Search and Hit Enter

Perempuan Bermata Api

Cerpen: Artie Ahmad

Kabut di timur bagai tirai panggung drama yang terkembang. Namun panorama alam itu tak lama. Semburat cahaya matahari pagi mengoyak kelembapan kabut yang sedari tadi menyelimuti punggung-punggung bukit. Warna kelabu tergantikan warna hijau zamrud dari pohon-pohon cemara.

            Di pagi yang mulai semburat seperti pagi ini, aku memasuki kedai kopi di ujung desa. Hal yang sangat kusukai, menghirup kopi dengan mencium aroma gelegak tengguli dari air tetesan nira yang dimasak di belakang kedai. Aroma yang memperindah suasana pagi, menggugah nyawa yang masih setengah tertidur agar benar-benar terjaga. Tapi pagiku kali ini agak lain. Kedai kopi masih sepi ketika aku melihat seorang wanita muda yang duduk di sudut kedai. Matanya menatap buku catatan yang terbuka di hadapannya. Melihatnya sekali saja, aku langsung tertarik kepadanya. Ada kemagisan yang dimilikinya hingga mengundangku untuk mendekatinya.

            “Sendiri?” Aku menarik kursi di depannya.                              

            “Begitulah.” Suara itu terdengar lembut mendayu. Mendengar suaranya, naluriku sebagai seorang laki-laki seketika terbangun.

            “Aku rasa kau bukan orang sini. Baru hari ini aku melihatmu,”

            “Aku memang bukan orang sini.” Suara yang lembut itu mengalun lagi.

            “Kau siapa? Dan orang mana?” Aku menegakkan punggungku, menilai reaksi wanita yang memiliki mata bagai telaga ini.

            “Aku seorang penulis. Tak memiliki tempat tinggal, dan hidup sehidupnya. Suka berpindah-pindah tempat tinggal.”

            Mendengar jawabannya, aku tergelak. Jadi dia seorang penulis yang selalu mencari inspirasi di mana saja. Kuamati wajahnya dengan cermat. Cantik, manis, dan klasik. Bibirnya yang tipis semerah mawar itu, ingin sekali aku memagutnya barang sebentar saja. Tak pernah kubayangkan akan bertemu Dewi Sri sepertinya di pagi yang melankolis seperti ini.

            “Kalau kau seorang penulis. Maukah kau mendengarkan cerita tentang seorang perempuan yang cantik sepertimu. Perempuan yang mengubah segala hal di sekitarnya. Perempuan yang selalu berkalung nyawa meski berkali-kali dibunuh. Perempuan yang menjadi legenda di desa ini. Seorang penari lengger yang mati beberapa kali dan selalu hidup kembali. Mau?” Tiba-tiba cerita tentang seorang penari lengger yang menjadi legenda di desa ini menyeruak di ingatanku. Tentu semata-mata semua itu hanya untuk menarik perhatiannya. Tak lebih dari itu.      

            “Ceritalah. Aku akan mendengarkan ceritamu. Penulis sepertiku selalu tertarik dengan cerita-cerita khayal dan absurd.” Dia menulis sesuatu di catatannya.

            “Ini bukan tentang cerita khayal. Ini nyata, namun belum ada yang membuktikan keabsahannya.” Aku mengaduk kopi yang baru dihidangkan di hadapanku.

            Wanita muda yang baru kukenal pagi ini kelihatan tertarik dengan tawaran cerita yang akan kuceritakan kepadanya. Merasa pancinganku mengenai sasaran, aku mulai bercerita tentang seorang penari lengger yang selalu diceritakan turun temurun di desa ini.

            Cerita tentang seorang perempuan penari lengger yang tak bisa dimatikan. Perempuan beraroma melati yang dipadu semerbaknya aroma cendana. Perempuan yang memiliki bara api di matanya.

***

            Maka cerita tentang seorang penari lengger yang bernama Rukmini itu mengalir seperti aliran air di Bengawan. Cerita tentang mitos keberadaan penari lengger berkalung nyawa dari Jatisrono. Cerita yang sempat hanyut dibawa aliran Bengawan, namun masih dipercayai kebenarannya. Hanya saja, perempuan bermata api yang menjadi misteri itu tak pernah diketemukan keberadaan akhirnya. Tak ada satu pun hikayat dari Jatisrono yang mengetahui keberadaan penari lengger yang molek lagi magis itu. Rukmini menghilang seperti kabut yang selalu menghilang dengan magis diiringi sinar matahari pagi yang senantiasa mengoyak keindahannya.

            Rambutnya yang hitam legam tak ubahnya mayang yang dijalin alam untuk menambah kecantikannya. Kulitnya yang putih tak ubahnya sepuhan marmer yang dipagut bengisnya kapur dari pegunungan gamping. Bibirnya yang merah bak kuntum mawar mengundang siapa saja untuk memagutnya. Tak ada seorang lelaki pun yang mampu bertahan tak mengucapkan kata cinta kepadanya. Rukmini, sebuah nama yang menjadi bius di Jatisrono itu tak ubahnya maha karya alam dalam pahatan tubuh seorang perempuan.

            Desir angin mengacau daun-daun menjadi gemirisik. Bunyi burung sikitan menambah sendunya suasana sungai Bengawan. Di antara kabut yang sedang turun di Jatisrono, pagi yang penuh dengan mozaik cahaya matahari yang menelisip di antara daun-daun jati, Rukmini yang sedang mandi tak ubahnya Dewi Sri yang sedang turun ke bantala hanya untuk sekadar mandi.

            Tatkala sang dewi sedang turun mandi seperti saat inilah, panorama di Bengawan bertambah. Sekelompok pemuda akan menyempatkan diri mengintipnya mandi. Tak hanya para pemuda desa, sekelompok serdadu Belanda pun turut ikut menenggelamkan diri di antara rerimbunan semak-semak hanya sekadar mengintip mayang legam bagai sutra yang menjuntai di kepala Rukmini, dan akan jatuh di punggung yang putih bersih bak pahatan marmer yang menitis di kulit Rukmini.

            Sang penari lengger, kembang mayang milik Jatisrono itu memang menggoda. Kala pagi, dia akan turun ke Bengawan. Lalu kala malam, dia akan menggoda siapa saja dengan rentak lengger yang dia suguhkan. Tarian lengger yang selalu mengundang decak para penontonnya adalah panggilan magis untuk siapa saja datang ke Jatisrono.

            Tak ada yang pernah tahu kenapa Rukmini yang nirmala itu memilih menjadi seorang penari lengger. Bukankah dengan menjadi seorang penari lengger akan semakin banyak mata yang menikmati mayang legam di kepalanya. Hanya saja, ketika rentak lengger disuguhkan, mayang legam yang menjuntai akan digelung dengan rapi. Namun dengan gelungan semacam itu, maka tengkuk sang dewi akan leluasa dinikmati semua mata yang melihat rentak lengger yang terlahir di atas bukit sebelah timur itu …

***

            Tak ada yang mengetahui kenapa Rukmini memilih menjadi seorang penari lengger. Para gadis desa dan para perempuan desa selalu bersuara kalau Rukmini hanya sekedar ingin menggoda kekasih dan suami-suami mereka. Tak lebih. Berwajah dewi, tapi di mata mereka Rukmini tak ubahnya sundal yang menggoda syahwat para laki-laki dengan gerak gemulai tubuhnya.

            Rukmini tak pernah membuka mulut. Alasan kenapa memilih menjadi penari lengger tak pernah ada yang tahu. Kemagisan dirinya memang menjadi buah bibir di Jatisrono. Meski tak pernah ada yang tahu, siapakah sebenarnya Rukmini yang menjadi dewi Jatisrono. Rukmini datang dari timur. Dari tempat yang mereka belum kenal. Datang seperti pagi, tiba-tiba datang ke Jatisrono dengan tubuh molek yang pintar menari lengger. Sang dewi turun dari bukit sebelah timur tanpa ada yang mengetahui dari mana asalnya.

            Hanya dengan akar-akar di hutan saja Rukmini mau bercerita. Kala itu Rukmini sedang mandi di Bengawan ketika senja sudah munjung di ufuk barat. Lelah berjalan, Rukmini menyempatkan diri untuk lena barang sebentar di pinggiran hutan. Gemerisik daun-daun tak mengusik Rukmini yang sedang beristirahat. Namun, sebuah akar pohon beringin yang menjuntai di hadapannya mengeluarkan suara layaknya manusia. Rukmini beringsut bangun.

            “Bagaimana bisa akar sepertimu berbicara layaknya manusia?” Rukmini mengerjapkan mata dengan takjub.

            “Bagaimana bisa juga, Batara Yamadipati menitis di tubuh gadis molek sepertimu.” Sang akar mengeluarkan suara lagi.

            “Aku bukan Batara Yamadipati, dewa kematian itu. Aku Rukmini, penari lengger dari Jatisrono. Kau salah menebak wahai akar beringin yang menua!” Rukmini tersenyum simpul.

            “Kau bisa membodohi semua orang wahai Batara. Tapi semua pohon bahkan sampai semak di hutan ini mengetahui bagaimana kelahiranmu.”

            Angin berdesir. Akar pohon beringin meliuk-liuk. Mendengar ucapan akar beringin tua itu, Rukmini beringsut bangun. Tapi sebelum dia pergi, Rukmini menggamit sebuah akar yang tadi bersuara. Dengan khidmat, dibisikkannya sebuah kata-kata yang kemudian membuat akar beringin mengerut lalu tanggal dari batangnya.

***

            Andai saja bupati yang sudah beristri lima wanita itu tak menggoda Rukmini dan mencabik kemanusiaannya. Maka pembunuhan keji di Jatisrono itu tak perlu terjadi. Tak ada yang tahu bagaimana cara Rukmini membunuh bupati yang menggodanya. Di tengah malam buta saat cahaya rembulan pecah dan berhamburan di atas daun-daun waru, api berkobar di rumah Rukmini, membakar sang bupati hingga tewas. Tewasnya Bupati Bonggowonto, menjadi misteri baru. Sang penari lengger segera dicari para serdadu dan warga Jatisrono. Tak ada kemolekan yang tersisa di otak mereka. Yang tersisa hanya aroma pembunuh. Pembunuh yang wajib dihukum berat karena telah melanggar hukum kemanusiaan.

            Rukmini berlari ke dalam hutan. Kobaran api yang keluar dari dua bola matanya telah menghanguskan Bonggowonto. Semua pepohonan bahkan semak di hutan saling berbisik. Rukmini melakukan pelarian yang pertama. Namun semuanya tak berjalan lama. Sebuah pelor menembus tengkuknya secara tiba-tiba. Pohon-pohon di hutan bergeming. Cairan merah hangat mengalir di tengkuk yang putih bagai sepuhan marmer. Tubuh Rukmini limbung. Sang jelita terkapar di tanah.

            Beberapa serdadu segera berlari memburunya. Namun mereka terhenti seketika tatkala tubuh Rukmini bergerak. Sang penari lengger berdiri seakan tak pernah ada pelor menembus tengkuknya. Matanya yang sehitam telaga itu menyala. Awalnya hanya sebuah bara api kecil yang memercik, lalu menjadi kobaran api yang menjilati apa saja yang ada di hadapannya. Beberapa serdadu memekik saat api dari kedua mata Rukmini membakar mereka. Itulah api yang membakar Bonggowonto. Api yang keluar dari kedua matanya.

            Rukmini tak mati. Lubang di tengkuknya sembuh sama sekali. Akal mulai dimainkan jendral Belanda yang mendapat tugas mengeksekusi sang penari lengger. Racun yang mematikan diramu. Racun yang setetes saja akan meledakkan jantung peminumnya.

            Melihat cairan semerah darah kental itu, Rukmini hanya tersenyum. Tak ada sesuatu yang bisa membunuhnya. Sebelum menenggak racun yang akan menghabisinya, Rukmini memanggil seorang serdadu untuk mendengarkan bisikannya.

            “Dia membisikkan apa?” Sergah sang jendral setelah Rukmini membisikkan sesuatu ke telinga bawahannya.

            “Katanya, dia tak bisa mati, Jendral. Dia titisan Batara Yamadipati, dewa kematian. Dia tak akan bisa mati meski dimatikan dengan racun sekalipun.” Jawab serdadu muda itu disertai gigil yang entah apa sebabnya.

            Mendengar itu, semua yang ada di sana tergelak geli. Tanpa menunggu lagi, segelas racun diminumkan kepada Rukmini. Seketika Rukmini merasa jantungnya pecah. Darah segar menyembur dari mulutnya, mencemari kebayanya yang putih dengan renda bunga-bunga kecil berwarna marun. Dengan karung goni besar, jasad Rukmini dibuang di aliran sungai Bengawan yang sedang menderas airnya.

***

            “Rukmini akhirnya mati?” Mata wanita muda itu menatapku dengan rasa ingin tahu.

            “Tak ada yang tahu. Dia menghilang ditelan aliran sungai Bengawan,” aku menghirup kopiku yang nyaris dingin.

            “Dia hanya wanita yang mempertahankan rasa kemanusiaan. Kenapa dia yang dibunuh? Rukmini tak ubahnya Batara Yamadipati yang harus meninggalkan Kahyangan Sapratala karena kalah mempertahankan haknya.” Suara wanita muda cantik itu seperti mengeluh.

            “Tapi dia terlalu menggoda sebagai wanita. Sepertimu… Mau keluar malam ini denganku?”  Aku meremas tangannya dengan lembut.

            “Tapi itu bukan salahnya. Itu salah manusia-manusia di sekitarnya yang hanya melihat kemolekan badannya!” Secangkir kopi pekat tanpa gula dihirupnya begitu saja. Tanganku ditepisnya dengan kasar.

            “Ah, itu hanya pembelaan dari sesama perempuan. Apa kau tak merasa pahit dengan kopi pekat tanpa gula?” Terheran dengan caranya menghirup kopi, aku melupakan tepisan tangannya yang cukup keras.

            Wanita berbibir merah bagai kuncup mawar itu hanya menyunggingkan senyum tipis. Setipis kabut di bukit sebelah timur yang sudah menghilang sama sekali.

            “Bau apa ini? Wanginya tak pernah kucium sebelumnya?” Aku tersentak ketika mencium aroma harum yang menguar secara tiba-tiba.

            “Ini aroma melati yang dipadu dengan wanginya cendana,” ada siluet berwarna jingga bermain di bola matanya. “Aku pernah meneguk segelas penuh racun yang meledakkan jantungku. Kopi pekat pahit seperti ini tak ada artinya untukku…”

            Aku benar-benar bergeming setelah mendengar jawabannya. Aroma melati yang dipadu dengan aroma cendana semakin menguar, mengalahkan aroma gelegak tengguli nira di belakang kedai. Dan pagi yang melankolis ini akhirnya terbakar. Saat api berkobar dari kedua mata wanita muda yang duduk di hadapanku.[]

*Versi pendek cerpen ini dimuat di Koran Denpasar Post, 27 Januari 2019*

Artie Ahmad lahir di Salatiga, 21 November 1994. Dia menulis cerita pendek dan novel. Beberapa cerita pendeknya di sejumlah media massa seperti Koran Tempo, Koran Jawa Pos, Republika, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, Detik,com, dan beberapa media lainnya. Novel terbarunya ‘Sunyi di Dada Sumirah’ terbit di Buku Mojok, Agustus 2018. Kumpulan cerita pendeknya ‘Cinta yang Bodoh Harus Diakhiri’ terbit di Buku Mojok, Januari 2019. Sebelumnya dia menerbitkan dua novel remaja Penerbit Elexmedia Komputindo dan Penerbit Divapress.

No Comments

Leave a Reply