Search and Hit Enter

Nh Dini Penulis Besar Perempuan Indonesia

Dunia kepenulisan di tanah air, khususnya penulis sastra masih dinominasi kaum laki-laki. Kendati demikian, bukan ber­arti kaum perempuan tidak bisa menulis karya sastra.

Adalah NH Dini, salah satu nama perempuan yang boleh disebut sebagai penulis besar di Indonesia. Jejak kekaryaan­nya sudah teruji oleh waktu. Dia bisa dibilang sangat produktif dalam menulis. Se­banyak 50 buku telah ia tulis selama karier kepenulisannya.

Usulan penganugerahan penulis besar tersebut disam­paikan oleh Ketua Umum Per­himpunan Penulis Indonesia Satupena, Nasir Tamara pada acara Sastra dan Peradaban di Jakarta, Rabu (20/2). “Saya menawarkan penulis besar pe­rempuan Indonesia ialah Nh Dini,” ujarnya.

Guru Besar Universitas Indonesia (UI), Toeti Heraty berpendapat, Nh Dini se­lain produktif juga memiliki kesadaran untuk mengkritik permasalahan budaya, sosial, bahkan politik. Ketika masa Orde Baru, dia berani meng­hadirkan karya yang berse­berangan dengan rezim yang ‘mengekang’ karya sastra.

“Masa itu ada penulis perempuan yang menerbitkan buku. Tapi, karya-karya mereka masih berideologi Orde Baru. Nah, di antara dominasi itu, Nh Dini salah satu yang berani menulis karya melawan ideologi tersebut,” terang Toeti.

Sebagai penulis perempu­an, Nh Dini juga kerap menulis tentang kesetaraan gender. Dalam beberapa karyanya, pandangan Nh Dini tentang kesetaraan gender begitu jelas terlihat.

“Dalam beberapa karyanya, Nh Dini tidak menggunakan suami. Ia lebih memilih untuk menggunakan lelaki dari anak-anakku,” jelas Toeti.

Menurut Toeti, Nh dini juga sangat peduli terhadap dunia pendidikan utamanya tentang ekologi atau lingkungan hidup. Selain itu, dia juga menulis buku Pondok Baca yang merupakan pengalaman hidup ketika dirinya mendirikan pondok baca di kota asalnya Semarang, Jawa Tengah.

Nh Dini juga menaruh per­hatian lebih terhadap bacaan anak. Selama kepenulisannya, ia pernah melahirkan dua buku sastra anak yaitu Cerita Rakyat Prancis 1 dan Cerita Rakyat Perancis 2. Sayangnya, karya-karya ini cenderung terlupakan dibanding karya-karya Nh Dini yang lain.

“Padahal, karya Nh Dini tersebut memiliki kekhasan. Jika cerita rakyat untuk anak lebih banyak menjadikan anak sebagai objek, Nh. Dini tidak melakukan itu,” sebut Dosen Universitas Negeri Jakarta, Murti Bunanta. ruf/E-3

Dimuat di Koran Jakarta, Jumat 22 Februari 2019.

No Comments

Leave a Reply