Search and Hit Enter

Kongres Persatuan Penulis Indonesia (SATUPENA) : “Menulis Untuk Kebhinekaan”

Kesepakatan terbentuknya asosiasi penulis diawali dengan deklarasi gagasan “Organisasi Profesi Penulis Indonesia” di tengah hajatan Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) yang telah digelar di Magelang, Jawa Tengah, pada8 Oktober 2016. Deputi Hubungan Antarlembaga dan Wilayah Badan ekonomi Kreatif (Bekraf), Endah Wahyu Sulistianti, menyambut baik dibentuknya asosiasi ini. Salah satu mandat Bekraf adalah meningkatkan pendapatan para pelaku industri kreatif. Setelah melalui diskusi dan proses persiapan yang cukup matang, pada hari ini di Surakarta (27/4) dibentuklah Asosiasi Penulis Indonesia yang diberi nama Satu Pena. Pembentukan Asosiasi ini digawangi oleh beberapa penulis Indonesia yakni: Imelda Akmal, Nasir Tamara, Hikmat Darmawan, Mardiyah Chamim dan lain sebagainya yang difasilitasi Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) melalui Deputi Hubungan Antarlembaga dan Wilayah.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf, membuka acara Kongres Satu Pena yang dihadiri oleh lebih dari 120 orang penulis di Indonesia. Dalam sambutannya, Triawan Munaf mengemukakan beberapa gagasan yakni: kebebasan yang harus dimiliki oleh setiap penulis agar tetap eksis, Inovasi yang saat ini belum dikaitkan dengan hak cipta serta paten yang dinilai masih kurangbagi para pelaku ekonomi kreatif, Level toleransi dinilai masih kurang dan diharapkan kebhinekaan yang dicetuskan dalam Kongres Satupena untuk dapat tetap mempersatukan. “Dengan jalannya Kongres Satupena ini, diharapkan dapat menjadi tonggak penerbitan Indonesia dan dapat menyatu dalam ekosistem ekonomi kreatif untuk memajukan perekonomian Indonesia” ujar Triawan. “Pemerintah mendukung dan mendorong subsektor yang ada dibawah Bekraf, salah satunya adalah subsektor penerbitan yang didalamnya juga termasuk para penulis”, tambahnya.

Asosiasi ini mewadahi penulis-penulis dari berbagai genre yang berbeda. Diharapkan dapat menjadi pelangi literasi yang kaya dan beragam. Perwakilan dari Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo, menyampaikan dalam sambutannya, “Jangan sampai penulis di Indonesia hilang di tengah revolusi digital”.

Salah satu penulis Indonesia, Dewi Lestari (Dee Lestari), menyampaikan bahwa Satu Pena akan meletakkan banyak batu-batu perdana untuk melangkah satu demi satu. “Kesulitan, friksi dan perbedaan pendapat pastinya menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari”, kata Dee. “Kita bertolak dan melesat oleh kreativitas. Melalui Satu Pena, mari sebarkan dan tularkan semangat itu ke seluruh Indonesia dan dunia”, tambahnya. (Ivn)

SUMBER: Bekraf, 27 April 2017