Search and Hit Enter

Nh. Dini: Kehidupan, Serta Relevansi Karya-Karyanya Saat ini

SHNet, JAKARTA – Karya-karya Nh. Dini tetap relevan bagi bangsa Indonesia. Nh. Dini adalah penulis besar Indonesia yang dapat dibandingkan dengan penulis dunia seperti Bronte, Virginia Woolf, Francoise Sagan, dan lain-lain. Karya-karyanya akan abadi. Demikian benang merah dari diskusi tentang “Nh. Dini: Kehidupan, Serta Relevansinya Bagi Penulis Indonesia” yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Penulis Indonesia (SATUPENA) di Ndalem Natan, Minggu, 3 Februari 2019.

Pembicara dalam diskusi tersebut adalah Dr. Nasir Tamara, MA, M.Sc selaku Ketua Umum SATUPENA dan Artie Ahmad selaku penulis novel Sunyi di Dada Sumirah. Kedua pembicara merupakan orang-orang yang mengenal dekat dengan Nh. Dini dan beberapa kali melakukan korespondensi langsung maupun tidak langsung dengan Nh. Dini. Seperti Nasir Tamara yang mengenal Nh. Dini semenjak tinggal di Prancis. Serta Artie Ahmad yang belajar menulis dari Nh. Dini di sebuah panti di Banyumanik.

Nh. Dini yang telah menulis 32 buku lebih berhasil mempertahankan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia meskipun dia tinggal lama negeri. Nh. Dini juga tidak melupakan ritus-ritus spiritual dalam menulis. Menulis dianggap pekerjaan yang amat penting dan sakral sehingga ia berdoa melakukan puasa dan tirakat ketika hendak memulai karyanya.

Nh. Dini membela kepentingan hak-hak perempuan sehingga ada yang mengkategorikan dirinya sebagai penulis feminis Indonesia yang pertama. Juga rasa melawan ketidakadilan gender dan ekonomi. Acara ini banyak dihadiri oleh penulis muda dan kritikus sastra. Ini menunjukkan gairah yang ada di kalangan penggemar sastra di Indonesia.

Kepergian Nh. Dini pada 4 Desember 2018 meninggalkan duka yang mendalam bagi dunia literasi dan sastra Indonesia. Penulis asal Semarang tersebut meninggal pada usia 82 tahun lantaran mengalami kecelakaan di Tol Tembalang. Setelah Toyota Avanza yang dikendarainya bertabrakan dengan sebuah truk. Nh. Dini sempat dirawat di Rumah Sakit Elisabeth, tapi karena mengalami gegar otak yang cukup keras, nyawanya tidak terselamatkan.

Karya terakhirnya berjudul Gunung Ungaran: Lerep di Lerengnya, Banyumanik di Kakinya (2018) berbicara tentang kematian. Bahwa Tuhan sangat Maha Kuasa bisa memindahkan ke alam baka siapa saja, di mana saja, dan dengan cara apa saja. Sepeninggalannya, sumbangan yang telah ia berikan bagi dunia sastra Indonesia menjadi teladan yang sangat berarti, khususnya bagi para penulis muda.

Nh. Dini merupakan salah satu penulis yang tekun dan produktif. Selama lebih dari 60 tahun hidupnya dihabiskan untuk menekuni sastra. Awal karir menulis dimulai sejak tahun 1951, ketika ia duduk di kelas II SMP. Karya pertama dimuat di majalah Kisah berjudul Pendurhaka—yang pernah mendapat sorotan dari kritikus besar H.B. Jassin saat itu. Menyusul kemudian kumpulan cerita pendeknya berjudul Dua Dunia terbit tahun 1956 ketika ia masih SMA.

Sepuluh karya terbaik Nh. Dini yang direkomendasikan meliputi: Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977), Keberangkatan (1977), Sebuah Lorong di Kotaku (1978), Padang Ilalang di Belakang Rumah (1979), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979), Sekayu (1981), Pertemuan Dua Hati (1986), dan Dari Parangakik ke Kampuchea (2003).

Ia juga menerjemahkan buku sastrawan-sastrawan besar dunia. Seperti Sampar karya Albert Camus (1985), 20.000 Mil di Bawah Lautan karya Jules Verne (2004), hingga Tukang Kuda Kapal La Providence karya George Simenon (2009). Juga penulis buku biografi Amir Hamzah dari Negeri Seberang (1981) dan Dharma Seorang Bhikkhu (1997).

Budi Darma pernah memberinya gelar pengarang feminis. Kebanyakan dari novel-novel Nh. Dini bercerita tentang perempuan yang menjadi sentra dan tokoh utama setiap karyanya. Nh. Dini menyuarakan ketidakadilan gender, karena hal itu sering merugikan perempuan. “Terus menyuarakan kemarahan kepada kaum laki-laki,” kata Budi Darma.

Nh. Dini dianggap pusat pelopor suara perempuan dari karyanya yang pertama sampai yang terakhir. Sejak saat belum banyak perempuan yang bercita-cita menjadi penulis sampai muncul banyak penulis perempuan. Ia bahkan melampaui zamannya dengan menghadirkan konflik dan adegan yang dianggap tabu oleh masyarakat pada saat itu.

Karya Nh. Dini menggambarkan perempuan sebagai sosok yang tidak hanya merdeka, tapi juga bertindak dan bebas menentukan kehendak. Misal novel monumental Pada Sebuah Kapal menceritakan gadis penari yang dicintai oleh beberapa lelaki. Sri nama gadis itu tak lain seperti cerminan pengalaman hidup Nh. Dini sendiri.

Sri menikah dengan konsul Prancis tapi ia merasa terhimpit oleh perlakuan suaminya. Sri juga merupakan penggambaran dari budaya perempuan Jawa yang sederhana, serta jijik pada hal yang kasar dan penuh kekerasan. Isinya juga tentang pemberontakan atas kungkungan nilai-nilai pernikahan. Butuh waktu 10 tahun lebih untuk menulisnya. Novel tersebut-lah yang mengantar Nh. Dini sukses sebagai novelis kenamaan. Telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing dan dicetak berkali-kali.

Berbagai penghormatan telah ia dapatkan. Seperti penghargaan Prestasi Seumur Hidup (Lifetime Achievement Award) dari Ubud Writers and Readers Festival (2017), Achmad Bakrie Award di Bidang Sastra (2011), Francophonie (2008), Southeast Asian Write Award dari pemerintah Thailand (2003), Bhakti Upapradana Bidang Sastra dari Pemda Jateng (1991), Hadiah Seni untuk Sastra dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1989), dan lain-lain.

Nh. Dini juga diundang untuk memberi kuliah di berbagai universitas, baik di dalam maupun luar negeri. Ia telah pula melanglang buana dari tinggal di Kobe, Jepang (1960-1962), Pnompenh, Kamboja (1963-1965), Manila, Filipina (1969-1971), Detroit, Amerika Serikat (1976), Belanda, dan Prancis.

Tahun 1980, Nh. Dini kembali ke Indonesia guna melakukan operasi penyembuhan bagi kesehatannya. Lalu tahun 2002 Nh. Dini selama empat tahun pernah tinggal di Graha Wredha Mulya, Sendowo, Yogyakarta. Di sana mengurusi Pondok Baca, sembari merawat tanaman dan lukisan. Biasanya hobi menanam dan menyiram tanaman itu ia dapat sambil berpikir, mengolah, dan menganalisis naskah yang dikerjakannya.

Keaktifannya dalam  literasi ditunjukkan pula dengan mendirikan Pondok Baca Nh. Dini yang memiliki cabang di berbagai tempat. Usai empat tahun tinggal di Yogyakarta, tahun 2006 Nh. Dini tinggal di sebuah desa yang tenang di lereng Gunung Ungaran, sekitar 30 km dari kota Semarang.

Hidup di Berbagai Dunia

Nh. Dini menikah dengan diplomat Prancis, Yves Coffin. Ia tinggal di Prancis selama kurang lebih 10 tahun hingga tahun 1980. Sempat bekerja sebagai Dame de Compagnie/Governess semacam perawat bagi orang tua. Di Paris Nh. Dini membagi hidupnya menjadi beberapa babak yang berupa fase menuju kematangan.

Di tempat inilah Nh. Dini merawat putri pertamanya yang bernama Marie Claire Lintang Coffin. Bagaimana dekatnya Lintang dengan Miu, kucing blesteran ras Siam. Hampir kemana-mana Lintang dan Miu bersama. Dari makan, tidur, hingga ke kamar mandi Miu selalu menemaninya. Lintang dan Miu pun sering terlibat dialog. Namun, Miu mempunyai kebiasaan buruk: menggigit semua pakaian atau benda yang lembut dan empuk.

Diskusi di Satu Pena (Ist)

Saat itu Nh. Dini tengah mengandung anaknya yang kedua bernama Pierre Louis Padang Coffin. Untuk menghindari risiko Miu menggigit Padang, akhirnya Nh. Dini membangun komunikasi yang intensif dengan anaknya Lintang menjelaskan dan memberi pengertian, “Ketika saya sampai pada tahap mengatakan kepada lintang bahwa dalam hidup ini seringkali kami tidak dapat mempunyai semuanya, bahwa orang harus memilih … dia memilih adik.”

Kelahiran Padang telah menjadi babak Fontenay-Aux-Roses mengenai pengalamannya memiliki bayi laki-laki. Sebab beberapa hari sebelum Padang lahir (dalam bahasa Jawa “Padang” berarti terang), Nh. Dini merasa mendapatkan “penerangan” mengenai jalan hidup yang akan ia jalani. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana harus bersikap dan berbuat.

Periode lain yang ia jalani selama di Prancis diberi nama Argenteuil-Paris. Di mana saat itu, Nh. Dini menjadi seorang perawat bagi orang tua bernama Tuan Pierre Willm yang tinggal lama di daerah Argenteuil. Rumah Tuan Willm pernah ditinggali tokoh legenda ekonomi-politik Karl Marx.

Nh. Dini menjadi teman yang menyenangkan bagi Tuan Willm. Ia menemani tuannya itu banyak hal yang dia butuhkan. Dari menyiapkan makan, menemani menonton televisi, ke bioskop, nonton teater, membacakan buku, beriskusi, hingga bercanda. Namun, Tuan Willm perlahan menjadi lemah karena ia bosan hidup. Anak-anak dan cucu-cucu Tuan Willm tidak mempedulikannya.

Hidup bersama Tuan Willm membuka mata Nh. Dini betapa sulitnya menjadi orang tua di negeri modern seperti Prancis. Hingga Tuan Willm tidak kuat dan akhirnya meninggal. Tuan Willm berpesan untuk mengizinkan Nh. Dini tinggal di rumahnya, meski anak-anak Tuan Willm tidak begitu suka. Tapi seperti wataknya, “saya menunjukkan kepada anak-anak majikan bahwa saya tahu diri.”

Dari kisah pribadinya itulah, Prancis melahirkan naskah-naskahnya yang lain seperti  La Barka dan Argenteuil: Hidup Memisahkan Diri.

La Barka merupakan rumah temannya di Prancis yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri bernama Mireille Labat di Desa Trans-en-Provence. Nh. Dini lewat novel itu seolah-olah sedang mengajak pembaca berkelana ke daerah pegunungan dan pedesaan di Prancis Selatan.

La Barka berkisah tentang permasalahan-permasalah perempuan dari mendidik dan memelihara anak seorang diri seperti yang dialaminya bersama Padang, perceraian seperti yang ia alami pula dengan Yves Coffin, hidup menjanda dan keraguan terhadap lembaga perkawinan.

Argenteuil merupakan kota kecil di tepian Sungai Seine Prancis. Novel Argenteuil: Hidup Memisahkan Diri bercerita tentang hari-hari Nh. Dini yang memisahkan diri dari anak-anak dan suaminya.

Banyak novelnya yang berkisah tentang Prancis pula. Seperti Cerita Rakyat dari Prancis 1 (1999) dan Cerita Rakyat dari Prancis2 (1999) tentang dongeng-dongeng PrancisJuga La Grande Borne (2007) dan  Dari Fontenay ke Magallianes (2005) yang digarap dengan gaya reportase saat menggambarkan Prancis. Bagaimana seorang manusia bertamu ke negeri orang. Tentang intinya pula seorang istri yang tidak bahagia hingga ia berselingkuh dengan kapten kapal. Juga bagaimana kisah seorang ibu mengurusi anak-anaknya.

Nh. Dini memperlakukan dan melihat Prancis dengan cermat, mengobservasi negara itu dengan tenang, dan menulis latar negara itu dalam karyanya sesuai gayanya sendiri. Kisah-kisahnya natural. Tanpa sadar dalam penghayatan yang merasuk, bisa membuat pembaca menjelajahi Prancis dan ingin tinggal di sana.

Atau lebih luas lagi secara pedantik dapat dikatakan: tak perlulah seseorang berkeliling dunia, dengan membaca buku-buku Nh. Dini, seseorang dapat merasakan Prancis, Kamboja, Jepang, Vietnam, Filipina, dan tentu saja kota-kota di Indonesia.

Rahasia Sukses Menulis

Sikap idealis dari Nh. Dini adalah pro-kebebasan bagi penulis, mengecam  pelarangan buku-buku yang disita secara sepihak, dan sangat menentang pembajakan buku. Sebelum meninggal Nh. Dini menuturkan pada editor penerbit GPU bahwa bukunya Pada Sebuah Kapal telah dibajak oleh sebuah situs daring. Pihak GPU berjanji akan melakukan follow up atas pembajakan itu.

Nh. Dini sebagai penulis juga memiliki gaya sendiri dan tidak selalu tunduk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Penyunting naskah Nh. Dini lewat tulisannya menjelaskan, “Dini memakai kata filem (bukan film), ibukota (bukan ibu kota), kokoh (bukan kukuh), dan moderen (bukan modern).” Kata kakus yang diganti dengan toilet pun ia cukup keberatan. Di salah satu bukunya, kata roti dalam KBBI bisa digunakan dalam tiga varian: kue, kueh, dan kuih. Dia menyebut negeri Prancis juga bukan dengan nama Prancis, tapi Parangakik. Struktur berbahasanya cukup fleksibel.

Nh. Dini memberikan rahasia sukses menulisnya. Pertama, menulis itu jangan kesusu.  Ia mengatakan: “Dalam mengarang saya tidak pernah tergesa-gesa. Saya anggap pekerjaan mengarang adalah tugas yang santai, yang harus dikerjakan dengan senang hati. Kalau saya menulisnya dengan terburu-buru, berarti dengan hati yang kesal, maka dapat dipastikan bahwa si pembaca pun akan merasakannya.”

Pertama, Nh. Dini tidak ragu untuk mengambil tema-tema yang tabu, misal tentang seks, perselingkuhan., dan gangguan kepribadian ganda. Tentang seksualitas ia bercerita sebagai sesuatu yang tidak perlu ditutup-tutupi atau dipermalukan. Bisa jadi memabukkan, menakutkan, membebaskan, dan yang penting merupakan bagian yang integral dari kehidupan. Baginya itu hal yang wajar tentang perjalanan dan persoalan hidup. Menuliskannya seperti berbincang dengan diri sendiri.

Kedua, Nh. Dini menciptakan karya-karyanya dengan membuat “tabungan”. Ia mencatat hal-hal menarik untuk dibuat cerita. Bisa didapat dari aktivitas apa pun, seperti menonton berita. Baginya yang paling mengasyikkan dari proses menulisnya adalah ketika mengumpulkan catatan serta penggalan. Baik berupa adegab fisik, gagasan, alur, dan lain-lain. Bahkan ia sampai tahap bisa melakukan prediksi catatannya itu bisa dijadikan cerpen atau novel.

Pakar sastra dari Universitas Negeri Malang Djoko Saryono mengungkapkan karya-karya Nh. Dini sebagai teks autoetnografis yang bercerita tentang catatan, pikiran, dan ingatan Nh. Dini tentang diri dan dunianya.

“Nh. Dini adalah seorang autoetnografer ulung yang menyatukan kemampuan seniman dan ilmuwan ke dalam dirinya. Ia seorang yang mampu mengingat, mencatat, dan memikirkan pengalaman dirinya sekaligus menarasikan atau menceritakannya secara memikat dalam fiksi karyanya,” jelas Djoko.

Ketiga, Nh. Dini menulis tanpa keraguan dan kepura-puraan. Dia menyatakan sendiri, “tulisan saya mengandung lebih banyak kehidupan nyata daripada fantasi.” Hampir sepanjang karir menulisnya, Nh. Dini menulis dan mencatat banyak hal yang terjadi padanya ke dalam buku (cerita).

Penulis Laksmi Pamuntjak pernah menulis: “Seseorang dapat merasakan, betapa luar biasanya kepercayaan diri Nh. Dini yang membangun hampir seluruh karirnya dari cerita tentang dirinya sendiri. Dia berharap orang lain tahu tentang hidupnya, dan para pembaca memiliki kepercayaan pada dirinya sendiri sebagai manusia.”

Nh. Dini membangun memoarnya pula dengan fakta tentang kehidupan orang lain yang ia olah melalui satu perspektif tunggal dan menyamar sebagai “kebenaran”. Menarik lagi, di antara orang-orang yang ia tulis masih hidup. Mereka memiliki nama, kisah, keluarga, dan masa depan. Cerita tersebut menjadi kebenaran diri yang tak terduga, yang tak dapat diatur, dan membentuk absurditas. Tokoh “Aku” yang tak pernah utuh dan gagal menemukan makna hidup yang inheren. Manusia adalah apa yang ia benci dan cintai.

Keempat, dalam  menangkap dan meramu gagasan tetap tak bisa lepas dari aktivitas membaca. “Kalau mau jadi penulis, ya harus banyak baca, tidak hanya buku sastra, tapi pengetahun yang lain juga,” kata novelis itu.

Kelima, Nh. Dini juga tidak melupakan faktor spiritual dari Yang Maha Kuasa. Ia memiliki kebiasaan khusus dalam menulis buku. Ketika penulisan sebuah karya selesai, Nh. Dini akan melakukan meditasi. Melantunkan doa kepada Tuhan pada pukul 01.00-03.00 pagi.

Pelajaran Hidup

Dalam karya-karyanya terpetik pula beberapa pelajaran hidup penting yang bisa dipelajari dari sosok Nh. Dini. Pertama, seorang perempuan memang mengalami banyak kesulitan, tapi dia tetap mandiri dan berusaha bertahan. Tetap dapat berjuang meski hidupnya serba kekurangan. Nh. Dini juga mengajarkan tentang puasa untuk mengetahui sampai di mana dapat mengatur kekuatan diri. Bukan karena agama atau keinginan masuk surga. Dengan berpuasa seseorang dapat menahan keinginan.

Kedua, pernikahan adalah proses panjang mengenali diri sendiri, bukan sekedar tentang kebahagiaan. Orang yang tangguh ialah orang yang memperjuangkan komitmennya. Namun, apabila belum berjodoh dengan seseorang, jangan merasa menjadi orang paling sial di dunia. Apa yang telah dilalui patut disyukuri dan lewati dengan bahagia.

Ketiga, bagi Nh. Dini kesedihan bukan untuk dipampangkan pada semua orang. Kesedihan baginya adalah sesuatu yang harus diimpit-diindit, diselinapkan di balik lapisan penutup. Sebab kesedihan ialah hal yang sangat pribadi sebagaimana rahasia. Harus disembunyikan dari pandang orang lain.

Alih-alih demikian, Nh. Dini menarik perhatian pembaca melalui curahan kesedihan yang panjang tentang hal-hal yang paling pribadi. Sebagai kompensasi terhadap segala kesedihan yang dia tutup rapat. Dengan menjaga semua itu, karakter khas dari karya-karyanya adalah jujur dan orisinal.

Sebagai seorang ibu, didikan perempuan yang memiliki nama asli Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin tersebut juga merupakan sosok yang berhasil. Putranya Padang atau yang lebih dikenal dengan nama Pierre Coffin juga menjadi sutradara film-film Hollywood terkenal: Despicable Me SeriesMinions, Brad & Gary, Gary’s Day, dan teranyar Flanimals.

Meski memiliki anak, Nh. Dini tidak mau merepotkan anak-anaknya. Ia lebih memilih tinggal di sebuah panti wreda di daerah Banyumanik, Semarang. Penyuka nasi goreng itu tinggal di sana atas kemauan sendiri. Berbeda dengan orang tua lainnya yang tinggal di panti karena dititipkan, sang novelis justru menitipkan dirinya sendiri. Alasannya, ia tak mau merepotkan orang lain.

Nh. Dini juga masih sangat mandiri menghasilkan uang dari mengisi acara seminar hingga membimbing skripsi, usia senjanya juga tak menghalangainya sendirian bepergian jauh naik-turun pesawat. Pada tahun 1991 saat Nh. Dini mengisi sebuah diskusi sastra di Australia, seperti yang telah ia tuturkan pula dalam Pondok Baca Kembali ke Semarang (2011):

“Aku menulis tanpa dasar ‘isme-isme’ apa pun. Yang menjadi arah kepengaranganku adalah keadilan. Dengan sendirinya di dalamnya tercakup kemanusiaan.” (Satu Pena)

Dimuat di Sinar Harapan, 04 Februari 2019.

No Comments

Leave a Reply