Search and Hit Enter

Mengenang Nh Dini: Mencermati Keabadian dalam Dimensi yang Berbeda


Karya-karya Nh Dini tetap relevan bagi bangsa Indonesia. Karya-karyanya abadi. Demikian benang merah dari diskusi tentang “Nh Dini: Kehidupan, Serta Relevansinya Bagi Penulis Indonesia” yang diselenggarakan Perhimpunan Penulis Indonesia (SATUPENA) di Ndalem Natan, Yogyakarta, Minggu (3/2).

Pembicara dalam diskusi tersebut adalah Nasir Tamara, Ketua Umum SATUPENA dan Artie Ahmad, penulis novel Sunyi di Dada Sumirah. Kedua pembicara merupakan orang-orang yang mengenal dekat Nh Dini dan beberapa kali melakukan korespondensi langsung maupun tidak langsung dengan Nh Dini.

Nh Dini yang telah menulis 32 buku lebih berhasil mempertahankan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia meskipun dia tinggal lama di luar negeri. Ia juga tidak melupakan ritus-ritus spiritual dalam menulis. Menulis dianggap pekerjaan yang amat penting dan sakral sehingga ia berdoa melakukan puasa dan tirakat ketika hendak memulai karyanya.

Dini membela kepentingan hak-hak perempuan sehingga ada yang mengkategorikan dirinya sebagai penulis feminis Indonesia pertama. Juga rasa melawan ketidakadilan gender dan ekonomi.

Kepergian Nh Dini pada 4 Desember 2018 meninggalkan duka yang mendalam bagi dunia literasi dan sastra Indonesia. Penulis asal Semarang tersebut meninggal pada usia 82 tahun lantaran mengalami kecelakaan di Tol Tembalang. Setelah mobil yang dikendarainya bertabrakan dengan truk. Nh Dini sempat dirawat di RS Elisabeth, tapi nyawanya tidak terselamatkan.

Karya terakhirnya Gunung Ungaran: Lerep di Lerengnya, Banyumanik di Kakinya (2018) berbicara tentang kematian. Bahwa Tuhan sangat Maha Kuasa bisa memindahkan ke alam baka siapa saja, di mana saja, dan dengan cara apa saja. Sepeninggalnya, sumbangan yang telah ia berikan bagi dunia sastra Indonesia menjadi teladan yang sangat berarti, khususnya bagi para penulis muda.

Awal karir menulis Dini dimulai sejak 1951, ketika ia duduk di kelas 2 SMP. Karya pertama dimuat di majalah Kisah berjudul Pendurhaka—yang pernah mendapat sorotan dari kritikus besar HB. Jassin saat itu. Menyusul kemudian kumpulan cerita pendeknya berjudul Dua Dunia terbit pada 1956 ketika ia masih SMA.

Sepuluh karya terbaik Nh Dini yang direkomendasikan meliputi Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977), Keberangkatan (1977), Sebuah Lorong di Kotaku (1978), Padang Ilalang di Belakang Rumah (1979), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979), Sekayu (1981), Pertemuan Dua Hati (1986), dan Dari Parangakik ke Kampuchea (2003).

Ia juga menerjemahkan buku sastrawan-sastrawan besar dunia. Seperti Sampar karya Albert Camus (1985), 20.000 Mil di Bawah Lautan karya Jules Verne (2004), hingga Tukang Kuda Kapal La Providence karya George Simenon (2009). Juga penulis buku biografi Amir Hamzah dari Negeri Seberang (1981) dan Dharma Seorang Bhikkhu (1997).

Budi Darma pernah memberinya gelar pengarang feminis. Kebanyakan dari novel-novel Dini bercerita tentang perempuan yang menjadi sentra dan tokoh utama karyanya. “Terus menyuarakan kemarahan kepada kaum laki-laki,” kata Budi Darma.

Pada 1980, Dini kembali ke Indonesia guna melakukan operasi penyembuhan bagi kesehatannya. Lalu pada 2002 Dini selama empat tahun pernah tinggal di Graha Wredha Mulya, Sendowo, Yogyakarta. Di sana mengurusi Pondok Baca, sembari merawat tanaman dan lukisan. Biasanya hobi menanam dan menyiram tanaman itu ia dapat sambil berpikir, mengolah, dan menganalisis naskah yang dikerjakannya.

Keaktifannya dalam literasi ditunjukkan pula dengan mendirikan Pondok Baca Nh Dini yang memiliki cabang di berbagai tempat. Usai empat tahun tinggal di Yogyakarta, pada 2006 Nh Dini tinggal di sebuah desa yang tenang di lereng Gunung Ungaran, sekitar 30 km dari Kota Semarang. sur/R-1

Hidup di Berbagai Dunia                                                     

Nh Dini menikah dengan diplomat Prancis, Yves Coffin. Ia tinggal di Prancis kurang lebih 10 tahun hingga 1980. Sempat bekerja sebagai Dame de Compagnie/Governess, semacam perawat bagi orang tua. Di Paris Dini membagi hidupnya menjadi beberapa babak yang berupa fase menuju kematangan.

Di tempat inilah Dini merawat putri pertamanya yang bernama Marie Claire Lintang Coffin. Bagaimana dekatnya Lintang dengan Miu, kucing blasteran ras Siam. Namun, Miu mempunyai kebiasaan buruk, menggigit semua pakaian atau benda yang lembut.

Saat itu Dini tengah mengandung anak kedua, Pierre Louis Padang Coffin. Untuk menghindari risiko Miu menggigit Padang, Dini membangun komunikasi dengan Lintang. “Ketika saya sampai pada tahap mengatakan kepada Lintang bahwa dalam hidup ini seringkali kami tidak dapat mempunyai semuanya, bahwa orang harus memilih … dia memilih adik,” ungkap Dini, ketika itu.

Periode lain yang ia jalani selama di Prancis diberi nama Argenteuil-Paris. Saat itu, Dini menjadi seorang perawat bagi orang tua bernama Pierre Willm yang tinggal lama di daerah Argenteuil. Rumah Willm pernah ditinggali tokoh legenda ekonomi-politik Karl Marx.

Dini menjadi teman yang menyenangkan bagi Willm. Ia menemani Willm dalam banyak hal. Dari menyiapkan makan, menonton televisi, ke bioskop, nonton teater, membacakan buku, berdiskusi, hingga bercanda. Namun, Willm perlahan menjadi lemah karena ia bosan hidup. Anak-anak dan cucu-cucu Willm tidak mempedulikannya.

Hidup bersama Willm membuka mata Dini betapa sulitnya menjadi orang tua di Prancis. Hingga Willm tidak kuat dan akhirnya meninggal. Willm berpesan untuk mengizinkan Dini tinggal di rumahnya, meski anak-anak Willm tidak begitu suka. “Tapi saya menunjukkan kepada anak-anak Willm bahwa saya tahu diri,” ucapnya.

Dari kisah pribadinya itulah, Prancis melahirkan naskah-naskahnya yang lain seperti La Barka dan Argenteuil: Hidup Memisahkan Diri. sur/R-1

Rahasia Sukses Menulis

Dini memberikan rahasia sukses menulisnya. Pertama, menulis itu jangan terburu-buru. “Dalam mengarang saya tidak pernah tergesa-gesa. Saya anggap pekerjaan mengarang adalah tugas yang santai, yang harus dikerjakan dengan senang hati. Kalau saya menulisnya dengan terburu-buru, berarti dengan hati yang kesal, maka dapat dipastikan bahwa si pembaca pun akan merasakannya,” ucapnya.

Kedua, Dini tidak ragu untuk mengambil tema-tema tabu, misalnya seks, perselingkuhan, dan gangguan kepribadian ganda. Baginya itu semua hal yang wajar tentang perjalanan dan persoalan hidup. Menuliskannya seperti berbincang dengan diri sendiri.

Ketiga, Dini menciptakan karya-karyanya dengan membuat “tabungan”. Ia mencatat hal-hal menarik untuk dibuat cerita. Bisa didapat dari aktivitas apa pun, seperti menonton berita. Baginya yang paling mengasyikkan dari proses menulisnya adalah ketika mengumpulkan catatan serta penggalan. Baik berupa adegan fisik, gagasan, alur, dan lain-lain. Bahkan ia sampai tahap bisa melakukan prediksi catatannya itu bisa dijadikan cerpen atau novel. sur/R-1

Dimuat Koran Jakarta, Sabtu 09 Februari 2019/Suradi.

No Comments

Leave a Reply