk orang Belanda waktu itu, pohon beringin yang berada di dalam novel demikian sulit untuk ditebang, maka mereka menyebut pohon beringin itu dengan sebutan ‘Setan Van Oyot‘. Hal ini sesungguhnya bukan lantaran adanya unsur mistik, melainkan kejadian-kejadin yang membentuk psikologis orang-orang menjadi ragu dan takut kepada pohon beringin tersebut.

“Bahasa dalam menyusun novel ini sangat mengalir dan kuat. Bahasa Indonesia yang enak dan cara bertutur yang baik menjadikan novel ini demikian menarik. Buku ini sukses karena kerja sama penulis dan penyuntingnya.” Ucap Dr. Nasir Tamara di tengah paparannya.

Dr. Nasir Tamara pun menyebutkan beberapa tokoh utama yang dirasa sangat berpengaruh di novel ‘Setan Van Oyot‘, seperti tokoh Daan van Dijk, Zus Kesi, Thijs van Dijk, dan Ing Nio atau yang akrab dipanggil dengan sebutan Nona Tatit. Kisah dari tokoh-tokoh tersebut sangatlah menarik. Novel itu menjadi demikian hidupnya, dengan alur cerita dan penokohan yang sangat menarik dan mengikat pembaca untuk tak berhenti membacanya.

Lebih lanjut, Dr. Nasir Tamara mengatakan, “Cerita yang ditulis Djokolelono ini sama bagusnya dengan ‘Sajjah-Adinda‘ karya Multatuli. Ada pula yang mewakili bupati Lebak yang korup kala itu di buku ini yakni Ndoro Sinder. Yang menarik dari tokoh Ndoro Ayu Sinder, setelah menikah berat badan Ndoro Ayu Sinder mencapai dua kuintal. Lantaran kelebihan berat badan inilah, ia meninggal. Hal ini sangat menarik, bahwa kematian untuk dirinya bukan lantaran dibunuh, melainkan lantaran obesitas,”

Namun, meski buku ‘Setan Van Oyot‘ sangat menarik, tak urung ada sedikit kritik yang dilontarkan Dr. Nasir Tamara. 

“Sayangnya, Mas Djoko kurang mengeksplor mengenai peristiwa gerakan pro kemerdekaan di dalam novel ini. Padahal di tahun 1917, Soekarno sudah mengeluarkan pidato pembelaan Indonesia Menggugat, dan terjadi pemogokan kerja di berbagai perkebunan milik Belanda. Apabila hal ini lebih dieksplor, tentu novel ini akan jauh lebih menarik.”

Namun meski ada sedikit kritik untuk novel tersebut, Dr. Nasir Tamara sangat mengapresiasi karya terbaru dari Djokolelono, terlebih ketika mengingat bahwa ini adalah novel dewasa pertama yang ditulis Djokolelono setelah selama ini menulis buku-buku anak.

Bedah buku Setan Van Oyot sesi pembicara Dr. Nasir Tamara

Ronny Agustinus, selaku penyunting dan pemilik Penerbit Marjin Kiri mengatakan bahwa melalui novel ‘Setan Van Oyot‘ ini, semua yang dirasa mistik sesungguhnya memiliki penjelasan secara logis. Ia mengaku telah membaca karya-karya Djokolelono sejak lama. Meski kebanyakan yang dia baca buku-buku terjemahan Djokolelono dan bagus-bagus, namun ia tidak menampik bahwa ada kalanya ia menkrtitik buku-buku terjemahan tersebut. Salah satu yang diterjemahkan adalah karya John Steinbeck. 

“Ketika kami terima, naskah novel ‘Setan Van Oyot‘ sudah demikian matang. Namun tetap ada tambahan-tambahan agar buku itu lebih apik dan logis. Meski sebagai penyuntingnya, saya merasa ada bagian-bagian yang kurang, antara lain kurang jelasnya penjelasan waktu yang ada di sana. Hal itu menyebabkan pembaca harus berpikir untuk mengerti bahwa alur cerita telah berlalu dua bulan atau beberapa bulan kemudian.”

Ronny Agustinus sedang memaparkan Setan Van Oyot.

Tak hanya mengulas menyoal novel ‘Setan Van Oyot‘. Ronny juga membantu menjawab pertanyaan salah satu peserta menyoal ketakutan penulis pemula saat menulis. 

“Untuk penulis pemula, apabila menulis memikirkan diri menjadi editor pasti akan merasakan ketakutan. Saran saya tulis dulu sampai selesai, baru meminta tolong kawan untuk membaca dan menilai karya tersebut, namun apabila itu malah menimbulkan rasa takut dan khawatir akan merusak kepercayaan diri, maka tak perlu dilakukan. Pendalaman materi ‘what if‘ atau ‘bagaimana kalau’ sangat berguna untuk mengembangkan karya tulis.”

Di tengah peserta workshop dan launching novel.

Dengan bercanda, Djokolelono selaku penulis novel ‘Setan Van Oyot‘ mengatakan bahwa ia baru tahu novel terbarunya itu bagus selepas mendengarkan penjelasan dari Dr. Nasir Tamara. 

Pak Djokolelono, membacakan nukilan dari Setan Van Oyot.

Menurut Djokolelono, novel ‘Setan Van Oyot‘ adalah karya fiksi ilmiah yang dikembangkan atas pertanyaa ‘bagaimana jadinya kalau birokrat korupsi di jaman kolonial di kota kecil Jawa Timur?’ Jawabannya pastinya melibatkan komunitas di kota itu, seperti bagaimana hubungan antar manusianya, bagaimana budayanya.

“Pemberian judul ‘Setan Van Oyot‘ dimaksudkan untuk memberi kesan bahwa: setan itu menakutkan, kata van identik dengan zaman penjajahan Belanda, serta oyot merupakan penampakan yang menonjol dari pohon beringin.” Kata Djokolelono sembari memperlihatkan beberapa materi menyoal novel ‘Setan Van Oyot‘ di layar.

Djokolelono pun mengakui saat menulis novel ini, ia melanggar beberapa aturan. Seperti judul dibuat di awal, sedangkan untuk konsep cerita belum ada. Ketika bab pertama selesai, cerita belum jelas mengarah.

Pak Djoko menanda tangani novel Setan Van Oyot.

Novel ‘Setan Van Oyot‘ adalah sebuah kontroversi, baik cara menulisnya atau ceritanya, tetapi riset latar belakang tetap harus dilakukan seteliti mungkin.

Satupena.id/ArtieA.

2 Comments

  1. “Yang menarik dari tokoh Ndoro Sinder, setelah menikah berat badan Ndoro Sinder mencapai dua kuintal. Lantaran kelebihan berat badan inilah, ia meninggal. Hal ini sangat menarik, bahwa kematian untuk dirinya bukan lantaran dibunuh, melainkan lantaran obesitas,”

    Sepertinya ada kesalahan pada statement di atas. kematian Ndoro Sinder adalah karena kelelahan dan efek obat kuat ramuan dari ibu mertuanya (Ndoro Ayu Mantri Polisi). Yang berkelebihan berat badan adalah Ndoro Ayu Sinder, istrinya Ndoro Sinder.

Leave a Reply