Search and Hit Enter

‘Demokrasi Kita: Demokrasi Quo Vadis?’

            Demokrasi adalah suatu kebebasan. Kebebasan rakyat untuk memilih pemimpin, atau pun menyoal kebebasan lainnya. Kekuasaan rakyat, begitulah setidaknya arti dari kata demokrasi itu sendiri. Bab demokrasi inilah yang memantik diskusi di nDalem Natan, 3 Maret 2019 lalu.

             Melalui tema ‘Demokrasi Kita: Demokrasi Quo Vadis’ diskusi ini terlahir dari buku ‘Indonesia Rising: Islam, Democracy and the Rise of Indonesia as a Major Power’ karya Dr. Nasir Tamara. Terbitnya buku ini pun salah satu tujuannya adalah untuk memberikan informasi tentang Islam di negara ini selepas masa reformasi. Sebagai salah satu pembicara dalam diskusi ini, Dr. Nasir Tamara menjelaskan betapa pentingnya demokrasi untuk sebuah negara. Di dunia, sistim politik bermacam-macam bentuknya, namun sistem demokratis yang paling baik untuk kedaulatan sebuah negara.

           Dr. Nasir Tamara juga menjelaskan, bahwa untuk saat ini banyak sekali negara-negara di dunia yang menggunakan sistim demokrasi. Salah satu yang menarik adalah gerakan demokrasi di Asia Tenggara, di mana gerakan demokrasi di beberapa negara Asia Tenggara itu tak mengenal agama untuk memberikan kebebasan dalam berdemokrasi. Tak ada sesuatu yang mengekang dalam menjalankan kebebasan dalam memilih pemimpin negara bahkan agama sekalipun. Tentu hal ini adalah bentuk dari demokrasi itu sendiri, lantaran demokrasi adalah kebebasan untuk berpikir, kebebasan untuk memilih, kebebasan untuk mengajar, bahkan kebebasan untuk berkreatifitas. Meski demokrasi di negara ini sendiri, masih seringkali ‘dibajak’ oleh orang-orang kaya menggunakan oligarki.

            Lain dengan yang disampaikan Dr. Nasir Tamara, Arahmaiani menggambarkan sebuah demokrasi dalam dimensi yang berbeda. Arahmaiani yang selama ini berprofesi sebagai perupa dan penggiat budaya, melihat demokrasi dari sisi kebudayaan. Meski di awal, Arahmaiani menyinggung bahwa ketidak setaraan gender masih terasa di negeri ini. Seringkali perempuanlah yang tak diuntungkan, demokrasi-demokrasi yang sebenarnya adalah hak bagi semua orang, terkadang tak bisa dinikmati oleh beberapa orang hanya lantaran gender.

            Tak hanya membahas masalah ketidak setaraan gender, Arahmaiani juga menyoroti masalah fenomena ekstrim di masyarakat yang semakin menguat menyoal agama dan ideologi. Beberapa waktu belakangan cukup banyak organisasi garis keras yang melakukan tindakan anarkis untuk menghentikan jalannya sebuah upacara adat atau kegiatan kreatifitas yang dirasa tak sejalan dengan agama tertentu. Tentu saja hal ini mencederai demokrasi itu sendiri.


           Lebih lanjut, Arahmaiani juga menegaskan jika demokrasi tidak didukung dengan kebebasan kreatifitas, maka demokrasi hanya sebatas basa-basi belaka. Segala macam batasan-batasan yang dilahirkan untuk seniman misalnya, dikhawatirkan akan menjadi sensor diri dan membuat para seniman tak bebas berkreasi. Menyoal hal ini, menurut Arahmaiani sebuah strategi kebudayaan yang adil, kebudayaan yang sinkretis  dibutuhkan untuk melahirkan keseimbangan. Strategi kebudayaan singkretik adalah sesuatu yang patut dibela untuk kepentingan bersama.

            Tak hanya dua narasumber yang memberikan gambaran menyoal demokrasi. Minardi, mahasiswa Dr. Nasir Tamara pun ikut berbagi diskusi menyoal demokrasi dalam bermedia sosial. Dalam hal ini, Minardi melihat sikap negara atas penggunaan media sosial oleh terorisme.

Menurut Minardi, saat ini negara masih menekankan pada medianya untuk melakukan pembatasan terhadap masalah yang menyangkut teknologi, seperti halnya dalam masalah terorisme yang terjadi beberapa waktu lalu. Apabila negara terlalu mengintervensi media yang digunakan teroris, hal ini dikhawatirkan akan menyebabkan pembatasan untuk organisasi-organisasi lain yang tidak berkaitan dengan tindakan teror dan semacamnya.

           Romo Baskoro yang turut hadir hari itu juga menambahkan sedikit menyoal resistensi yang seharusnya tak hanya dilakukan secara regional, tetapi juga global. Apabila ada masalah di tempat lain, kita semua wajib turut ikut bersuara, karena kita semua sesungguhnya adalah saudara. Demokrasi yang baik akan bisa dijalankan apabila kita semua peduli dengan saudara-saudara kita yang tertimpa masalah menyoal keadilan dan kebebasan berpendapat tanpa mengenal batasan-batasan wilayah dan sebagainya. 

satupena.id/ArtieA.

No Comments

Leave a Reply