Search and Hit Enter

Berbincang Tentang Buku dengan Okky Madasari: “Yang Penting Kamu Baca”

Dimuat Tatkala.co, 28 Maret 2019.

Oleh: Wendy Fermana

Saya menemukan tulisan Okky Madasari tatkala mulai serius membaca saat duduk di sekolah menengah atas. Novel pertamanya Entrok buat saya adalah debut yang bikin cemburu. Ia mengangkat permasalahan perempuan, opresi Orde Baru, lokalitas, Islam, dan mimpi anak kampung untuk mengejar sesuatu. Buku itu membicarakan kompleksitas persoalan kehidupan dengan begitu apik.

Terlepas dari capaian literer, yang mesti dibedah lewat penelitian lebih serius, perempuan kelahiran Magetan ini telah menunjukkan konsistensi berkarya sepanjang sepuluh tahun ini dengan penjelajahan tema yang ditawarkannya.

Ia mengupas korupsi dalam 86, menyoroti kaum Ahmadiyah yang tertindas lewat Maryam, menampilkan mereka yang liyan dan termarginalkan karena masyarakat dan ormas yang bermuka banyak di Pasung Jiwa.

Lalu, persoalan keterbelahan individu di dunia digital pun diketengahkan melalui Kerumunan Terakhir. Di dalam buku cerita pendek Yang Bertahan dan Binasa Perlahan, kita bakal melihat betapa politisnya kisah yang disuguhkan Okky.

Kejutan lain, ia merilis novel anak! Sudah ada dua serial Mata yang terbit, yakni Mata di Tanah Melusdan Mata dan Rahasia Pulau Gapi. Setidaknya bakal ada dua karya lagi yang menyusul untuk melengkapi serial ini sehingga mewujud menjadi Tetralogi Mata.

Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan Okky, mengulik seputar bacaan, mulai dari pustaka yang dilahapnya saat kanak-kanak, kecintaannya pada Foucault hingga keinginannya punya Kindle.

Kalau membaca, apakah ada waktu khusus? Barangkali ketika pagi atau malam hari?

Tidak ada waktu khusus. Kalau lagi musim baca, aku bisa membaca seharian. Namun, saat musim menulis, aku tidak membaca apa pun, kecuali buku untuk riset. Sekitar beberapa waktu lalu, aku baru selesai merampungkan naskah [“Mata dan Manusia Laut”, buku ketiga seri Mata], dan sekarang aku mulai memasuki musim baca.

Buku terakhir yang dibaca yang gemanya terasa hingga hari ini?

Buku yang terakhir kali kubaca dan sangat berkesan itu Sapiens. Dari sana bahkan terbit beberapa tulisan. Seperti saat aku menulis artikel peringatan hari Sumpah Pemuda di detik.com, itu terinspirasi Yuval Noah Harari. Dia kan bilang, semua realita yang terjadi di dunia kita itu terbentuk dari dongeng. Indonesia itu kan ada karena kita percaya pada kebesaran Sriwijaya, Majapahit, dan lainnya.

Sapiens cukup memengaruhiku. Aku kan ‘Foucauldian’ sekali. Ada kedekatan antara Sapiens dengan Foucault. Yuval ini sejawaran yang ingin membangun sejarah dari sisi ide. Ia ingin mengungkapkan bagaimana sejarah manusia itu sesungguhnya terbentuk dari ide, dari adu gagasan, dan dari cerita yang dipercaya orang.

Di luar itu, aku kan sering ketemu anak-anak muda di berbagai daerah. Jadi, aku beberapa bulan ini banyak membaca buku-buku yang ditulis penulis muda yang belum mendapat banyak perhatian, belum mendapat penerbit yang bisa dikatakan agak besar, yang bisa mendistribusikan karya. Seperti di Ternate, ada penulis Rajif Duchlun. Di NTT, penulis-penulis muda juga banyak. Beberapa bulan ini keliling, aku membaca buku mereka dan menemukan banyak sekali penulis potensial yang menjanjikan.

Saat memutuskan untuk membaca sebuah buku, alasannya apakah karena banyak dibicarakan, atau karena membaca ulasan, atau ada seseorang yang kalau dia bilang bagus pasti dibaca?

Yang terakhir tidak. Ada buku yang sifatnya memang notable sehingga setidaknya aku mesti tahu. Seperti Sapiens yang kubaca akhir tahun lalu. Sebetulnya, agak terlambat, tapi dengan membacanya, aku bisa tahu perkembangan pemikiran sosial sekarang itu sejauh mana.

Buku sastra, aku selalu baca penulis muda karena aku ingin tahu perkembangan penulis sastra Indonesia terkini. Jadi, aku baca Faisal Oddang, baca Ziggy Z, baca juga Rio Johan. Selain untuk ikuti perkembangan, itu juga sarana agar aku terus gelisah dan cari inspirasi untuk belajar dari hal lain. Kesannya kan seolah-olah kalau sudah jadi penulis, sudah malas untuk membaca tulisan orang lain, aku tidak. Aku berusaha untuk terus membaca.

Buku Karya Okky.

Sebetulnya, apa yang paling penting dan hendak didapatkan Okky saat membaca?

Kalau sastra, aku bukan orang yang mencari kelemahan bacaan, tapi pertama aku coba raih a whole feeling atau rasa apa yang kudapat. Dari rasa itu nantinya memberi kesan dan pemahaman bagaimana memaknai buku tersebut. Ketika ada kenikmatan membaca, dari situ pasti bakal ada makna dan interpretasi.

Tentu ada buku yang secara rasa, aku tidak mendapatkan kesenangan, tapi penting untuk diketahui. Misalnya, aku baca tuntas Ayat-Ayat Cinta dan 99 Cahaya di Langit Eropa [saat menempuh program pascasarjana, Okky menulis tesis berjudul “Genalogi Novel-Novel Indonesia: Kapitalisme, Islam dan Sastra Kritikal”, yang kini tengah dalam proses alih wahana menjadi buku]. Aku ingin tahu kenapa buku-buku ini best seller. Ini juga penting untuk mengetahui masyarakat kita sedang dalam situasi sebagaimana.

Buku klasik yang pertama kali dibaca dan paling disukai?

Klasik yang bagaimana? Kita mulai dari yang paling tua saja. Aku akan menyebut Mas Marco dengan Student Hidjo. Aku orang yang percaya sejarah sastra Indonesia bukan dimulai dari Balai Pustaka, tapi dari Mas Marco. Namun, masalahnya narasi utama kita memulainya dari Balai Pustaka karena itu versi resmi Hindia Belanda.

Kalau Angkatan Balai Pustaka, aku paling suka Salah Asuhan. Roman itu menggambarkan bagaimana masyarakat yang ingin menjadi Belanda. Dia malu terhadap budayanya sendiri. Salah Asuhan itu lapis-lapis persoalaannya terasa sekali menggambarkan kompleksitas.

Penulis fiksi atau nonfiksi yang memengaruhi karier awal kepenulisan?

Umar Kayam lewat Para Priyayi membuat aku memutuskan untuk menulis novel.

Lalu, karya siapa yang masih terus memukau hingga saat ini?

Kalau sastrawan Indonesia, tentu Pramoedya. Kalau pemikir, itu Michael Foucault. Aku jatuh cinta pertama kali pada Foucault tahun 2012, awalnya membaca Power/Knowledge. Aku sadar bagaimana pengetahuan itu ternyata bukan sesuatu yang biasa-biasa saja, ada kontrol, ada kekuasaan.

Saat masih kanak-kanak apa saja buku yang dibaca? Kemudian, buku apa yang membuatmu menjadi pembaca?

Aku tumbuh dengan keterbatasan bacaan. Jadi, aku tidak tumbuh dengan banyak baca buku anak. Seingatku hanya buku Lima Sekawan. Lalu, membaca cerita pendek yang dimuat di majalah Bobo dan Mentari Putera Harapan, dan segera membaca buku dewasa.

Sebetulnya jatuh cinta dengan membaca itu sudah dimulai sejak membaca Lima Sekawan. Namun, ketika mahasiswa aku membeli dan membaca Tetralogi Buru. Setelah itu, semua karya sastra aku baca nonstop.

Apa yang paling banyak dibaca saat menulis buku anak?

Untuk menulis serial Mata, aku memang membaca novel anak dunia. Mulai dari Rudyard Kipling hingga Salman Rushdie. Mulai dari Alice in Wonderland Lewis Carroll hingga cerita anak Roald Dahl.

Dari nama-nama itu, yang menurut Okky capaiannya luar biasa?

Tentu saja, di masing-masing penulis aku seperti mencuri ilmu. Roald Dahl bisa bikin ketawa. Itu kan kelemahanku banget. Kalau Salman Rushdie, dia memang agak serius. Kalau ngomongin kesuksesan, tentu buku anak Salman Rushdie masih agak kalah sukses dibanding Roald Dahl. Namun, Roald Dahl ini sadis sekali. Roald Dahl ini juga misoginis, musuh dalam ceritanya kebanyakan perempuan.

Yang aku lihat buku anak saat itu tidak pernah kritis terhadap masyarakat. Misalnya, aku baca Secret Garden Frances Hodgson Burnett yang digadang-gadang bagus, tapi dia biasa saja menggambarkan kolonialisme atau saat orang India dijadikan budak. Buku anak Kipling juga dianggap menyuburkan kolonialisme. Enid Blyton pun ternyata kritiknya antifeminisme. Jadi, buku anak seperti melanggengkan nilai yang saat itu ada.

Namun, para penulis ini punya kemampuan bercerita yang baik untuk anak-anak. Satu hal, yang kupelajari, mereka tidak pernah dengan sengaja saat menulis untuk anak itu dimudah-mudahkan. Apalagi anak-anak itu kan mereka mau baca sesuai nalar mereka. Bayangkan saja ketika kita waktu kecil kan, kita membaca apa saja. Saat kecil pun aku berpikir, bacaan ini terlalu mudah, dan aku ingin membaca yang lebih menantang.

Aku pun percaya semakin banyak ragam bacaan. Semakin banyak genre yang ditulis, akan semakin baik. Aku menulis novel anak pun agar penulis mengangap buku anak ini bukan bacaan remeh temeh. Ini kerja serius juga.

Buku self-help sering dianggap sebelah mata. Namun, adakah buku how to yang bermanfaat versi Okky?

Semua orang lagi tergila-gila Marie Kondo. Jadi, kalau aku sebut dia, aku pasti akan diketawain. Aku sebut The Subtle Art of Not Giving F*ck Mark Manson. Ini menarik karena dia bikin kita sadar bahwa hidup ini tidak indah. Tapi shit happens. Hidup itu kadang nyebelin. Kenyataannya memang begini. Kita tak perlu beranggapan hidup kita sedang baik-baik saja. Tapi kamu harus kuat dan bangkit lagi. Saat remaja aku dapat hadiah buku yang berguna sekali. Judulnya Don’t Sweet the Small Stuff for Teens. Di buku itu aku diajak mengerti, kenapa sebaiknya aku tidak mikirin hal tidak penting dalam hidup.

Kalau baca buku, biasanya satu buku dalam satu waktu atau sekaligus baca banyak buku secara simultan?

Buku sastra itu aku cepat. Novel bisa baca cepat sehari atau dua hari. Atau paling lama tiga hari, karena faktor tebal bukunya. Sebab aku sebagai penulis novel bisa bilang bahwa aku sudah punya gambaran strukturnya sehingga bisa lebih mudah saat baca. Kalau buku nonfiksi agak lama, apalagi kalau dalam bahasa Inggris. Aku harus memahami nonfiksi ini untuk mengerti pemikirannya ini seperti apa.

Lebih nyaman baca buku cetak atau e-book?

Kalau bicara soal paperback atau e-book, aku orang yang ingin segera beralih ke e-book. Tapi masalahnya aku belum punya Kindle. Aku kan belakangan punya mobiltas yang cukup tinggi dan aku tidak bisa menumpuk buku lagi. Koleksi buku juga banyak banget. Dari sisi harga kan e-book lebih ekonomis.

Apakah koleksi buku cetak tetap memberikan spark joy?

Oh, iya. Karena itu, kritikku kepada Marie Kondo, sebetulnya yang penting ambil semangatnya. Kata Marie Kondo, maksimal 30 buku saja. Tidak bisa dong, ukuran kebutuhan manusia itu beda. Jadi harus berpikir, apa yang dibutuhkan. Aku masih butuh buku cetak. Tapi harus ada kurasi. Ada satu titik berpikir, ini butuh atau tidak.

Aku sebagai penulis juga senang kalau kawan-kawan mulai beralih ke e-book, kalau memang nyaman, sebab harganya lebih murah. Untuk atasi persoalan pengiriman buku yang mahal, e-book memberi jembatan. Intinya, aku tidak pernah mempermasalahkan buku cetak atau e-book, yang penting kamu baca.

Apa film favorit yang diangkat dari film dan buku apa yang kamu bayangkan harus menjadi film?

Aku suka sekali menonton Remains of the Day yang diangkat dari novel Kazuo Ishiguro. Aku sebetulnya mau seri Mata-ku. Aku tidak berpikir, buku menjadi film itu sebuah pencapaian. Ini hanya menunggu waktu yang tepat. Produser yang tepat. Sutradara yang tepat. Tapi kalau untuk buku-bukuku sebelum seri Mata. Aku ingin biarkan semua orang sudah baca dulu. Mungkin seperti saat Ronggeng Dukuh Paruk difilmkan. Itu semua orang sudah kenal dulu dan sudah punya bayangan di kepala tentangnya. Jadi, biarkan berproses.

Untuk seri anak itu juga aku punya pertanyaan sebab di situ kan ada unsur-unsur yang sulit juga digambarkan, tapi kalau itu bisa diwujudkan dan tak kalah dengan Harry Potter, misalnya. Kita lihat teknologi film kita apakah bisa mengakomodasi. Aku juga tak sabar mau lihat Gundala Putra Petir yang dijanjikan oke secara sinematik.

Kalau ada yang mau menulis cerita hidup Okky, siapa yang diminta untuk menulis, atau mau menuliskan sendiri?

Enggak ada. Di luar official biography, kalau ada yang mau menulis aku tidak bisa melarang. Tapi aku tidak akan meminta orang menuliskannya. Aku mungkin akan menulisnya sendiri, tapi nanti kalau aku sudah tua. Kehidupan masih terus berjalan. Karena itu, aku bingung, ada orang-orang yang ngebet sekali ingin punya buku biografi, padahal mereka masih muda.

Okky. (Dokumen Pribadi)

Ini pertanyaan intermeso. Kalau kamu bikin pesta, dan berkesempatan mengundang tiga penulis, baik yang masih hidup atau telah mati? Siapa yang mau diundang?

Wah, ini kayak nonton Midnight in Paris. Pertama, aku tidak akan mengadakan pesta. Kedua, aku orang yang menghabiskan waktu sendirian dan berinteraksi hanya saat dibutuhkan. Tapi mungkin aku ingin ngobrol dengan Pram. Aku mau ngobrol soal realisme sosialis. Jadi, bukan karyanya. Pram punya buku soal realisme sosialis yang direncanakan untuk pelajaran sekolah. Tapi karena rezim yang berganti, tidak sempat terwujud. Aku mau banyak ngobrol banyak tentang itu. Kalau penulis perempuan yang lain, masih hidup semua, dan masih sering ketemu dan kita sering ngobrol.

Terakhir, kalau punya kesempatan untuk menyarankan presiden membaca sebuah buku, buku apa yang ingin disarankan untuk dibaca?

Aku mau dia baca Maryam. Sebab itu case yang harus dia selesaikan. Aku mau dia baca Pasung Jiwakarena terakit kondisi saat ini, dan akan kusuruh baca 86. Ya, tiga itu cukup, tidak baca bukuku yang lain tak apa. Ada pengalaman unik soal saran buku seperti ini.

Beberapa tahun lalu, ada seorang pejabat yang menulis sebuah artikel di surat kabar. Pejabat ini baru keluar dari penjara setelah dihukum karena kasus korupsi. Dia menulis di artikelnya, keadaan di penjara itu sama seperti yang digambarakan Okky Madasari di novel 86. Jadi, di dalam penjara dia membaca novel itu. Karena itu, aku membayangkan seandainya para pejabat itu membaca 86. Mereka tentu akan berhati-hati saat menjabat. [T]

Tatkala.co/WendyFermana

2 Comments

    1. Ya, membaca adalah napas agar bisa menulis. Dengan membaca kita akan lebih mengerti bagaimana cara mengembangkan tulisan yg akan kita tulis.

Leave a Reply