Search and Hit Enter

Menghidupkan Nama Para Perempuan Penulis Masa Lalu

Editor: Dewi Kharisma Michellia

Ketika saya pertama tahu soal keberadaan Ruang Perempuan dan Tulisan, yang pertama terlintas di pikiran adalah betapa ini sebuah proyek impian. Inisiatif ini digagas oleh koordinator Literary Funding Program di Komite Buku Nasional, Dewi Noviami, dan bertujuan untuk mengumpulkan sepuluh perempuan penulis serta peneliti (muda) untuk membaca karya-karya penulis perempuan Indonesia dari masa lalu yang terlupakan.

Bagi saya, terlibat dalam program seperti ini menjadi sesuatu yang sangat menarik karena dalam sedikitnya empat tahun terakhir, saya memutuskan untuk secara eksklusif membaca (dan membeli buku) karya penulis perempuan sebagai sebuah bentuk keberpihakan.

Namun kebanyakan, jika tak bisa dibilang hampir semua, karya penulis perempuan dari masa lalu yang saya baca masih berasal dari Inggris, Amerika Utara, atau Kanada. Selain pengetahuan awal yang saya punya soal Suwarsih Djojopuspito, sulit untuk mencari nama perempuan penulis Indonesia lain dari masa lalu yang bisa saya kenal. Maka Ruang Perempuan dan Tulisan menjadi sebuah bentuk terlembaga dari apa yang sebelumnya saya lakukan sebagai sebuah misi pribadi.

Ide saya untuk membaca hanya buku karya penulis perempuan bukanlah sesuatu yang orisinil. Saya mengawalinya setelah mengikuti akun dan kampanye ‘Read Women’ yang mengajak pengikutnya untuk membaca karya penulis perempuan.

Penulis AS, Alexander Chee, kemudian membahas tentang kampanye tersebut di sebuah artikel di New York Times berjudul ‘Gender Genre’.

Di situ, Chee menulis bahwa selama tiga tahun dalam masa mudanya, dia berhenti membaca pria dan hanya membaca penulis perempuan. Chee menulis, “Bagi saya, penulis perempuan menarik karena mereka mengakui perjuangan perempuan dan laki-laki; sebagai penulis, mereka (perempuan) memberikan gambaran yang lebih lengkap akan dunia.”

Chee kemudian mendaftar beberapa penulis perempuan (Becky Birtha, Marguerite Duras, Christa Wolf, dan Toni Morrison) serta apa-apa saja yang dipelajarinya dari mereka, dan baru pada James Baldwin, Chee bisa mulai membaca lagi penulis laki-laki.

Saya belum bisa membayangkan untuk membaca lagi karya penulis laki-laki, apalagi ketika dalam proses meneliti dan membaca karya-karya perempuan penulis Indonesia dari masa lalu, kami menemukan ada terlalu banyak nama-nama yang terkubur yang, di luar ruang khusus ini, entah bagaimana caranya agar mereka bisa mulai dikenal lagi.

Selama 10 minggu, setiap Sabtu pagi sampai siang kami berkumpul di kantor Yayasan Lontar untuk membahas temuan kami masing-masing akan nama-nama penulis yang kami pilih. Sejauh ini, ada S. Rukiah Kertapati, Suwarsih Djojopuspito, Omi Intan Naomi, Ratna Indraswari Ibrahim, Saadah Alim, Sugiarti Siswadi, Maria Ulfah, Fatimah Hasan Delais/Hamidah, Tan Lam Nio/Dahlia, dan Charlotte Salawati/Salawati Daud.

Jika saya boleh meromantisirnya, maka apa yang kami lakukan terasa seperti kerja sebuah kelompok penyihir. Kami menyebut dan mengulang nama perempuan penulis pendahulu kami seolah-olah itu mantra untuk menghidupkan kembali sosok mereka. Kami berusaha untuk mewujudkan kehadiran para perempuan penulis ini selengkap mungkin lewat berbagai informasi yang kami temukan dari Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin atau Perpustakaan Nasional, sambil mengingat apa-apa saja karya yang mereka wariskan.

Dalam pertemuan-pertemuan itu, kami berusaha mereka ulang kehidupan kepenulisan mereka, apa yang membuat mereka memilih untuk menulis tema tertentu dengan sudut pandang khusus, siapa teman-teman mereka, apakah mereka saling membaca satu sama lain, atau apakah mereka peduli dengan pengakuan rekan-rekannya, terutama mereka yang laki-laki.

Mungkin karena pada saat itu saya baru saja selesai menulis buku pertama saya, sehingga saya tak pernah punya banyak kesempatan sebelumnya untuk bertemu dengan perempuan penulis lain.

Tapi dengan lebih seringnya keberadaan perempuan penulis dalam panel-panel diskusi dianggap sebagai token simbolis, seberapa sering sebenarnya seorang perempuan penulis punya kesempatan untuk berkumpul dan berdiskusi dengan sembilan perempuan penulis lain? Terutama dengan perempuan penulis lain yang punya kegelisahan serupa, untuk menggugat hal yang kurang lebih sama, dan mengerjakan penelitian untuk sebuah tujuan kolektif yang, menurut kami, penting?

Ada catatan khusus dari Chee tentang eksperimen membaca perempuan yang dia lakukan, bahwa saat dia menceritakan pada perempuan-perempuan tentang keputusannya itu, banyak dari mereka yang menyatakan, “Oh, lucu ya. Saya hampir tidak pernah membaca (penulis) perempuan.”

Memang, dia mendorong agar penulis laki-laki membaca lebih banyak penulis perempuan, tapi di sini dia juga menegaskan bahwa perempuan pembaca juga ikut terlibat dalam menganggap karya perempuan penulis sebagai suatu kekhususan, sementara karya penulis laki-laki dianggap sebagai ukuran default dalam apa yang dianggap layak ditulis dalam sastra.

Seorang kenalan perempuan pernah mengatakan pada saya bahwa dia sedang tertarik dengan seorang penulis perempuan karena dia “menulis tidak dengan gaya perempuan”. Berarti dalam kepalanya sudah ada gambaran standar akan seperti apa perempuan menulis, dan bahwa karya perempuan penulis baru akan dianggap sebagai sesuatu yang ideal ketika dia bisa bebas dari apa yang dianggap sebagai ‘kungkungan femininitas’.

Yang dimaksud dengan ‘kungkungan femininitas’ ini bisa bermacam-macam dan seringnya ditempelkan secara manasuka atau sepihak saja. Namun, beberapa yang sering dituduhkan adalah tema-tema yang dianggap domestik, sehingga nilainya remeh atau kecil, atau juga karena bersifat autobiografis, maka karya ini sering dianggap terlalu mudah dikerjakan dan tak mampu melakukan lompatan estetis dan mengungkapkan sesuatu yang dianggap bernilai ‘penting’.

Di Ruang Perempuan dan Tulisan, kami melihat satu per satu tulisan para ibu sastra kami. Dalam ruang ini, kami mendapat kesempatan untuk melihat bahwa keragaman tema, cara penulisan, dan sudut pandang dalam karya perempuan penulis adalah suatu keniscayaan. Ini berkebalikan dari apa yang selama ini diyakini dan dilanggengkan tentang karya perempuan penulis, bahwa yang dihasilkan perempuan sering dianggap sebagai sebuah monolit.

Jika misalnya ada elemen yang sama, seperti penggunaan autobiografis sebagai pilihan strategi bercerita, tak serta-merta membuat karya mereka menjadi bisa ditaruh dalam satu kotak yang sama seolah-olah itu sesuatu yang sebentuk. Masih ada sudut pandang personal yang membuat masing-masing karya menjadi berbeda dan beragam. Toh, setiap hampir semua resep masakan mensyaratkan penggunaan garam, tapi asin bukan satu-satunya rasa yang terkecap dari makanan yang dihasilkan.

Dari membaca karya-karya perempuan penulis dari era sebelum terbentuknya Indonesia, dari era kolonial, dan awal kemerdekaan, kami melihat ada banyak cerminan akan sebuah masa sejarah yang tak pernah kami dapat sebelumnya di ruang-ruang kelas.

Jika Chee menyebut bahwa dalam karya perempuan penulis, mereka “mengakui perjuangan baik perempuan maupun laki-laki”, maka lewat karya para penulis perempuan yang kami telaah di Ruang Perempuan dan Tulisan, kami menemukan catatan tentang pembagian peran antara para perempuan dan laki-laki menjelang kemerdekaan, serta bagaimana pergulatan mereka menjalaninya.

Kami juga menemukan banyak poin penting akan berbagai cara perempuan penulis ini mendefinisikan, bahkan menantang, identitas perempuan Indonesia ideal yang dibentuk oleh masyarakat, tatanan adat, dan oleh kaum laki-laki di sekitar mereka.

Contohnya, dalam penelitian yang saya temukan tentang Suwarsih Djojopuspito dan karya pentingnya, Manusia Bebas, yang mengisahkan tentang pasangan suami-istri Sudarmo dan Sulastri berdasarkan pengalaman pribadi dari Suwarsih serta suaminya, Sugondo Djojopuspito, pemimpin Kongres Pemuda Indonesia pada 1928, Suwarsih menulis:

“Dan Sudarmo tak dapat menahan diri, jika Sulastri mengikuti keinginannya sendiri. Ia merasa tertusuk hatinya dan dihinakan, oleh karena menurut adat-istiadat dan kebudayaan, seorang perempuan lebih rendah kedudukannya daripada seorang lelaki, walaupun dia dalam teorinya mempunyai anggapan modern tentang persamaan dan kemerdekaan kaum wanita.” (Manusia Bebas, halaman 47)

Terlepas dari Sudarmo dalam novel tersebut dianggap sebagai tokoh penting pergerakan nasional yang punya pandangan modern dan meyakini pentingnya pendidikan bagi perempuan, tapi tetap saja, dia menuntut kepatuhan Sulastri. Bahwa ternyata ketika Sulastri sudah menikah dengan pria yang paling ‘sadar secara sosial’ sekalipun, dia masih harus dihadapkan pada tuntutan yang sama tradisionalnya.

Dalam ruang ini pula, kami menemukan bagaimana pengalaman pribadi perempuan yang ditulis sekitar 80 tahun lalu, masih tetap relevan sampai sekarang. Pertanyaan dan keraguan perempuan pada masa itu tentang suatu proses yang secara alamiah dibebankan pada mereka, seperti contohnya pernikahan, masih bergema dan mungkin tak banyak berubah sampai sekarang. Dari sini, saya melihat ada semacam camaraderie, rasa senasib sepenanggungan dengan para pendahulu kami.

Ada beberapa kesempatan dalam sesi pertemuan Ruang Perempuan dan Tulisan yang membuat kami terdiam saat menyadari bahwa, meski di permukaan kehidupan perempuan Indonesia dari masa kolonial sampai sekarang tampak berubah, tetapi dalam banyak hal lain, terutama soal tatanan sosial dan apa yang dianggap sebagai bagian dari kodrat, ternyata belum ada perubahan berarti.

Contohnya muncul dalam penelitian saya soal novel Suwarsih Djojopuspito yang diterbitkan terakhir, Maryati (1976). Di situ, Suwarsih menulis tentang kakak-beradik Maryati yang masih berusia 15 tahun dan Rustini di sebuah sekolah di Bogor pada 1928. Novel ini didasarkan pada sosok Suwarsih Djojopuspito serta kakaknya, Suwarni Pringgodigdo.

Dalam novel tersebut, Suwarsih menuliskan bahwa Maryati menanyakan lagi dan lagi, apa sebenarnya fungsi dan keuntungan yang ditawarkan oleh pernikahan bagi perempuan-perempuan seperti dia dan kakaknya, Rustini, yang nota bene mendapat pendidikan tinggi dan aktif dalam Jong Java.

Berikut kutipan monolog Maryati soal itu:

“Memang Rustini terlalu cerdas. Bakal mendapatkan pasangannyakah Rustini itu atau tidak? Karena orang yang kulihat di sekitarku tak secerdas Rustini, otaknya tak pernah diam dan selalu seperti bergerak mencari persoalan-persoalan baru. Seorang wanita seharusnya biasa saja seperti Lestari, tak menonjol kecakapannya, tak bodoh, tak pintar, puas dengan kehidupan biasa. Pasti dia akan bahagia. Seorang seperti Rustini takkan merasa bahagia, seumur hidupnya pun tidak. Selalu gelisah mencari jawaban atas pertanyaan yang timbul dalam hatinya. Perkawinan biasa, tenang, dan aman akan menjemukan dia. Akan tetapi apakah aku lain dari dia?”

Di ruang ini pula, lewat karya para perempuan penulis dari era kolonial, kami punya kesempatan untuk menginterogasi pandangan para tokoh yang oleh sejarah sering ditempatkan sebagai para bapak bangsa, dan bagaimana mereka melihat peran perempuan. (Spoiler: Ternyata mereka cukup misoginis.)

Mereka yang terlupakan

Sejarah sastra punya banyak kisah tentang perempuan-perempuan penulis yang terlupakan untuk kemudian dihidupkan lagi. Salah satu contohnya, ketertarikan yang awalnya muncul akan karya serta kehidupan penulis Zora Neale Hurston adalah atas kegigihan penulis Alice Walker yang mencari kuburan Hurston dengan nisan tak bertanda. Perjalanan Walker itu kemudian ditulis dalam esai Looking for Zora.

Salah satu penulis favorit saya, Barbara Pym, hidup lagi kariernya setelah penyair Philip Larkin menyebutnya sebagai “penulis paling underrated pada abad ke-20” di tahun 1977, meski sampai sekarang minat terhadap Pym masih tergolong cukup niche. Minat terhadap karya penulis Jean Rhys juga baru muncul lagi setelah editor Diana Athill menerbitkan manuskip Wide Sargasso Sea pada 1966, setelah Rhys menarik diri dari publik selama lebih dari 25 tahun.

Di Ruang Perempuan dan Tulisan, kami juga mencari tahu faktor-faktor apa saja sebenarnya yang menyebabkan karya atau warisan intelektual para perempuan pendahulu kami ini menjadi terlupakan. Dalam kasus S. Rukiah Kertapati, Sugiarti Siswadi, dan Charlotte Salawati, afiliasi mereka pada berbagai organisasi kiri (baik Lekra, Gerwani, atau PKI) membuat warisan mereka dihapuskan.

Bagi Suwarsih, terlepas dari kedekatannya dan suaminya dengan Soekarno, kemudian dengan Sjahrir, karyanya terlupakan karena soal waktu. Novel Buiten het Gareel, karya besarnya yang ditulis dalam bahasa Belanda, terbit pada 1940, tapi karena situasi perang, buku itu tidak sampai ke publik Indonesia. Alasan yang kurang lebih sama—Indonesia yang  masih berada dalam masa penuh keguncangan setelah proklamasi pada 1945—juga menjadi penyebab buku itu lagi-lagi tak sampai ke Indonesia saat dicetak ulang pada 1946.

Meski begitu, HB Jassin, dalam suratnya kepada Suwarsih Djojopuspito tertanggal 23 Mei 1966, menulis, “Buku ini pada hemat saya lebih baik dari buku-buku saudara yang lain dalam bahasa Indonesia (dan Sunda); masalahnya lebih luas, ada latar belakang kemasyarakatan dan kesejarahan yang menarik perhatian dan terutama tokoh-tokohnya digambarkan dengan jujur dan manusiawi…. ia akan merupakan satu dokumen yang berharga tentang satu babak dalam perjuangan kebangsaan kita dekat sebelum perang dunia kedua.”

Ruang Perempuan dan Tulisan tentu bukan satu-satunya upaya mengingat nama dan karya para perempuan penulis. Setidaknya, di Inggris ada inisiatif Second Shelf yang digagas oleh A.N. Devers. Proyek ini bukan hanya untuk mempromosikan perempuan penulis, tapi juga mendorong kesetaraan gender dalam kanon sastra, memunculkan ketertarikan di seputar buku-buku langka, serta menemukan ulang karya dari dan tentang perempuan penulis. Mereka juga menerbitkan jurnal secara teratur dan punya sebuah toko buku di London yang menjual edisi fisik dari buku-buku edisi pertama karya perempuan penulis.

Dari apa yang dilakukan Second Shelf, kami menyadari bahwa jangkauan Ruang Perempuan dan Tulisan masih terlalu kecil. Aktivitas kami baru terbatas pada membaca ulang dan mengingat nama-nama para perempuan penulis masa lalu, kami belum sampai pada upaya menempelkan nilai ekonomi pada penerbitan ulang karya mereka atau memunculkan dan mendokumentasikan ratusan nama perempuan penulis lain yang masih terkubur. Selain itu, para penulis dan peneliti yang terlibat dalam proyek ini masih berasal dari seputaran Jabodetabek dan Bandung, dan para penulis yang kami baca juga kebanyakan masih berasal dari pulau Jawa (kecuali Saadah Alim, Hamidah, dan Charlotte Salawati).

Mungkin saya berharap tulisan ini menjadi semacam maklumat panjang akan keberadaan Ruang Perempuan dan Tulisan—akan apa yang masih ingin kami capai dan akan betapa masih panjangnya perjalanan yang harus ditempuh untuk membuat nama-nama para perempuan penulis pendahulu ini menjadi sama wajib dikenalnya seperti saat kita menyebut nama Pramoedya Ananta Toer. Dan untuk mencapai tujuan itu, kami butuh sebanyak-banyaknya sekutu.

No Comments

Leave a Reply