Search and Hit Enter

Nh. Dini di IFI, Bukan Sekadar Sebuah Obituari

Dari: Artie Ahmad

            ‘Tatkala sesosok tubuh itu menghilang dari pandangan, kenangan akan datang seolah memberikan hukuman lewat ingatan dan rindu tentang sesosok tubuh yang telah lesap…

           Belasan tahun lalu, saya mengenal sebuah lagu yang sarat dengan perpisahan. Lewat radio transistor milik ibu, lagu duka yang mendayu berisi rintihan lantaran ditinggal pergi itu berulang kali diputar. Entah bagaimana bisa begitu banyak orang menyukai lagu duka itu. Tak berhenti terdengar di radio saja, dalam banyak kesempatan orang-orang yang gemar berkaraoke kerap menyanyikan lagu itu. Suara sumbang tak jadi soal, yang terpenting bagaimana makna lagu itu tersampaikan. Dan benarlah, ketika kehilangan itu datang, maka hadirnya sosok yang pergi begitu berharga.

            Akhir tahun lalu, tepat tanggal 04 Desember sore, salah satu sastrawati besar Indonesia undur diri. Nh. Dini, beliau pergi diiringi rasa terkejut dan duka cita dari siapa yang mengenalnya. Entah mengenal secara pribadi, atau sekadar mengenal dari karangan-karangan yang terjilid di puluhan judul buku karangannya. Kepergiannya menjadi duka untuk bangsa Indonesia. Undur diri dengan cara yang tak disangka.

Nh. Dini

            Selepas kepergiannya, begitu banyak obituari yang dituliskan untuk mengenang sang maestro. Di kanal-kanal berita online, segera kabar tentang kepergiannya tersiar. Acara-acara dibuat untuk mengenang beliau, sebuah obituari yang diadakan atas rasa duka cita lantaran kehilangan. Meski bagi siapa saja yang mengenal Nh. Dini secara pribadi, acara-acara diskusi itu bukanlah sekadar obituari, melainkan penghormatan dan mengulas kembali bagaimana sang novelis menjalani kehidupan selama ini. Seperti acara yang diselenggarakan di Institut Francais d’Indonesie (IFI) pada Rabu, 20 Februari 2019 yang lalu.

            Mengusung tajuk ‘SASTRA DAN PERADABAN, Diskusi Karya-karya Abadi dan Kehidupan Nh. Dini’. Seperti isi tajuk yang dibawakan, narasumber pun diisi oleh kawan-kawan karib Nh. Dini, seperti Prof. Dr. Toeti Heraty, Dr. Nasir Tamara, MA, M.Sc. dan Dr. Murti Bunanta. Ada juga satu narasumber Kanti W. Janis SH. LLM, yang menjadi pembaca karya-karya milik Nh. Dini. Sore itu, ulasan-ulasan tentang Nh. Dini pun mengalir.

            Seperti yang diutarakan Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Charles Berthonnet. Nh. Dini dan Prancis begitu dekat, tak hanya lantaran Nh. Dini menerjemahkan cukup banyak cerita-cerita dari penulis Prancis seperti Albert Camus, melainkan lantaran Nh. Dini sendiri memiliki keterikatan batin oleh Prancis. Selepas menikah dengan seorang diplomat Prancis, Nh. Dini memang memutuskan untuk pindah kewarganegaraan mengikuti sang suami. Menurut Berthonnet, tak ada penulis yang besar atas dasar gender pria atau wanita, yang ada Nh. Dini adalah seorang penulis besar Indonesia.

            Prof. Toeti Heraty, sebagai narasumber yang pertama memberikan paparan mengatakan bahwa Nh. Dini adalah salah satu penulis yang jujur atas karya-karyanya.

            “Dini termasuk penulis yang jujur dalam karya, meski yang diusung adalah tema seksualitas. Tema seperti itu dianggap sesuatu yang baru dalam sejarah sastra Indonesia waktu itu,” 

Prof. Toeti Heraty saat memberikan ulasan tentang Nh. Dini

            Selain melihat dari sisi kejujuran Nh. Dini dalam menuliskan karya-karyanya, Prof. Toeti Heraty juga mengungkapkan beberapa poin, yang dibagi dalam beberapa slide. Dilihat dari bagaimana Nh. Dini bertutur memperlihatkan bahwa ia begitu bangga dengan kejawaannya, bukan saja dilihat dari bagaimana Nh. Dini bersikap, tapi juga dilihat bagaimana ilmu kejawen masih dipegangnya dengan teguh meski telah hidup jauh dari tanah Jawa itu sendiri.

            Narasumber-narasumber lain pun memandang Nh. Dini dalam dimensi yang lain. Dr. Nasir Tamara lebih menekankan betapa Nh. Dini adalah seorang penulis yang menyisipkan tentang banyak peradaban-peradaban di dalam karya-karyanya. Dan yang terpenting adalah peradaban yang menyangkut dalam berbahasa. Dr. Murti Bunanta, yang mengenal Nh. Dini sejak remaja memilih memaparkan pandangannya tentang bagaimana Nh. Dini menuturkan cerita-cerita anak dalam dongeng-dongeng yang ia terjemahkan. Kanti W. Janis, memandang Nh. Dini dari ketidak adilan gender, feminisme yang dirasa begitu kental dengan karya-karya Nh. Dini.  Masing-masing narasumber memiliki pandangan yang berbeda-beda dalam melihat Nh. Dini. Memang, Nh. Dini adalah inspirasi bagi banyak orang, dalam pandangan yang berlainan satu sama lain.

Dr. Nasir Tamara, Ketua Umum Satupena

            Selepas acara diskusi berakhir, para tamu dipersilakan menikmati kudapan yang telah disiapkan panitia. Semua yang datang menikmati kudapan sembari berkenalan. Tak hanya datang dari Jakarta, banyak pula yang datang dari luar kota. Ada pula seorang penulis muda yang mengenal Nh. Dini secara pribadi hadir dari Salatiga untuk memberikan penghormatan kepada novelis idolanya yang juga gurunya dalam menulis itu. Resepsi terlihat begitu hangat. Beberapa orang menyempatkan berswafoto, sebagian yang lain tampak bahagia bertemu kawan lama yang tak disangka datang hari itu. Acara diskusi Nh. Dini tak hanya melahirkan gagasan-gagasan baru mengenai beliau, tetapi juga merekatkan hubungan kekerabatan siapa saja yang datang sore itu.

Nh. Dini dan Artie.

            Tamu yang datang hari itu banyak juga anak-anak muda. Anak-anak muda 90-an dan kaum milenial. Melihat antusiasme yang datang dari anak-anak muda, membuktikan bahwa karya Nh. Dini relevan untuk siapa saja. Untuk mereka yang sudah senja, pun untuk anak-anak milenial yang baru lepas usia remaja.[]

Satupena.id/ArtieA.

No Comments

Leave a Reply