Search and Hit Enter

MENGHUBUNGKAN MASA LALU, KINI DAN MENDATANG.

 

Mengenang, menggali dan menghidupkan kembali budaya kreatifitas masa lalu adalah kebiasaan baik dan penghormatan pada usaha manusia. Apakah itu leluhur suku tertentu ataupun bangsa tertentu dengan segala perbedaan dan kesamaanya – adalah cermin usaha manusia untuk merayakan kehidupan. Merupakan upaya untuk menghargai apa yang sudah dilakukan para perintis demi mencapai kualitas kehidupan yang manusiawi dan selaras dengan alam. Sejatinya merayakan kekayaan peninggalan budaya dan peradaban manusia atau hasil kreatifitas adalah sikap yang harus dihargai oleh siapapun. Tanpa memilah-milah sedemikian rupa untuk mengunggulkan satu dan merendahkan lainyanya. Apalagi jika mengingat bagaimana kita membutuhkan kehidupan dalam kebersamaan demi kesatuan umat manusia yang terancam terpecah belah dan saling menghancurkan. Entah karena perbedaan ideologi, keyakinan, kebudayaan ataupun hanya sekedar kebiasaan. Namun bisa membawa petaka memilukan: perseteruan, perang dan kehancuran kehidupan yang seperti bisa kita saksikan terjadi di berbagai tempat dan pelosok bumi saat ini. Bagaimana manusia bisa menjadi kejam dan tega, tidak hanya terhadap sesama namun juga pada mahluk lain dan planet bumi yang menjadi rumahnya.

 

Kenyataan

Indonesia tentu tidak terkecuali dalam hal ini. Perpecahan kalangan elit politik dan usaha mereka untuk melindungi diri dari ancaman hukum dan memelintirkanya karena mungkin terlibat kasus korupsi, adalah sebuah kenyataan yang harus diwaspadai. Bagaimana manipulasi wacana politik yang awalnya terdengar mulia dan diwarnai janji tanggung-jawab untuk kesejahteraan bangsa bisa berubah. Dalam kenyataanya menjadi hanya sekedar cara untuk mencari dukungan demi keuntungan pribadi atau kelompok. Begitu pula dengan laku berbisnis yang tak bertanggung-jawab yang telah mengakibatkan hancurnya lingkungan hidup. Mengakibatkan nyaris punahnya hutan tropis ke dua terbesar di dunia karena keserakahan pengusaha dan praktek korupsi aparat pemerintah. Menghilangkan lahan hidup masyarakat adat yang juga berarti meluluh-lantakkan budayanya. Juga telah menyumbang permasalah lain seperti polusi udara, air dan tanah. Selain menambah emisi karbon yang akan memperparah pemanasan global dan perubahan cuaca. Ahirnya akan menyengsarakan bukan saja orang Indonesia tapi juga seluruh penghuni planet ini. Karena dalam kenyataanya kita hidup dalam keterkaitan antara satu dan lainya. Ya, sudah saatnya ide “kedaulatan nasional” kini diperlebar lagi pemaknaanya.

Begitulah, betapa luas dan rumitnya permasalahan kehidupan hari ini. Dipicu oleh sistem keuangan dan industri yang pada awalnya bertujuan untuk mensejahterakan kehidupan lewat modernisasi yang lahir dari masa “pencerahan”. Manusia kini dihadapkan pada kenyataan bahwa usahanya untuk kebaikan tidak selalu berhasil dan malah justru membawa bahaya – atau bahkan petaka. Demikian manusia tak luput dari kesalahan dan harus menanggung akibatnya. Krisis demi krisis keuangan global maupun regional telah membuat kehidupan menjadi tanpa kepastian. Harga barang kebutuhan terus merambat naik sementara ekonomi perlahan mengalami stagnasi atau bahkan penurunan. Jurang antara si kaya yang minoritas dan si miskin yang mayoritas menjadi makin lebar dan menganga. Mengakibatkan masalah ketidak-adilan sosial yang sangat serius dan mengancam hancurnya kerekatan. Korban banyak berjatuhan dan mengakibatkan arus pengungsian yang amat besar ke berbagai tujuan. Menimbulkan masalah sosial politik yang rumit dan berpotensi memicu persoalan yang lebih gawat seperti ambil contoh apa yang terjadi di Myanmar. Dimana umat Islam dan Buddha seakan menjadi bermusuhan.

Semua masalah ini adalah peringatan lebih dari cukup yang harus segera kita tanggapi. Amat sulit memang membayangkan bagaimana mencari solusi dari masalah yang sedemikian rumit ini. Dibutuhkan eksplorasi kreatif yang tak hanya dibatasi oleh kegiatan seni biasa – namun yang bersifat trans-disiplin. Dalam hal inipun tidak dibatasi oleh praktek yang sudah dikenal selama ini. Perlu dibuat terobosan lebih jauh dimana pada dasarnya semua elemen dalam masyarakat bisa diajak berdialog dan bekerjasama. Cara dan metoda “kuno” yang bersifat konfrontatif – biasanya dilakukan pada penguasa atau mereka yang diposisi kuat – mungkin dalam konteks hari ini sudah tidak efektif lagi. Karena memang seringkali hanya menjadi kegiatan sebatas wacana saja kalaupun bukan pemicu kekerasan dan perpecahan! Inilah tantangan garda depan yang utamanya harus dihadapi dalam kebersamaan oleh seniman, ilmuwan, dan rohaniwan. Memadukan dengan cara kreatif bidang dan keahlian berbeda dalam kesetaraan. Menghormati perbedaan namun sekaligus mampu melihat persamaan yang akan menjadi penghubungnya. Sehingga segala potensi dan kemungkinan bisa diberdayakan tanpa dihambat oleh tembok pemisah berupa keangkuhan kekhususan bidang masing-masing.

 

Memacu Kreatifitas

Kembali ke kebudayaan kreatif masa lalu sebagai sebuah contoh model dimana elemen-elemen tersebut diatas bersatu-padu dalam usaha untuk meningkatkan kualitas kehidupan. Bisa dilihat dari peninggalan-peninggalan masa lalu yang tergambarkan di candi-candi kuno baik yang dibuat dari batu maupun terakota atau tembikar yang juga dikenal dengan nama gerabah. Misalnya rumah peribadatan kuno gerabah yang paling tua di Nusantara sampai sejauh yang sudah ditemukan adalah candi Batu Jaya di Jawa Barat (dibangun pada abad 4-5 Masehi). Ini bisa dijadikan contoh bagaimana ilmuwan, rohaniwan, teknokrat dan seniman bekerjasama mewujudkan wadah yang menjadi tempat mengolah kehidupan baik pada tataran spiritual, mental, dan intelektual secara terintegrasi. Sekalipun tempat ini diciptakan dengan teknologi awal yang sederhana namun tak mengurangi nilai dan sistem budaya yang mengintegrasikan segala potensi manusia untuk bisa menjadikan kehidupan lebih beradab dan bermartabat. Hal ini bisa dijadikan bahan renungan didalam konteks budaya dan peradaban modern yang kini menjadi melenceng dari apa yang diharapkan oleh para pembaharu di zaman pencerahan. Yang justru malah menimbulkan petaka bagi umat manusia dan meresikokan kehidupan.

Dalam lingkup dan konteks hari ini kita bisa mulai dengan hal sederhana semisal memulai kembali menghayati cara berkreasi gerabah (tembikar) atau terakota ini. Yang bersifat ramah lingkungan dan murah sehingga bisa dimanfaatkan dan dilakukan siapa saja. Tanpa memandang usia, jenis kelamin, suku, bangsa, maupun warna kulit. Dengan cara kerja yang bersifat komunal maka orang bisa kembali mempelajari dan menghayati kehidupan yang alami dalam kebersamaan dan keterkaitan. Selain memahami sejarah/sejarah budaya, teknologi, aspek sosial politik, aspek ekonomi, dan antropologi budaya secara umumnya. Juga tentunya menyadari kenyataan bahwa alam kini cenderung hanya dipandang sebagai objek belaka. Demikian perhelatan seni Biennal terakota di desa Kasongan, Bantul daerah Istimewa Yogyakarta yang digagas oleh Noor Ibrahim dan Iwan Wijono telah membuka cakrawala kreatifitas yang lebih luas. Masa lalu dan kuno yang sering dianggap kurang penting karena tidak tampak secanggih yang kini, bisa dibongkar dan didaya-gunakan lalu dihubungkan dengan masa kini. Sehingga fantasi dan imajinasi manusia bisa diaktifkan untuk secara leluasa memasuki masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Yang akan memacu lebih jauh kreatifitas tanpa meninggalkan akar budaya serta penghargaan atas keberlimpahan dan keramahan alam.

 

Yogyakarta, 2015

Arahmaiani

 

No Comments

Leave a Reply