Search and Hit Enter

Catatan Rakernas I Satupena: Perlunya Ekosistem Kepenulisan

Selama dua hari 13-13 Mei 2018 digelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Persatuan Penulis Indonesia (Satupena) di hotel Morissey Jakarta. Selain dihadiri delegasi anggota Satupena juga nampak memberi pengarahan Deputi Bekraf, Kominfo, Koperasi, dan Kemendikbud.

Dalam pidato pengantar Rakernas I, Ketua Umum Satupena Dr. Nasir Tamara, M.Sc., PhD menyampaikan bahwa Satupena is a writers union, satu wadah profesi berbadan hukum yang meliputi berbagai genre dan menyatukan penulis ekonomi, politik, sejarah, sastra, kuliner, arsitektur, biografi, seni, budaya, agama, dan lain-lain. Kedudukannya sama dengan IDI, PWI, dan sejenisnya. Tujuannya antara lain membela kepentingan penulis, meningkatkan kesejahteraan penulis, meningkatkan kapasitas dan kompetensi penulis, melindungi hak dan karya para penulis, dan penguatan daya tawar profesi penulis.

Tujuan lain kehadiran Satupena yang mendapat penekanan adalah membantu menciptakan ekosistem penulis dan kepenulisan dengan menjembatani beragam kepentingan penulis dalam upaya menciptakan kebanggan sebagai manusia Indonesia. Perlu disadari sebuah fakta bahwa–meski peranan penulis cukup vital dalam tumbuh kembang peradaban bangsa–posisi penulis belum mendapat tempat dan penghargaan yang sepadan dalam konstelasi kebudayaan nasional.

Bukan hal mudah untuk mendudukkan Satupena layaknya Pens Club yang telah diakui dunia. Namun, hal itu bukan berarti tak ada kemungkinan. Setahun Satupena eksistensinya telah diakui oleh pemerintah cq kementerian terkait seperti Kemendikbud, Kemenkop UKM, Kominfo, dan Bekraf. Seperti disampaikan Sekum Satupena Mikke Susanto, M.Sn setahun kehadiran Satupena telah membangun kesepahaman dengan stake holder dan menggelar beragam even kepenulisan dan perbukuan.

Para penulis Satupena juga harus menyadari dinamika zaman yang berciri kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain selalu menuntut peningkatan kapasitas dan kompetensi dengan dukungan lembaga yang memadai, juga perlu untuk beradaptasi dengan inovasi teknologi mutakhir sesuai revolusi industri 4.0 yang berdasarkan pada Internet of Things, robot dan Artificial Intellegence.

Kemajemukan, keragaman, dan kebhinekaan yang merupakan aset dan identitas bangsa merupakan tema raksasa yang bisa didokumentasikan ke dalam beragam genre dan tema buku. Kekuatan bangsa itu bisa hilang tanpa sempat dipelajari dan diberdayakan jika para penulis tak memiliki kesadaran kebangsaan. Pada titik itulah Satupena (perlu) membangun sinergi dan MoU dengan beberapa stake holder di daerah agar kearifan, lokalitas, kemajemukan bisa diselamatkan, ditulis, dan dijadikan sumber pembelajaran anak-anak bangsa di semua level. Di situlah makna menulis adalah kerja peradaban.

Para penulis harus memiliki kebanggaan sebagai penulis sekaligus bangga sebagai anggota Satupena. Ini penting, mengingat tanpa kesadaran akan jatidiri mustahil para penulis bisa dihargai profesi dan kedudukannya. Pengurus Satupena cukup membantu membangun kerangka kerjasama dengan kementerian atau stake holder terkait di level pusat, dan para penulis di daerah tinggal menindaklanjuti melalui kerja sama dengan dinas atau lembaga pemetintah yang ada di daerah masing-masing. Oleh karena itu, perlu dan penting dilakukan penguatan kelembagaan Satupena di daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota.

Dinamika dan karakter daerah yang berbeda-beda memang menuntut adanya inovasi dan kreasi para penulis Satupena dalam menyusun program kerja. Bagaimanapun para penulis adalah pihak yang paling tahu tentang kondisi daerah masing-masing. Suport dan keterbukaan Ketum dalam menahkodai Satupena–yang demokratis– mestinya memang harus segera diimbangi dengan kecakapan dan keseriusan Satupena di level daerah. Ini bisa jadi akan merupakan solusi dari permasalahan yang sempat terlontar dalam Rakernas tentang lemahnya eksekusi program.

Setahun memang waktu yang teramat singkat untuk mengukur eksistensi sebuah organisasi. Namun melihat dinamika Satupena selama setahun ini nampaknya tak ada hal sedikitpun yang membuat kita pesimis. Momentum selalu ada, tinggal bagaimana kita memanfaatkan kecerdikan dan jaringan kerja kita. Benar kata pelukis KP. Hardi yang disampaikan kepada penulis saat makan pagi. Idealisme itu bukan soal menjaga diri dari peluang yang ada tapi lebih bagaimana memanfaatkan peluang sesuai kompetensi yang kita miliki.

Tentu kita tak harus terjebak apalagi menceburkan diri dalam samudera pragmatisme yang sedang menghantam bangsa ini. Yang diperlukan adalah taktis dan cakap dalam membidik peluang dengan tetap mempertimbangkan etika dan moralitas dengan memasukkan nilai keutamaan dan karakter unggul. Dengan aplikasi program sebagaimana rekomendasi revolusi industri 4.0 buku atau produk kita akan ramah pasar. Semoga.

Salam Satupena!

No Comments

Leave a Reply