Search and Hit Enter

Nasir Tamara, Satupena, dan Kerja Peradaban

Kotagede. Jantung peradaban Mataram Islam yang sempat mewarnai sejarah perjalanan bangsa pasca Kerajaan Demak. Berbeda dengan Demak yang bercorak kebaharian, tradisi kekuasaan Mataram bercorak agraris (one village one product) dengan penguatan sisi feodalisme di satu sisi, dan pendalaman khazanah pustaka atau literasi di sisi lain. Sisa-sisa kejayaannya masih bisa ditemukan. Pola-pola kekuasaannya masih diperbincangkan sampai saat ini dan menjadi rujukan saat memperbincangkan Indonesia apalagi era kepemimpinan Suharto. Mahakarya Mataram bisa disaksikan dalam beragam kitab, babad dan situs peninggalan sejarah.

Pada titik kisar itu hadir nDalem Natan. Adalah Dr. Nasir Tamara yang susah payah mencoba membangkitkan kesadaran peradaban itu. Lama dikenal sebagai jurnalis yang bernyali, penulis yang berani, praktisi media terkemuka, dan berbagai peran sosial intelektual, Nasir tak saja mampu melestarikan rumah orang Kalang, kelas menengah yang perannya tak bisa dilepaskan dari kesejarahan Mataram, tetapi juga mampu menjadikan nDalem Natan sebagai pintu masuk peradaban. Kolaborasi Jawa, Timur Tengah, Cina, Eropa (art deco) menghiasi rumah yang megah ini.

Ndalem Natan bukan saja menjadi oase di tengah dinamika kota Yogyakarta yang kian modern, tetapi juga Museum Borjuasi, sebuah kelas yang sementara kalangan hanya mengetahui sebagai bagian sejarah Eropa, yang cukup menjanjikan. Beebagai karya lukis, peta, keramik, dan seni bercita rasa tinggi ada disini. Beragam even seni, sastra dan budaya digelar disini termasuk sebagai pusat kegiatan Persatuan Penulis Indonesia (Satupena) yang dia pimpin. Pelan tapi pasti Natan menjadi rumah budaya dimana beragam kalangan bisa saling bertegur sapa.

Setahun Satupena

Tak mudah mengendalikan organisasi penulis se-Indonesia dari berbagai genre. Apalagi konon penulis adalah kerja individual yang asyik dalam kesunyian. Momentum datang saat dunia perbukuan dihantam beragam permasalahan, mulai tata kelola perbukuan sampai pajak. Sebagai Ketua Umum Satupena Nasir Tamara telah menempatkan diri tidak saja sebagai katalisastor tetapi juga fasilitator. Dua kali tim LIPI datang di Natan untuk bisa bertemu dengan para penulis Satupena. Seluruh hal ihwal perbukuan telah disampaikan. Keluh kesah penulis dalam berhadapan dengan pasar pun telah dikemukakan. Pun diskusi dan pertemuan dengan Kementerian Keuangan di Jakarta dan aktif mensuport program kerja Bekraf.

Natan juga menjadi kawah candradikuka bagi para penulis muda yang mengikuti workshop atau pelatihan hingga mereka membentuk komunitas sendiri. Secara aktif mereka mengikuti program peningkatan kapasitas dan kompetensi untuk mengasah kemampuan penulis.

Dari sisi kelembagaan, Satupena telah secara resmi tercatat di notaris. Artinya, eksistensi dan perannya sudah diakui sehingga sangat dinantikan masyarakat. Satupena juga aktif membuka jaringan kerja dengan kementerian, institusi kepurbakalaan, dan perguruan tinggi. Bagi masyarakat Yogyakarta nama Nasir Tamara menjadi tokoh budaya yang akrab didengar bahkan memperoleh penghargaan dari pemerintah setempat. Kehadiran nDalem Natan bisa jadi merupakan berkah bagi masyarakat Yogyakarta. Penampilan Nasir Tamara yang lugas dan open minded pun mampu mendinamisir iklim seni, sastra, dan budaya.

Bertepatan dengan momen ulang tahunnya, 4 Januari 2018 digelar ramah tamah kebudayaan di nDalem Natan. Shinta dari elemen pelestarian kota pusaka membuka pintu kerja sama dengan Satupena dalam beragam program, mulai penulisan sejarah batik, desa wisata, sampai penyadaran tentang pentingnya membukukan beragam kearifan lokal agar dipahami dan dicintai generasi muda. Salah satu usulan yang mengemuka adalah perlunya diselenggarakan sebuah festival penulis bertepatan dengan rakernas yang mengiringi setahun usia Satupena. Tentu perlu dipikirkan betul positioning sebuah festival penulis mengingat sudah ada even sejenis di Borobudur dan Bali, agar memiliki daya dobrak dan karya nyata di masyarakat.

Harapan dan Tantangan

Kita percaya Ketum Satupena dengan kapasitas dan jaringan kerja yang dimilikinya mampu memfasilitasi sebuah even penulis lintas genre yang tidak saja berbobot tetapi juga berdaya jelajah peradaban yang tinggi. Kolaborasi itu sebuah keniscayaan manakala kita bicara zaman global. Peluang terbuka luas mengingat kebutuhan buku bagi masyarakat (pedesaan) masih jauh dari sempurna. Di beberapa taman bacaan masyarakat (TBM) di DIY masih amat minim koleksi. Di sisi lain, kearifan lokal, khazanah sejarah, dan kekayaan sosio ekologis teramat minim ditulis. Saat kota bergerak sangat cepat, kita tahu apa yang akan terjadi. Desa-desa tergerus modernitas, dan anak-anak tercabut akar kepribadiannya.

Satupena amat menyadari kondisi itu. Selain para anggotanya terdiri atas penulis kampiun dengan karya-karya bermutu, Ketua Umumnya merupakan sosok tangguh dan berkompeten. Dengan jarak yang berjauhan mungkin menjadi hambatan dalam bergerak, tetapi selama ada komitmen dan kesadaran organisasi, rasanya tak ada yang tak bisa dikerjakan oleh Satupena. Hidup itu soal pilihan, dan kita memilih bergabung dengan Satupena untuk melanjutkan kerja peradaban seperti yang dengan mengagumkan telah diteladankan para pendiri bangsa. Generasi pertama kaum pergerakan kita adalah kaum penulis yang tidak saja visioner tetapi juga para penggiat peradaban andal dan membumi dalam laku perjuangan. Saat kondisi bangsa tengah penuh gejolak akibat tsunami sosial dan benturan-benturan kepentingan sesaat, Satupena ditantang untuk memberikan sumbangsihnya dalam ikut mengembalikan arah perjuangan sesuai jatidiri dan kepribadian. Disitulah, kelak, Satupena akan dilihat kiprah dan dedikasinya. Verba vollant, schripta manen. Yang diucap akan hilang ditelan angin, yang ditulis akan abadi.

Semoga.

Salam Satupena!

Oleh Wahjudi Djaja. Sumber Serumpun Sastra

No Comments

Leave a Reply