Search and Hit Enter

Oase Penulis: London Book Fair dan Tulisan Pam Allen

Oase Penulis kali ini dari laman media sosial: Richard Oh

Kali ini London Book Fair dan sebuah tulisan Pam Allen memicu polemik. Sejujurnya tulisan Pam mesti diakui sangat akurat: karena pertanyaannya sudah berlangsung bertahun-tahun sejak penulis seperti Pramoedya diterjemahkan dan diterbitkan di mancanegara. Polemik yg bermunculan karena article Pam bisa dipahami karena saat ini ada sekelompok penulis yang mulai beredar di penerbitan di luar negeri. Jumlah ini masih tidak banyak. Tapi yg mesti disorot adalah penulis-penulis ini terbit dengan pendekatan langsung atau lewat agen sastra yg diperoleh masing-masing. Mereka boleh dikatakan berhasil membawa karya sendiri menerobos ke dunia perbukuan Internasional. Ini sebuah pencapaian besar, dibanding para penulis pendahulu mereka yg diterjemahkan oleh Lontar. Ahmad Tohari pernah mengeluh kepada saya bahwa dia dibawa-bawa ke luar negeri mencari pendanaan, tapi karyanya tidak kunjung diterjemahkan selama bertahun-tahun. Dan waktu itu saya sebagai penerbit Metafor Books dan pemilik toko buku pernah diminta ketemu untuk memborong buku2 terbitan mereka, karena mereka berpikir sebaiknya Metafor tidak mencoba menerjemahkan karya-karya penulis kita. Waktu itu, Metafor Books saya dirikan untuk menerjemahkan, atau menerbitkan kembali karya-karya sastra moderen oleh Budi Darma, Putu Wijaya dll. Saya ketawa di meeting itu dan menunjuk ke GM yg duduk di seberang saya, saya tanyakan pada JM dari Lontar, karya bapak ini saja belum kalian terjemahkan. Dan saya juga waktu itu diminta untuk mendukung hadiah sastra yg mereka cetuskan tapi sekarang sudah tiada. Mereka minta sumbangan ratusan juta rupiah, sedangkan hadiah yg mereka berikan utk pemenang waktu itu Rp 5 jt rupiah. Itu yg memicu saya memulai Kusala Sastra Khatulistiwa. Yang mestinya diributkan hari ini bukan tulisan Pam, karena pertanyaan Pam tidak menghina penulis Indonesia, tapi justru mempertanyakan kenapa Indonesia begitu lama ditemukan oleh mereka di luar sana. Itu sebuah pertanyaan yg solid dan sering juga saya bahas dengan beberapa teman lainnya selama bertahun-tahun. Yang mestinya dipertanyakan, apa saja yg dilakukan Lontar sebagai sebuah foundation yg didirikan khusus untuk menyebarkan, mempromosi karya-karya sastra kita keluar negeri? Dan kenapa mereka tidak berhasil? Penjelasan bahwa kita bekas koloni Belanda, bagi saya terasa kurang kuat. Karena sebaliknya seberapa gencarnya pihak kita mempromosikan penulis-penulis kita di luar yg mesti dipertanyakan.

Dan kenapa hingga hari ini seorang luar dari yayasan itu diberi kuasa oleh book fair internasional menyeleksi dan mengirim penulis-penulis kita? Di situ mungkin perlu dibahas lebih saksama. Kalau dulu mungkin banyak penulis kita yg tak begitu fasih berbahasa Inggris, hari ini banyak sekali penulis kita yg menulis dalam bahasa Inggris atau mampu berkomunikasi dengan baik dengan dunia barat. Kemandirian para penulis kita entah lewat agen sastra internasional atau karyanya sendiri menarik perhatian penerjemah atau penerbit, di situlah loncatan dahsyat yg bisa dirasakan sekarang. Penulis-penulis kita tidak perlu perantara yg tidak membantu. Apalagi pengambil keputusan-keputusan berkuasa yg tidak memedulikan karya-karya penulis berbakat, berinovasi yang memajukan kesusasteraan kita. Bahwa kita sendiri tidak bisa membela penulis-penulis kita sendiri tanpa perantara di situ baru kita rasakan bahwa kita masih sebuah negeri koloni yg belum mandiri.

Satupena.id/RichardOh.

No Comments

Leave a Reply