Search and Hit Enter

Nh. Dini: Kehidupan dan Relevansi Karya-Karyanya bagi Indonesia

Oleh Dr. Nasir Tamara, MA, M.Sc (Ketua Umum Perhimpunan Penulis SATUPENA)

Kehilangan

Malam pada irama tiada kecerahan hati

belum dan tidak satu jelangan

bawa rangkai dari cinta dari mesra

berkobar nyala tiada bara tiada rasa

Cuma kelasi dipenjara tepi

pernah dibakar didera mimpi

pada merapat dulu

tangga gadang tiada kembang diuntai warga

tiada gadis melambai

Dan di kelak hari mendung segala padang 

temui di hati kelasi mati

nyalakan damar ke ujung ranah

sana ada tanya bercari diri.

(Nh.Dini, Semarang ’54)

Kepergian Nh. Dini pada 4 Desember 2018 meninggalkan duka yang mendalam bagi bagi bangsa Indonesia terutama dunia literasi dan sastra Indonesia. Penulis asal Semarang tersebut meninggal pada usia 82 tahun lantaran mengalami kecelakaan di Tol Tembalang dekat kota kelahirannya.

Penulis agung ini telah memilih karir sebagai seorang penulis. Di Indonesia profesi ini penuh tantangan karena eko sistem tidak menunjang: pemerintah tidak menganggap penting kedudukan seorang penulis. Berbeda dengan status penulis di Malaysia, Singapura apalagi di Inggeris.

Tidak ada bantuan untuk para penulis  bahkan pajak penulis pun tinggi mencapai 30% sedangkan pelaku UMKM dipungut pajak hanya 0.5% saja. Para penerbit sering tidak membayar royalty penulis bahkan banyak yang meminta agar penulis memberikan seluruh hak cipta kepada penerbit. Teknologi digital juga telah amat mempengaruhi cara mereka berkarya. Para pembajak masih sangat aktif seakan-akan hukum tidak dapat menyentuh mereka. Namun Nh.Dini tidak pernah sekalipun berpikir untuk meninggalkan panggilan hidup ini.

Karya-karya Nh. Dini tetap relevan bagi bangsa Indonesia meski di telah tiada. Nh. Dini adalah penulis besar Indonesia yang dapat dibandingkan dengan penulis dunia seperti Marguerite Duras kebanggaan Prancis dan Virginia Woolf, kebanggaan Inggris.

Duta Besar Perancis untuk Indonesia Y.M. Charles Berthonnet memuji Nh. Dini sebagai pengarang besar dalam pidatonya di Institut Francais d’ Indonesie (IFI).

Karya-karyanya akan abadi karena keindahannya yang bersifat universal.

Kesan demikian saya tangkap dari acara “Sastra dan Peradaban: Diskusi Karya-Karya Abadi & Kehidupan Nh. Dini” yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Penulis Indonesia (SATUPENA) bekerja sama dengan IFI Jakarta, Rabu, 20 Februari 2019.

Moderator menyimpulkan hasil seminar malam itu bahwa Nh.Dini adalah penulis terbesar di Indonesia. Mungkin ebih tepat bahwa dia sebagai penulis gender perempuan dan Pramoedya Ananta Toer mewakili gender lelaki.

Kesan yang sama juga rasakan dalam diskusi karya-karya Nh.Dini yang dipenuhi oleh kaum milenial di nDalem Natan, Yogyakarta sebulan sebelumnya. Acara ini banyak dihadiri oleh penulis muda dan kritikus sastra. Ini menunjukkan gairah yang ada di kalangan penggemar sastra di Indonesia.

Dalam kehidupannya Nh. Dini telah menulis 40 buku lebih. Dari karya-karyanya kita belajar tentang sejarah Indonesia. Seseorang yang tidak mempunyai peluang berkeliling dunia, dengan membaca buku-buku Nh. Dini ia dapat merasakan Prancis, Kamboja, Jepang, Vietnam, Filipina, dan Amerika Serikat.

Karya-karya Nh.Dini

Nh. Dini merupakan salah satu penulis yang tekun dan produktif. Selama lebih dari 60 tahun hidupnya dihabiskan untuk menekuni sastra. Awal karir menulis dimulai sejak tahun 1951, ketika ia duduk di kelas II SMP. Karya pertama dimuat di majalah Kisah berjudul Pendurhaka—yang pernahmendapat sorotan dari kritikus besar H.B. Jassin saat itu. Menyusul kemudian kumpulan cerita pendeknya berjudul Dua Dunia terbit tahun 1956 ketika ia masih SMA.

Karya terakhirnya berjudul Gunung Ungaran: Lerep di Lerengnya, Banyumanik di Kakinya (2018) berbicara tentang kematian. Bahwa Tuhan sangat Maha Kuasa bisa memindahkan ke alam baka siapa saja, di mana saja, dan dengan cara apa saja. Sepeninggalannya, sumbangan yang telah ia berikan bagi dunia sastra Indonesia menjadi teladan yang sangat berarti, khususnya bagi para penulis muda.

Sepuluh karya terbaik Nh. Dini yang direkomendasikan meliputi: Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977), Keberangkatan (1977), Sebuah Lorong di Kotaku (1978), Padang Ilalang di Belakang Rumah (1979), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979), Sekayu (1981), Pertemuan Dua Hati (1986), dan Dari Parangakik ke Kampuchea (2003).

Ia juga menerjemahkan buku sastrawan-sastrawan besar dunia. Seperti Sampar karya karya sastrawan pemenang Hadiah Nobel Albert Camus (1985), 20.000 Mil di Bawah Lautan karya Jules Verne (2004), hingga Tukang Kuda Kapal La Providence karya George Simenon (2009). Juga penulis buku biografi Amir Hamzah dari Negeri Seberang (1981) dan Dharma Seorang Bhikkhu (1997).

Budi Darma pernah memberinya gelar pengarang feminis. Kebanyakan dari novel-novel Nh. Dini bercerita tentang perempuan yang menjadi sentra dan tokoh utama setiap karyanya. Nh. Dini menyuarakan ketidakadilan gender, karena hal itu sering merugikan perempuan. “Terus menyuarakan kemarahan kepada kaum laki-laki,” kata Budi Darma.

Nh. Dini dianggap pusat pelopor suara perempuan dari karyanya yang pertama sampai yang terakhir. Sejak saat belum banyak perempuan yang bercita-cita menjadi penulis sampai muncul banyak penulis perempuan. Ia bahkan melampaui zamannya dengan menghadirkan konflik dan adegan yang dianggap tabu oleh masyarakat pada saat itu.

Karya Nh. Dini menggambarkan perempuan sebagai sosok yang tidak hanya merdeka, tapi juga bertindak dan bebas menentukan kehendak. Misalnya novel monumental Pada Sebuah Kapal menceritakan gadis penari yang dicintai oleh beberapa lelaki. Sri nama gadis itu tak lain seperti cerminan pengalaman hidup Nh. Dini sendiri.

Sri menikah dengan konsul Prancis tapi ia merasa terhimpit oleh perlakuan suaminya. Sri juga merupakan penggambaran dari budaya perempuan Jawa yang penuh kehalusan jiwa, sederhana, serta jijik pada hal yang kasar dan penuh kekerasan. Isinya juga tentang pemberontakan atas kungkungan nilai-nilai pernikahan. Butuh waktu 10 tahun lebih untuk menulisnya. Novel tersebutlah yang mengantar Nh. Dini sukses sebagai novelis kenamaan. Telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing dan dicetak berkali-kali.

Berbagai penghormatan telah ia dapatkan. Seperti penghargaan Prestasi Seumur Hidup (Lifetime Achievement Award) dari Ubud Writers and Readers Festival (2017), Achmad Bakrie Award di Bidang Sastra (2011), Francophonie (2008), Southeast Asian Write Award dari pemerintah Thailand (2003), Bhakti Upapradana Bidang Sastra dari Pemda Jateng (1991), Hadiah Seni untuk Sastra dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1989), dan lain-lain.

Nh. Dini juga diundang untuk memberi kuliah di berbagai universitas, baik di dalam maupun luar negeri. Ia telah pula melanglang buana tinggal di Kobe, Jepang (1960-1962), Pnompenh, Kamboja (1963-1965), Manila, Filipina (1969-1971), Detroit, Amerika Serikat (1976), Belanda, dan Prancis.

Tahun 1980, Nh. Dini kembali ke Indonesia guna melakukan operasi penyembuhan bagi kesehatannya. Dia tinggal di berbagai kota dan melakukan banyak perjalanan di Tanah air dan luar negeri. Dia diangkat menjadi anggota Akademi Jakarta. Dia banyak memberikan kuliah, ikut dalam berbagai kegiatan kesenian, seminar dan membantu berbagai kegiatan LSM.

Hadirin di acara Nh. Dini ‘Karya dan Kenangan’ di Jalan Cemara 06, Jumat 15 Maret 2019

Tahun 2002 Nh. Dini selama empat tahun tinggal di Graha Wredha Mulya, Sendowo, Yogyakarta. Di sana mengurusi Pondok Baca, sembari merawat tanaman dan lukisan. Biasanya hobi menanam dan menyiram tanaman itu ia dapat sambil berpikir, mengolah, dan menganalisis naskah yang dikerjakannya. Dia juga mengajari anak muda  untuk menjadi penulis yang baik.

Keaktifannya dalam  literasi ditunjukkan pula dengan mendirikan Pondok Baca Nh. Dini yang memiliki cabang di berbagai tempat. Usai empat tahun tinggal di Yogyakarta, tahun 2006 Nh. Dini tinggal di sebuah desa yang tenang di lereng Gunung Ungaran, sekitar 30 km dari kota Semarang.

Hidup di Berbagai Dunia

Nh. Dini menikah dengan diplomat Prancis, Yves Coffin. Ia tinggal di Prancis selama kurang lebih 10 tahun hingga tahun 1980. Sempat bekerja sebagai Dame de Compagnie/Governess semacam perawat bagi orang tua. Di Paris Nh. Dini membagi hidupnya menjadi beberapa babak yang berupa fase menuju kematangan.

Di tempat inilah Nh. Dini merawat putri pertamanya yang bernama Marie Claire Lintang Coffin. Bagaimana dekatnya Lintang dengan Miu, kucing blesteran ras Siam. Hampir ke mana-mana Lintang dan Miu bersama. Dari makan, tidur, hingga ke kamar mandi Miu selalu menemaninya. Lintang dan Miu pun sering terlibat dialog. Namun, Miu mempunyai kebiasaan buruk: menggigit semua pakaian atau benda yang lembut dan empuk.

Saat itu Nh. Dini tengah mengandung anaknya yang kedua bernama Pierre Louis Padang Coffin. Untuk menghindari risiko Miu menggigit Padang, akhirnya Nh. Dini membangun komunikasi yang intensif dengan Lintang, ia menjelaskan dan memberi pengertian, “Ketika saya sampai pada tahap mengatakan kepada Lintang bahwa dalam hidup ini seringkali kami tidak dapat mempunyai semuanya, bahwa orang harus memilih … dia memilih adik.”

Kelahiran Padang diceritakan dalam Fontenay-Aux-Roses mengenai pengalamannya memiliki bayi laki-laki. Beberapa hari sebelum Padang lahir (dalam bahasa Jawa “Padang” berarti terang), Nh. Dini merasa mendapatkan “penerangan” mengenai jalan hidup yang akan ia jalani. Ia seakan bisa melihat dengan jelas bagaimana harus bersikap dan berbuat.

Periode lain yang ia jalani selama di Prancis diberi nama Argenteuil-Paris. Di mana saat itu, Nh. Dini menjadi seorang perawat bagi orang tua bernama Tuan Pierre Willm yang tinggal lama di daerah Argenteuil. Rumah Tuan Willm pernah ditinggali tokoh legenda ekonomi-politik Karl Marx.

Nh. Dini menjadi teman yang menyenangkan bagi Tuan Willm. Ia menemani tuannya itu banyak hal yang dia butuhkan. Dari menyiapkan makan, menemani menonton televisi, ke bioskop, nonton teater, membacakan buku, beriskusi, hingga bercanda. Namun, Tuan Willm perlahan menjadi lemah karena ia bosan hidup. Anak-anak dan cucu-cucu Tuan Willm tidak mempedulikannya.

Hidup bersama Tuan Willm membuka mata Nh. Dini betapa sulitnya menjadi orang tua di negeri modern seperti Prancis. Hingga Tuan Willm tidak kuat dan akhirnya meninggal. Tuan Willm berpesan untuk mengizinkan Nh. Dini tinggal di rumahnya, meski anak-anak Tuan Willm tidak begitu suka. Tapi seperti wataknya, “saya menunjukkan kepada anak-anak majikan bahwa saya tahu diri.”

Dari kisah pribadinya itulah, Prancis melahirkan naskah-naskahnya yang lain seperti La Barka dan Argenteuil: Hidup Memisahkan Diri.

La Barka merupakan rumah temannya di Prancis yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri bernama Mireille Labat di Desa Trans-en-Provence. Nh. Dini lewat novel itu seolah-olah sedang mengajak pembaca berkelana ke daerah pegunungan dan pedesaan di Prancis Selatan.

La Barka berkisah tentang permasalahan-permasalah perempuan dari mendidik dan memelihara anak seorang diri seperti yang dialaminya bersama Padang, perceraian seperti yang ia alami pula dengan Yves Coffin, hidup menjanda dan keraguan terhadap lembaga perkawinan.

Argenteuil merupakan kota kecil di tepian Sungai Seine Prancis. Novel Argenteuil: Hidup Memisahkan Diri bercerita tentang hari-hari Nh. Dini yang memisahkan diri dari anak-anak dan suaminya.

Banyak novelnya yang berkisah tentang Prancis pula. Seperti Cerita Rakyat dari Prancis 1 (1999) dan Cerita Rakyat dari Prancis2 (1999) tentang dongeng-dongeng Prancis. Juga La Grande Borne (2007) dan Dari Fontenay ke Magallianes (2005) yang digarap dengan gaya reportase saat menggambarkan Prancis. Bagaimana seorang manusia bertamu ke negeri orang. Tentang intinya pula seorang istri yang tidak bahagia hingga ia berselingkuh dengan kapten kapal. Juga bagaimana kisah seorang ibu mengurusi anak-anaknya.

Nh. Dini memperlakukan dan melihat Prancis dengan cermat, mengobservasi negara itu dengan tenang, dan menulis latar negara itu dalam karyanya sesuai gayanya sendiri. Kisah-kisahnya natural. Tanpa sadar dalam penghayatan yang merasuk, bisa membuat pembaca menjelajahi Prancis dan ingin tinggal di sana.

Rahasia Sukses Menulis

Sikap idealis dari Nh. Dini adalah pro-kebebasan bagi penulis, mengecam  pelarangan buku-buku yang disita secara sepihak, dan sangat menentang pembajakan buku. Sebelum meninggal Nh. Dini diberi kabar dari seorang cantriknya bahwa bukunya Pada Sebuah Kapal telah dibajak oleh sebuah situs daring. Dia mungkin kesal dengan hal itu, namun Nh. Dini masih percaya, bahwa pembajakan yang menimpa dirinya bisa diselesaikan secara baik oleh penerbitnya.

Nh. Dini sebagai penulis juga memiliki gaya sendiri dan tidak selalu tunduk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Penyunting naskah Nh. Dini lewat tulisannya menjelaskan, “Dini memakai kata filem (bukan film), ibukota (bukan ibu kota), kokoh (bukan kukuh), dan moderen (bukan modern).” Kata kakus yang diganti dengan toilet pun ia cukup keberatan. Di salah satu bukunya, kata roti dalam KBBI bisa digunakan dalam tiga varian: kue, kueh, dan kuih. Dia menyebut negeri Prancis juga bukan dengan nama Prancis, tapi Parangakik.Struktur berbahasanya cukup fleksibel.

Tari Bali di acara Nh. Dini ‘Karya dan Kenangan’ di Jalan Cemara 06.

Nh. Dini memberikan rahasia sukses menulisnya.

Pertama, menulis itu jangan kesusu.  Ia mengatakan: “Dalam mengarang saya tidak pernah tergesa-gesa. Saya anggap pekerjaan mengarang adalah tugas yang santai, yang harus dikerjakan dengan senang hati. Kalau saya menulisnya dengan terburu-buru, berarti dengan hati yang kesal, maka dapat dipastikan bahwa si pembaca pun akan merasakannya.”

Kedua, Nh. Dini tidak ragu untuk mengambil tema-tema yang tabu, misal tentang seks, perselingkuhan., dan gangguan kepribadian ganda. Tentang seksualitas ia bercerita sebagai sesuatu yang tidak perlu ditutup-tutupi atau dipermalukan. Bisa jadi memabukkan, menakutkan, membebaskan, dan yang penting merupakan bagian yang integral dari kehidupan. Baginya itu hal yang wajar tentang perjalanan dan persoalan hidup. Menuliskannya seperti berbincang dengan diri sendiri.

Ketiga, Nh. Dini menciptakan karya-karyanya dengan membuat “tabungan”. Ia mencatat hal-hal menarik untuk dibuat cerita. Bisa didapat dari aktivitas apa pun, seperti menonton berita. Baginya yang paling mengasyikkan dari proses menulisnya adalah ketika mengumpulkan catatan serta penggalan. Baik berupa adegan fisik, gagasan, alur, dan lain-lain. Bahkan ia sampai tahap bisa melakukan prediksi catatannya itu bisa dijadikan cerpen atau novel.

Pakar sastra dari Universitas Negeri Malang Djoko Saryono mengungkapkan karya-karya Nh. Dini sebagai teks autoetnografis yang bercerita tentang catatan, pikiran, dan ingatan Nh. Dini tentang diri dan dunianya.

“Nh. Dini adalah seorang autoetnografer ulung yang menyatukan kemampuan seniman dan ilmuwan ke dalam dirinya. Ia seorang yang mampu mengingat, mencatat, dan memikirkan pengalaman dirinya sekaligus menarasikan atau menceritakannya secara memikat dalam fiksi karyanya,” jelas Djoko.

Keempat, Nh. Dini menulis tanpa keraguan dan kepura-puraan. Dia menyatakan sendiri, “tulisan saya mengandung lebih banyak kehidupan nyata daripada fantasi.” Hampir sepanjang karir menulisnya, Nh. Dini menulis dan mencatat banyak hal yang terjadi padanya ke dalam buku (cerita).

Penulis Laksmi Pamuntjak pernah menulis:

“Seseorang dapat merasakan, betapa luar biasanya kepercayaan diri Nh. Dini yang membangun hampir seluruh karirnya dari cerita tentang dirinya sendiri. Dia berharap orang lain tahu tentang hidupnya, dan para pembaca memiliki kepercayaan pada dirinya sendiri sebagai manusia.”

Nh. Dini membangun memoarnya pula dengan fakta tentang kehidupan orang lain yang ia olah melalui satu perspektif tunggal dan menyamar sebagai “kebenaran”. Menarik lagi, orang-orang yang ia tulis masih hidup. Mereka memiliki nama, kisah, keluarga, dan masa depan. Cerita tersebut menjadi kebenaran diri yang tak terduga, yang tak dapat diatur, dan membentuk absurditas. Tokoh “Aku” yang tak pernah utuh dan gagal menemukan makna hidup yang inheren. Manusia adalah apa yang ia benci dan cintai.

Kelima, dalam  menangkap dan meramu gagasan tetap tak bisa lepas dari aktivitas membaca. “Kalau mau jadi penulis, ya harus banyak baca, tidak hanya buku sastra, tapi pengetahun yang lain juga,” kata novelis itu.

Keenam, Nh. Dini juga tidak melupakan faktor spiritual dari Yang Maha Kuasa. Ia memiliki kebiasaan khusus dalam menulis buku. Ketika penulisan sebuah karya selesai, Nh. Dini akan melakukan meditasi. Mendekatkan diri  kepada Tuhan pada pukul 01.00-03.00 pagi.

Pelajaran Hidup

Dalam karya-karyanya terpetik pula beberapa pelajaran hidup penting yang bisa dipelajari dari sosok Nh. Dini.

Pertama, seorang perempuan memang mengalami banyak kesulitan, tapi dia tetap mandiri dan bertahan. Tetap berjuang meski hidupnya serba kekurangan. Nh. Dini juga menjalankanpuasa untuk mengetahui sampai di mana dapat mengatur kekuatan diri. Bukan karena agama atau keinginan masuk surga. Dengan berpuasa seseorang dapat menahan keinginan.

Kedua, pernikahan adalah proses panjang mengenali diri sendiri, bukan sekedar tentang kebahagiaan. Orang yang tangguh ialah orang yang memperjuangkan komitmennya. Namun, apabila belum berjodoh dengan seseorang, jangan merasa menjadi orang paling sial di dunia. Apa yang telah dilalui patut disyukuri dan lewati dengan bahagia.

Ketiga, bagi Nh. Dini kesedihan bukan untuk dipampangkan pada semua orang. Kesedihan baginya adalah sesuatu yang harus diimpit-diindit, diselinapkan di balik lapisan penutup. Sebab kesedihan ialah hal yang sangat pribadi sebagaimana rahasia. Harus disembunyikan dari pandang orang lain.

Alih-alih demikian, Nh. Dini menarik perhatian pembaca melalui curahan kesedihan yang panjang tentang hal-hal yang paling pribadi. Sebagai kompensasi terhadap segala kesedihan yang dia tutup rapat. Dengan menjaga semua itu, karakter khas dari karya-karyanya adalah jujur dan orisinal.

Sebagai seorang ibu, perempuan yang memiliki nama asli Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin tersebut juga merupakan sosok yang berhasil mendidik anak-anaknya. Putri  Lintang seorang doktor yang pernah menjadi dosen dan kini menetap di Indonesia. Putranya Padang atau yang lebih dikenal dengan nama Pierre Coffin juga menjadi sutradara film-film Hollywood terkenal: Despicable MeSeries, Minions, Brad & Gary, Gary’s Day, dan teranyar Flanimals.

Meski memiliki anak, Nh. Dini tidak mau merepotkan anak-anaknya. Ia lebih memilih tinggal di sebuah panti wreda di daerah Banyumanik, Semarang.

Berbeda dengan orang tua lainnya yang tinggal di panti karena dititipkan, sang novelis justru menitipkan dirinya sendiri. Alasannya, ia tak mau merepotkan orang lain.

Nh. Dini juga masih sangat mandiri menghasilkan uang dari mengisi acara seminar hingga membimbing skripsi, usia senja juga tak menghalanginya sendirian bepergian jauh naik-turun pesawat.

Penutup

Nh Dini  berjuang tanpa lelah untuk memperjuangkan untuk hak-hak para penulis dan menjaga harkat dan martabat mereka. Ketika saya mengundangnya untuk bergabung dengan Perhimpunan Penulis SATUPENA dia langsung menerimanya. Bagi kami dia adalah sumber inspirasi.

Nh.Dini  berhasil mempertahankan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia meskipun dia tinggal lama di luar negeri.

Ia juga tidak melupakan ritus-ritus spiritual dalam menulis. Menulis dianggap pekerjaan yang amat penting dan sakral sehingga ia berdoa melakukan puasa dan tirakat ketika hendak memulai karyanya.

Nh. Dini membela kepentingan hak-hak perempuan sehingga ada yang mengkategorikan dirinya sebagai penulis feminis Indonesia yang pertama. Juga rasa melawan ketidakadilan gender dan ekonomi.

Pada tahun 1991 saat Nh. Dini mengisi sebuah diskusi sastra di Australia, seperti yang telah ia tuturkan pula dalam Pondok Baca Kembali ke Semarang (2011):

“Aku menulis tanpa dasar ‘isme-isme’ apa pun. Yang menjadi arah kepengaranganku adalah keadilan. Dengan sendirinya di dalamnya tercakup kemanusiaan.”

Karya-karyanya akan abadi karena keindahannya dan kedalamannya dalam memperjuangan kemanusiaan termasuk aspek aspek spiritualitasnya. 

Satupena.id/NasirTamara

No Comments

Leave a Reply