Search and Hit Enter

Waktu Imajiner, Ruang Berdimensi 11, dll.

Tentang Pengetahuan-yang-fictive & Keyataan-yang-fictious

Ilmuwan yang berkutat dengan teori bukanlah orang yang patut jadi sumber iri. Karena alam … sungguh tak ramah padanya dan sering sinis atas karya-karyanya. Alam tak pernah bilang ‘Ya’ untuk sebuah teori. Paling banter ia berkata ‘Mungkin’, dan yang paling sering adalah menjawab ‘Tidak’.”

— Albert Einstein

Alam yang tak bisa dipahami, betapun mentah pemahaman itu, sungguh bukan alam yang bisa dihidupi. Lebih tua dari jaman yang telah hilang dari ingatan ummat manusia, hukum itu bahkan sudah mengatur evolusi dan kelangsungan makhluk hidup dalam interaksinya dengan alam yang sukar dan berubah tak menentu. Manusia pertama yang merenung, pasti tahu bahwa bahkan dalam keadaannya yang paling damai dan jinak pun, alam yang dahsyat membentangkan diri dengan banyak gejala dan watak yang amat rumit. Informasi pertama bagi pengalaman manusia sungguh berada dalam keadaan yang begitu kompleks, bahkan kacau-balau.

Menggaris Kenyataan

Kompleksitas data itu mengobarkan dalam benak manusia kerinduan akan penjelasan yang sederhana. Tapi itu bukan kerinduan. Itu naluri, bahkan mungkin lebih karena asalnya bisa dilacak ke dialektika reservasi materi dan energi dengan dorongan intrinsik untuk naik mencapai tingkat tertentu kompleksitas, secara fungsional dan struktural: suatu pencanggihan kombinasi diferensiasi dan integrasi pada dimensi skala, spasial, temporal. Dari sana betul bekerja suatu mekanisme kognitif, suatu tendens apriori dan formal untuk mengatur dan membentuk secara spontan gambaran-gambaran konkret yang menyeruak ke kesadaran ke dalam suatu pola yang teratur, yang mudah dicerna dan gampang dikembangkan, yang membentangkan jalan pada manusia untuk dengan efisien meletakkan dan memetakan diri di tengah kelimunan semesta data dunia. Dari sana pula manusia membentuk suatu prinsip penataan semesta, suatu pandangan dunia dan kerangkan rujukan kosmos, yang tanpanya manusia akan lebih dari sekedar tenggelam dalam, meminjam William James, the blooming buzzing confusion of experiences.

Naluri yang pada level kognitif dan kultural ini menampakkan diri sebagai kerinduan yang melintasi sejarah, bukan sekedar dikonstitusi dalam dasar antropologis makhluk hidup, atau di dasar metabolisme bioorganisme yang bekerja untuk mengorganisasikan kognisi dan informasi. Ia bahkan mungkin sudah dikonstitusi di dasar ontologis semesta raya seisinya yang berevolusi dari suatu kehampaan. Yang pasti, metanaluri itu menampakkan wajah rumitnya sejak dari kebudayaan tua yang pengetahuan dan peradabannya berpusar pada ide kreasi supernatural langit-bumi dan penyelamatan sukma manusia di semesta yang tak berasal dari semesta kita, sampai ke pencari kebenaran kekal di kalangan para filosof religius yang seluruh hidup dan renungannya berurusan dengan pemisahan yang terang dari yang gelap, yang oleh Leibniz disebut perennis quaedem philosophia. Ia muncul pada sastrawan yang terpukau pada kedahsyatan metafora yang hanya dengan sekian aksara dan ruang kosong dapat merangkum sejumlah imaji, informasi dan konsep yang mulanya tampak tak saling berhubungan. Juga pada pemikiran yang mengasalkan keanekaragaman evolusi biologis pada mekanisme algoritmik seleksi alam, dan pada mereka yang terus mencari TOE (theory of everything) yang menyatukan seluruh gaya dasar alam.

Saibernetika, sosiobiologi, dan ekonomi dapat menunjukkan bahwa “kerinduan” transhistoris itu sungguh berkait dengan keharusan makhluk hidup untuk mereproduksi diri melalui alam — yang di tingkat peradaban analog dengan keharusan meme untuk mereproduksi dan mentransmisikan diri melalui kebudayaan — di tengah ancaman kelangkaan dan instabilitas sumber-sumber energi. Di sini berlaku Hukum usaha paling sedikit (the law of the least effort). Bila kondisi-kondisi lainnya tak berubah radikal, suatu sistem lebih suka melaksanakan seluruh kegiatannya dengan mereduksi tingkat pengeluaran energi dan pengelolaan informasi seminimal mungkin. Hukum ini berlaku baik di tingkat metabolisme molekuler maupun di level kognitif.

Hukum itu, bersama dengan dorongan memperoleh gagasan tentang semesta, akan gampang menjebak orang untuk langsung mengajukan pertanyaan-pertanyaan besar dan mencari jawaban reduksionistik yang sekali pukul diharap bisa menjawab semuanya. Itulah jenis jawaban yang jika dibongkar ternyata lebih banyak menjelaskan diri manusia dan prasangka-prasangkanya, bukannya kenyataan alam dan sifat-sifatnya. Pertanyaan besar dan universal di depan kedahsyatan alam, menghasilkan jawaban individual yang lebih banyak memberi daya untuk mengontrol diri sendiri ketimbang mengontrol alam, daya — yang pada analisis terakhir — dimanfaatkan untuk preservasi diri dengan cara membekukan dan mensirkulerkan waktu dan bukan merentang dan menungganginya, semacam tanggapan dunia untuk melindungi masyarakat dari sejarah dan bukannya merayakan dan memproduksi sejarah sebagai medan realisasi potensi diri masyarakat.

Ilmu-ilmu alam, khususnya fisika, tampil jadi kekuatan terbesar perombak jagat karena ia menukar reduksionisme penjelasan yang ambisius ini ke reduksionisme pengamatan yang dipilih dengan ambisi yang lebih terkontrol. Fajar sains modern, tulis Francois Jacob dalam The Possible and the Actual, merekah saat pertanyaan-pertanyaan besar seperti ‘Bagaimana alam raya dicipta?’, ‘Apakah materi dasar semesta?’, ‘Apa sesungguhnya esensi kehidupan?’, diganti dengan pertanyaan yang lebih sederhana seperti ‘Bagaimana sebuah batu jatuh?’ ‘Bagaimana air mengalir dalam sebatang tabung?’ atau ‘Seperti apa perjalanan darah di dalam tubuh?’.

Usia tua bisa disematkan pada kesadaran pentingnya reduksi dalam mencapai tingkat tertentu pengetahuan. Ia ada misalnya di satu episode kecil epos besar Mahabharata, tepatnya pada bagian Arjuna dan saudara-saudaranya belajar menguasai gendewa di bawah bimbingan Dorna. Di sana disebutkan bahwa putera tengah Pandu itu menjadi pemanah unggul karena ia mereduksi, memumpunkan, penglihatannya hanya pada satu titik: leher burung. Bahkan di alam Mahabharata pun ilmu sudah diletakkan sebagai proses yang menuntut pemusatan pikiran, pancaindera dan kemauan, suatu laku yang mirip dengan pembersihan diri — penyingkiran segala macam distraksi yang membuat ikhtiar jadi tak punya fokus.[1]

Jika Mahabharata membubuhkan warna spiritual pada reduksionisme sebagai prasyarat pencapaian pengetahuan, filsuf Inggeris abad 14 William Occam memberi pendasaran estetik sekaligus menjadikannya salah satu standar penilaian atas keabsahan pengetahuan. Bagi William, penjelasan terbaik atas suatu gejala adalah yang paling sederhana, yang disusun di atas sesedikit mungkin asumsi. Prinsip ini, dikenal sebagai Belati Occam, menikam model geosentris Ptolomeus di Abad Pertengahan, tepatnya pada orbit ruwet planet-planet yang mengitari Bumi, yang bisa disederhanakan jika model tata surya meletakkan matahari sebagai pusatnya. Tikaman Occam pada orbit episiklus berspiral model geosentris itu, terjadi beberapa abad sebelum teleskop Galileo membuktikan model heliosentris.

Pergulatan dengan hal-hal kecil dan spesifik menyingkapkan pada ilmuwan satu tingkat ketakjuban tertentu yang dulu dianggap remeh juga oleh Aristoteles, yang justeru kemudian menyibakkan cakrawala pengetahuan yang jauh lebih luas. Teori asal-muasal dan evolusi kehidupan yang diajukan Charles Darwin terutama tumbuh bukan dari sejumlah prinsip dasar, tapi dari pengkajian tekun atas paruh burung dan gigi kuda. Terusik pertanyaan ugahari Edmund Halley tentang bentuk orbit sebuah komet andai betul gaya gravitasi yang menarik sebuah bintang sapu secara proporsional berbanding terbalik dengan jaraknya dari matahari, Isaac Newton tergerak menuliskan karya besarnya: Principia. Hasil dari upaya terbatas kedua ilmuwan ini membuahkan sesuatu yang bersifat “universal”. Hukum Gravitasi Newton dengan baik menjelaskan orbit-orbit planet, bintang-bintang dan galaksi. Teori Evolusi Darwin menjadi payung yang menaungi segenap keanekaragaman bentuk kehidupan biologis. Keampuhan kajian hal-hal yang spesifik untuk mempelajari hal-hal yang lebih umum dipentaskan paling dramatis oleh perkembangan mutakhir fisika partikel, ilmu yang berhubungan dengan struktur paling kecil yang bisa diketahui di alam semesta.

Perhatian yang spesifik dan terpumpun memungkinkan seluruh sumber daya pemikiran bisa menerobos representasi mental masuk mendekati hakekat obyek-obyek. Pada waktunya penerobosan itu akan membersitkan cahaya baru ke kawasan-kawasan paling gelap dalam ruang dan waktu, dan menyingkapkan sederet kemungkinan baru dalam upaya memahami jagat raya. Tetapi, ambisi yang tahu diri ini masih belum berarti apa-apa tanpa bantuan sebuah perangkat lain yang bukan bagian dari ilmu: matematika. Matematika sungguh bukan sains jika sains didefenisikan sebagai bangunan pengetahuan yang disusun atas korespondensi dengan kenyataan: matematika ditata ketat menurut asas konsistensi logis. Yang menarik adalah bahwa konsistensi itulah yang kelak menobatkan matematika menjadi ratu ilmu pengetahuan.

Rangka Matematis

Pentingnya matematika dalam menopang sains dinyatakan dengan baik oleh salah seorang datuk sains, yang karyanya Dialogue Concerning the Two Chief World Systems (1632) dianggap genesis ilmu fisika — Galileo Galilei:

Buku alam tertulis dalam bahasa matematika, … dan aksaranya berupa segitiga, lingkaran dan lain-lain bentuk geometris, tanpa mana manusia mustahil dapat memahami satu kata pun dari bahasa alam ini. Tanpa semua itu orang ibarat berkelana dalam sebuah labirin yang gelap gulita.”

Ada nuansa metafisis memang dalam kalimat Galileo itu. Sampai sekarang pun orang tetap belum sepakat bulat mengapa alam fisik yang sedemikian rumit bisa juga dipahami secara rasional. Pernyataan epistemologis Einstein yang paling banyak dikutip dunia adalah, “the most incomprehensible thing about the universe is that it is comprehensible.” Komprehensibilitas kosmos yang membingungkan terbentang pada realitas fisis yang tampak begitu mudah terbujuk membuka sebahagian rahasianya dan mengikuti kehendak manusia jika diucapkan dalam bahasa matematika, bahasa dengan sebuah kekuatan yang di masyarakat primitif pernah diharap datang dari mantra.

Phytagoras dan kaum Platonis menganggap bilangan, persamaan matematik, adalah struktur dasar tatanan kosmik. Matematika tidaklah diciptakan manusia, tapi ditemukan atas dasar kemurahan hati realitas yang mau menyingkap sebagian karakter intrinsiknya.[2] Setiap konsep matematis seperti grup dan set, segitiga dan titik, bilangan dan bahkan infinitas, sungguh eksis di luar sana tak tergantung pada kehadiran manusia: ia bukan kreasi rasio tapi manifestasi kodrat alam. Manusia hanya mencoba mengabstraksikannya dengan meletakkan kebenaran matematis pada korespondensi antara hakekat obyek-obyek abstrak tersebut dengan sistem simbol matematika manusia. Dengan demikian, entitas-entitas matematis dapat dipakai sebagai bahasa untuk berkomunikasi dengan makhluk-makhluk asing yang berasal dari galaksi lain karena mereka pun niscaya akan menemukan struktur matematis sebagaimana manusia Bumi, kendati mungkin mereka mengekspresikannya dengan sistem simbol yang berbeda.

Di kutub lain kaum konseptualis — dengan argumentasi Kantian — menganggap matematika murni ciptaan manusia. Mazhab yang populer di kalangan sosiolog tapi yang secara naluriah ditolak banyak pelaku matematika, menandaskan bahwa manusia membuat aturan stuktur, simetri dan pola-pola matematis lalu mendesakkan dunia masuk ke dalam cetakan itu. Tak peduli bahwa das Ding-an-sich secara intrinsik berwatak matematis seperti keyakinan kaum Platonis, kita bisa mengalaminya demikian karena itulah satu-satunya cara yang mungkin. Alam telah menanamkan matematika di benak manusia sejak dalam perjalanan adaptasi evolusioner. Manusia mengasah kemampuannya merumus dan memanipulir simbol-simbol abstrak dengan sangat efektif karena dibangun di atas hal-ihwal yang sungguh eksis di dunia fisik, dalam sejarah yang dijalani manusia. Karena itu matematika, tak dapat diandalkan menghadapi fenomena-fenomena baru di luar pengalaman sehari-hari, di luar dunia manusiawi. Sebab matematika adalah mutlak produk khas makhluk Bumi, tak ada jalan bagi manusia memakai konsep-konsep matematisnya berkomunikasi dengan makhluk Andromeda.

Mazhab formalisme tumbuh di awal abad ini, ketika para logikawan menyibak sejumlah paradoks. Saat itu muncul sekian pembuktian matematis yang menegaskan keberadaan obyek-obyek partikular, namun yang tak dapat dikonstruksi secara eksplisit dalam suatu jumlah langkah yang terbatas. Entitas-entitas logis itu muncul sebagai sebuah konsekuensi sifat-sifat koleksi tak terhingga obyek-obyek, ketika diandaikan bahwa kumpulan tak terbatas obyek-obyek tersebut tunduk pada suatu logika yang sama dengan yang mengatur koleksi obyek yang terbatas. Masalahnya adalah bahwa himpunan obyek tak terbatas sungguh tak dapat dicapai, karena selalu bisa ditambahkan sampai kapanpun. Kaum formalis mencoba mengatasi ini dengan program memurnikan matematika sebagai semata-mata permainan manipulasi simbol menurut suatu aturan tertentu. Matematika dengan begitu hanya tertarik pada relasi antara obyek matematis dan aturan-aturan yang menatanya, dan menganggap irrelevan pertanyaan tentang apakah obyek yang dimanipulir punya suatu makna intrinsik. Juga tentang keterkaitan antara dunia alam dengan struktur matematis. Sebagai suatu permainan relasi antar obyek, investigasi matematis hanya punya satu tujuan: merumuskan swa-konsistensi sejumlah aksioma agar dapat diterima sebagai titik awal penyulaman jaringan logis simbol-simbol, di mana sebuah teori matematis hanya bisa dipahami (intelligible) justeru ketika ia nirmakna (meaningless).

Mazhab intuisionisme lahir juga sebagai reaksi pengunaan konsep-konsep non-intuitif dalam pembuktian matematis. Untuk menghindari pembangunan segenap area matematis di atas asumsi di mana himpunan-himpunan takberhingga berbagi sifat “nyata” dengan himpunan-himbunan berhingga, diusulkan bahwa hanya kuantitas-kuantitas yang bisa disusun dari bilangan-bilangan alam dalam suatu jumlah langkah logis yang terbatas yang dapat dianggap terbukti benar. Setiap langkah secara terang menentukan langkah logis selanjutnya. Aturan penyusunan inilah yang membuat intuisionisme disebut juga konstruktivisme. Intuisionisme membela ide bahwa apapun yang berada di luar pengalaman harus dikonstruksi dari unsur-unsur paling sederhana melalui sebuah sekuen langkah yang secara intuitif dikenal. Kaum intuisionis punya kesejajaran tujuan dengan beberapa mufassir teori kuantum, khususnya Bohr dan Heisenberg. Kedua tokoh kubu Kopenhagen ini memperkenalkan pandangan baru kuantitas fisis dan matematis yang menceraikan mereka dari “realitas obyektif”, di mana sebuah pengukuran kuantum hanya mencerminkan keadaan pengetahuan seseorang atas kenyataan fisis. Sebuah formula matematis, menurut mazhab intuisionis, cuma mendiskripsikan satu set komputasi yang dilaksanakan untuk mencapai formula itu, bukan representasi dari suatu realitas apapun yang hadir secara independen dari suatu tindak komputasi.

Apapun pandangan tentang status genealogis dan hakekat dasar matematika, ia tidaklah punya pengaruh terhadap — atau justeru berasal dari — fakta kemampuan matematika membantu manusia menggaris lebih panjang dan lebih dalam permukaan kenyataan. Kemampuan menggaris itu muncul antara lain karena dalam hal bahasa matematika, ada sesuatu yang konon dipersoalkan Heidegger sebagai calculability and certitude of representation, sesuatu yang memungkinkan kita bisa berkata seperti Humpty Dumpty, tokoh ajaib Lewis Carroll dalam Through the Looking Glass: Jika aku gunakan sebuah kata, (:sebuah persamaan matematis) maka itu berarti apa yang aku maksudkan, tak kurang, tak lebih. Matematika memberi ilmu pengetahuan sebuah bahasa yang transparan dan telah kehilangan seluruh rahasia ontologisnya sehingga memungkinkan munculnya makna yang tunggal dan stabil, dan dengan demikian mampu merepresentasikan pikiran dan kenyataan yang teramati secara tegar. Sebagai bahasa tingkat kedua, matematika telah dimurnikan dari sifat acak bahasa yang absolut, sebelum adanya figurasi dan makna, atau dengan figurasi dan makna yang terus berubah bersama mobilitas tanda linguistik seperti pada bahasa tingkat pertama: bahasa sehari-hari.

Di dunia di mana kelimpah-ruahan dan ambiguitas makna diunggulkan, matematika akan berada pada kutub yang berhadapan diametral dengan bentuk tertinggi bahasa tingkat pertama: puisi. Dalam matematika, tanda bahasa boleh berubah-ubah dan beraneka namun artinya sudah tertetap dan tertentu. Dalam puisi, ada banyak arti meskipun tanda-tandanya tertetap dan tertentu. Apalagi jika tanda-tanda itu, atau sekedar susunannya saja, berubah. Sajak, meminjam Octavio Paz[3], adalah suatu totalitas pekat-kental, dan perubahan paling kecilpun sudah mengubah bukan saja arti tapi juga keseluruhan komposisi. Dan puisi, seperti ditulis Goenawan Mohamad, tak cuma kata, tak cuma kalimat, yang menuntut kita melotot. Ia juga nada, bunyi, bahkan kebisuan, juga elemen ketidaksadaran, atau, jika kita setuju dengan Freud, ungkapan yang terbentuk dari dorongan-dorongan naluri.[4] Di sini puisi niscaya akan tampil sebagai pahlawan dengan kualitas ilahiah memperkaya dan bahkan mentransendir bahasa, sedang matematika akan tampak sebagai penjahat dengan kemampuan satu-satunya memiskinkan dan membunuh bahasa dengan menyedot darah kelimpah-ruahan dan ambiguitas makna darinya.

Namun, jika sebuah bangunan matematis dihadapi dalam suasana stimmung a la Nietzche, yang — kembali meminjam dan meringkas rumusan Goenawan Mohamad[5] —semacam suasana afektif nada-nada, yang ada dalam diri seseorang ketika puisi dicipta, dan yang bila berhasil dihidupkan kembali dalam suatu sajak dan prosa akan membangun suatu kualitas estetik yang menyentuh – bangunan matematis yang memang meniatkan membebaskan diri dari infeksi sejarah, mengosongkan diri dari fungsi ruang dan waktu, juga sanggup untuk membuat orang mendengar gagasan di belakang simbol matematis itu, intuisi di belakang gagasan itu, dan Nalar di belakang intuisi itu: Nalar yang berbicara pada manusia dan dunia lewat formulasi tipografis matematikawan. Stimmung, saya kira, jelas akan mengubah keindahan matematis — yang dalam pandangan Bertrand Russell hanyalah keindahan yang dingin dan sederhana yang tak memancing reaksi dari hakekat manusia yang lemah, tanpa jeratan yang memukau — menjadi keindahan yang hampir setingkat revelasi, penyingkapan kekuatan rahasia logika di hadapan kenyataan.

Adalah kekuatan rahasia tersebut yang menjadikan matematika bahasa yang mampu memberi ilmu kekuatan untuk mengontrol dunia fisik, untuk mengatasi kenyataan. Tetapi sebelum sampai pada kemampuan itu, matematika terlebih dahulu menyumbangkan kekuatannya memberi kerangka pada pengetahuan. Ilmu mencoba memperoleh pengetahuan tentang kenyataan fisik, namun hal itu takkan berguna kalau tak tersusun kokoh, rapi dan anggun. Selain ketunggalan makna, bantuan terbesar matematika terhadap ilmu adalah tersusunnya kepingan-kepingan pemikiran tentang alam fisis dalam suatu struktur deduktif yang mirip dengan bangunan geometri Euclides.

Struktur dari suatu teori ilmu tertata dalam satu kesatuan oleh serangkaian deduksi matematis. Di sini, suatu teori dapat dilihat sebagai suatu cabang matematik yang aksioma-aksiomanya menyatakan hubungan kuantitatif antara berbagai konsep fisik. Adapun strukturnya adalah serangkaian deduksi, dan teoremanya merupakan pembuktian matematis atas konsep-konsep tersebut. Struktur seperti ini, ditambah dengan pemberian bilangan kepada obyek dan gejala, memungkinkan sebuah teori mendiskripsikan gejala dengan akurat, menjabarkan konsekwensi dan memprediksikan kenyataan secara deduktif. Dari sini, matematika memberi ilmu kerangka perkasa dan elegan untuk mengorganisasikan data dan memprediksikan peristiwa yang sejauh ini belum mungkin dicapai dengan cara lain. Dan matematika tingkat tinggi yang sekali waktu dianggap hal yang paling tidak praktis dari segenap kegiatan manusiawi, dengan segenap ketakmasukalan logis dan kekisruhan perdebatan ontologis dalam dirinya sendiri, kian mengukuhkan diri sebagai alat tak tergantikan dalam memahami dimensi kolosal dan kerja grandeur alam semesta seisinya.

Kenyataan Sebagai Penuntun

Konseptualisasi penalaran yang berkolaborasi dengan deduksi dan kuantifikasi matematis, betapapun pentingnya dalam riwayat pertumbuhan pengetahuan, baru seperempat ilmu pengetahuan. Aktifitas yang biasa disebut berteori ini dengan bagus diletakkan kodratnya oleh Einstein seperti terbaca di awal tulisan ini. Dalam pesan yang diterakan di sebuah buku kenangan untuk ulama pemenang Nobel fisika 1913, Profesor Kamerlingh-Onnes, Einstein menggemakan kearifan melihat ilmu pengetahuan sebagai fiksi di mana ilmuwan senantiasa dituntut untuk terus mengingat kefiksian itu. Untuk tak terperosok dalam skandal tolol menjadikan pengetahuan ilmiah nama lain Kebenaran.

Peringatan itu penting karena secara epistemologis kegiatan berteori saja menyimpan bahaya. Berteori, atau secara luas berpikir, kemampuan yang oleh Spinoza dinobatkan sebagai atribut ilahiah pada manusia, pada dasarnya adalah mengklasifikasi, dengan memasangkan relasi dan oposisi, lalu menata data dengan ekuasi, kombinasi dan permutasi. Dunia datang mengepung manusia tidak dalam bentuk-bentuk yang terpaket dalam kategori-kategori yang sudah jadi. Manusialah memang, dalam banyak cara, yang membuat kategori tersebut, yang kemudian dipakainya mengklasifikasi dunia. Tetapi untuk mengklasifikasi gejala sesuai dengan kategori yang dibuat, manusia harus membuang sejumlah informasi dari gejala-gejala itu. Inilah bahaya intrinsik berpikir, yang juga menjadi asal mula watak fiktif pengetahuan.

Pembuangan informasi mengakibatkan bahwa tindakan untuk mengetahui, meminjam Stuart Kauffman, mengandaikan tindakan untuk mengabaikan, untuk tidak mengetahui. Kian enteng pemahaman yang dituju, kian banyak informasi yang perlu dibuang, atau kian sembrono kategori yang dibikin, yang bisa berakibat kian totaliter watak pengetahuan yang dihasilkannya. Untuk sekedar sebuah teori yang menyenangkan, yang langsung bisa dipakai untuk menerangkan dan mengubah dunia, manusia betul bisa tergoda dengan enteng mendistorsikan ingatan dan persepsi, mengkonseptualisasikan sebuah kejadian bahkan sebelum ia membenturkannya dengan kenyataan. Pembuangan informasi sebagai bagian intrinsik penyusunan pengetahuan hanyalah salah satu keterbatasan rasio. Keterbatasan lain adalah bahwa otak manusia, dari segi pemrosesan informasi, secara umum ternyata adalah prosesor primitif yang buruk yang hanya bisa memikirkan satu hal untuk satu periode waktu tertentu. Jika pada sejumlah jenius dan pemikir besar tertentu ada terlihat kemampuan luar biasa memikirkan banyak hal secara simultan, itu terjadi karena periode pengolahan serial informasi untuk masing-masing hal sangatlah pendek dibanding dengan yang terjadi pada manusia umumnya.

Dengan dua keterbatasan itu saja, kekerasan kognitif bisa dengan mudah muncul dan akan berawal dengan pengorbanan keanekaragaman kualitatif dari pengalaman, dengan merudapaksa the blooming, buzzing confusion of the natural state into so many abstract grids.[6] Di satu sisi, rudapaksa ini – yang sesungguhnya juga terjadi dengan dimensi yang lain pada seniman yang merudapaksa sebongkah bukit jadi Budha – sesungguhnya adalah langkah jenius pikiran dalam evolusi. Yang membuat Homo Sapiens sangat ideal bagi evolusi kecerdasan ke tingkat yang lebih tinggi adalah kemampuannya menyimpan dan mempertukarkan informasi. Sekali sebuah pengamatan dunia, sebuah kemajuan dalam menghadapi lingkungan, berhasil dikonversi ke dalam simbol-simbol, ke dalam so many abstract grids, dengan mudah ia diakses dan disebar sesering yang diperlukan. Matahari peradaban pun naik di horison sejarah.

Masalah rekah saat pemikiran mulai melupakan dirinya secara permanen, saat manusia menangguhkan pengetahuannya bahwa konsep, simbol dan segala macam produk kognitif itu sungguh hanya hasil encoding manusia atas kenyataan, bukan kenyataan itu sendiri. Dari amnesia epistemik ini, konsep yang dinaturalkan dan persepsi kenyataan empiris yang dipiuhkan, yang biasanya berselingkuh dengan trauma kekerasan dan ketakutan yang terpendam jadi sedimen di bawah-sadar, bisa dengan mudah menelikung logika, menundukkannya jadi korban bagi sukma yang terpojok. Dalam kecanggihannya menyusun ide untuk menghadapi tekanan dunia, sang sukma pun menyelundupkan penghianatan pada solidaritas segenap hidup dan ekspresi positif pembebasan manusia. Peradaban telah mengenal setidaknya dua akibat kolosal pemikiran yang melupakan dirinya dan abai pada kenyataan empirik. Pertama, keterkungkungan masyarakat primitif dalam waktu sirkuler yang membekukannya untuk menolak sejarah dengan akibat adanya kekerasan historis atas kognisi. Kedua, eksploitasi waktu linier yang menghasilkan kekerasan sistematis dalam sejarah dan pertikaian membara peradaban modern yang senantiasa berawal dengan kekerasan kognitif atas sejarah.

Karena otak Homo Sapiens belum berevolusi sejak otak manusia pertama yang tepekur di depan Gua Cro-Magnon, tata kerja mentalnya belum banyak berubah. Adalah benar untuk menggugat pandangan yang mengatakan sistem pengetahuan masyarakat-masyarakat primitif, pengetahuan-pengetahuan lokal, tak berasal dari satu tata kerja mental yang canggih. Lewat Levi-Strauss, kita tahu bahwa suku-suku primitif menyusun pengetahuannya dengan cara dan tujuan yang hampir sama dengan saintis abad 20: yang pertama menyusunnya untuk mengatasi kontradiksi, untuk menerobos yang mentah dan yang dimasak, yang natur dan yang culture; yang kedua untuk memecahkan problem buat mengkorespondensikan imajinasi dan realitas, tapi dengan catatan bahwa pemecahan terbaik ialah yang lalu membangkitkan problem-problem terdalam dan paling tak terduga. Pemikiran pada bangsa-bangsa yang disebut primitif memang punya tatanan yang juga logis, kendati disusun dari pemikiran konkret yang bekerja pada taraf inderawi. Hukum mite, contohnya, di mana di dalamnya logika menguraikan yang tak berhadap-hadapan dengan realitas dan koherensinya semata-mata koherensi formal, cukup mirip dengan hukum yang berlaku pada logika simbolis: jika nama-nama dan mitem diganti dengan tanda-tanda matematik, maka mite beserta varian-variannya — kendati yang paling kontradiktif sekalipun — dapat dipadatkan jadi satu rumus.

Fisikawan paling jenius sekalipun juga menyusun pengetahuannya dengan cara yang mirip. Contoh menarik adalah Murray Gell-Mann, “penemu” quark, partikel fundamental yang ia namai seenaknya, konon setelah ia mendaras novel yang dianggap salah satu tonggak sastra modern: Finnegans Wake. (Neologisme quark ia bikin dari kalimat Joyce “Three quarks for Muster Mark!”) Pada dekade 1950-an, kala berhasil menghidupkan akselerator berenergi tinggi, para fisikawan dikejutkan oleh kelimunan zarah yang bermuncratan dari inti atom. Sebelumnya, anggapan bahwa inti adalah susunan rapi yang cuma terdiri dari beberapa bagian sederhana, diterima luas sebagai paradigma yang bahkan diyakini akan mengkhatamkan fisika. Muncratan zarah yang luar biasa banyak dan serba aneh dari inti, menggelontor kuyup impian itu dan mendorong mereka mengumumkan “krisis dalam fisika”. Gell-Mann menggondol Nobel antara lain karena upaya menemukan sebuah sistem klasifikasi dan tatanan yang menyatukan ratusan macam partikel yang bermuncratan itu. Ketika sukses menyusun sistem klasifikasi partikelnya, Gell-Mann menamainya eight-fold way, kali ini dipinjam dari kisah delapan jalan dharma Buddha menuju Nirwana (ada juga yang bilang nama itu diambil dari kedelapan bilangan kuantum dalam fisika nuklir).

Dari gaya pemberian nama itu saja, Gell-Mann telah tunjukkan kecenderungan yang dekat dengan langkah kognitif pernyataan suatu gagasan kompleks, tidak dengan analisis, atau penyebutan langsung, melainkan dengan persepsi seketika atas suatu relasi obyektif. Gell-Mann memang sekedar pinjam nama. Ia tak sampai menarik dan membaurkan dua (atau lebih) cakrawala pengalaman dan kognisi ke dalam suatu relasi baru yang mengaktifkan imajinasi mencari nuansa-nuansa pengertian dan membentangkan horison pemaknaan yang lebih luas dan lebih tinggi. Namun, pemberian nama itu adalah benih dari suatu cara kerja mental yang dikenal sebagai pembentukan metafora dalam arti yang seluasnya. Jika masyarakat primitif menyusun metaforanya dengan memakai pengalaman indrawi yang kemudian memberi obyek-obyek tanda intelektual, Gell-Mannn menggunakan erudisinya yang ia timbun dalam gudang abstraksinya. Tapi bukan cuma kecenderungan ini yang membuat cara kerja mental kosmolog mirip dengan para dukun masyarakat primitif.

Betapapun tampak ruwetnya, zarah-zarah atom berhubungan satu sama lain. Zarah-zarah itu mungkin berevolusi dari satu pangkal yang sama, seperti halnya segenap makhluk hidup yang berasal dari sebentuk leluhur purba. Tapi sebelum Darwin dapat merumuskan teori evolusi biologis, lebih dahulu orang-orang lain harus menggolong-golongkan makhluk hidup itu ke dalam jenis-jenis berdasarkan kemiripan dan perbedaan. Kerja klasifikasi yang sama — yang di masyarakat primitif menghasilkan totemisme, suatu cara klasifikasi metaforis yang memanfaatkan obyek-obyek sensous — dibutuhkan juga untuk zarah inti, dan itulah yang dengan baik disajikan oleh “jalan delapan dharma”.

Jika pengetahuan diandaikan sebagai sistem saibernetik, maka pengetahuan dan strategi berpikir masyarakat bricoleur adalah sistem saibernetik yang masukannya berasal dari apa yang dicerap indera. Padahal orang sungguh tak harus belajar geologi, Marx, Freud atau Levi-Strauss untuk paham bahwa realitas yang spontan tercerap oleh indra manusia, kerap berasal dari suatu taraf yang lebih mendalam, yang tak tercerap jangkauan sempit indra. Karena ditata melulu di atas persepsi realitas yang spontan, sistem ini memerlukan waktu untuk menyadari bahwa konstruksi kognitif yang dihasilkan oleh strategi berpikir itu bisa juga dimaterialkan dan diumpankan balik, di-reentry-kan ke dalam sistem itu, suatu kegiatan kognitif yang dalam literatur filsafat disebut refleksi dan dalam sibernetika disebut referensi diri.[7] Meski demikian, setelah bekerja ribuan tahun, ditopang oleh suatu mekanisme non-linier yang muncul dalam pemikiran sejumlah jenius purba, sistem bricoleur bisa juga menghasilkan sistem pengetahuan, saripati perenungan dunia, yang hanya bisa diremehkan oleh mereka yang tahu apa-apa.

Selain karena masukannya yang jauh lebih luas dari apa yang bisa dicerap spontan indera manusia, pengetahuan ingeniur mengubah dunia dengan radikal dalam waktu begitu singkat terutama karena kesadarannya mengumpan-balikkan dirinya ke dalam dirinya sendiri, yang terus memberi wawasan baru ke dalam semesta kenyataan. Referensi diri yang bertanggung jawab terhadap pertumbuhan, atau tepatnya peledakan, pengetahuan ilmiah secara eksponensial ini jadi sumber revolusi pemetaan kognitif dan perangkaan rujukan kosmologis manusia. Keyakinan bahwa segenap kenyataan bersifat mutlak metafisis dan tak terjangkau dan karena itu tak mungkin dirubah karena manusia tak punya akses terhadapnya, berubah jadi premis bahwa kenyataan sesungguhnya bersifat fisis yang meskipun terus menerus berubah, tetap mempertahankan sejumlah sifat tertentu yang memungkinkan pengetahuan manusia memprediksikan keadaan realitas di masa depan. Peta kenyataan fisis ini terus meluas, mendesak, merombak dan merangkum peta kenyataan metafisis. Bahkan kenyataan yang masih potensial – tersembunyi bukan semata karena tipisnya jangkauan indera manusia tapi terutama karena memang begitulah yang dimungkinkan oleh konteks dunia yang original – bisa aktualkan, dihadirkan ke permukaan, dibikin dari ketiadaan. Metafisika pun akhirnya jadi tanda untuk hal ikhwal, obyek-obyek, kawasan realitas yang tengah antri gemetar menunggu giliran disingkap cadarnya oleh pengetahuan ilmiah.

Aktualisasi kenyataan potensial yang mustahil muncul dalam dunia orijinal hanya bisa terjadi karena tumbuhnya kesadaran yang tak lagi memandang realitas sebagai sesuatu yang tak boleh diusik demi keselamatan manusia sendiri; kesadaran pembimbing pengetahuan yang mendapatkan kekuatan dan kebesarannya lewat penghadapan, pergulatan dan intervensi ke dalam realitas. Sistem klasifikasi Lipat Delapan yang secara independen ditemukan oleh Yuval Ne’eman, seorang bekas perwira angkatan laut Israel, tak saja berhasil menata kelimunan zarah hadron yang membingungkan. Ia juga memberi jalan pada fisika memprediksi dan mengaktualkan keberadaan partikel Omega minus yang tak mungkin ditemui dalam dunia original. Kita mungkin masih ingat pada ramalan Saussure akan munculnya semiologi yang belum muncul pada jaman Saussure sendiri, atau (contoh yang lebih berusia panjang) pada kotak-kotak kosong tabel unsur Mendeleyev yang disiapkan sebagai lokus bagi unsur-unsur tertentu yang mustahil ditemui di alam bebas, tapi yang kelak dibuat manusia lewat rekayasa nuklir.

Ilmu modern memang dengan sadar meletakkan hidup matinya pada kenyataan fisis, pada lapisan-lapisan penanda dengan referen yang bisa diuji, dan itu membuatnya baru bergerak beberapa langkah dari pengetahuan primitif menyuruk masuk ke jantung kenyataan dan ke dalam dirinya sendiri. Jika ilmu adalah bayi yang lahir dari kegelapan epistemik dan kekacau-balauan data, maka ilmu manusia yang paling mutakhir kini layak disebut masih dalam taraf bayi ingusan yang baru merangkak dan mulai sadar akan dirinya dan kehadiran orang lain. Jika dulu dalam tahapannya yang primitif, ia cuma bisa menyentak-nyentak dalam tidur historis dan mengeak mengekspresikan diri dengan logika indrawi, kini ia mulai merangkak mengobok tanah sejarah dan memetakan dunia dengan logika konseptual. Ia masih jauh dari dewasa, dan karena itu masih sangat bisa menemu dan mencapai hal-hal yang bukan main mencekam.

Fictive dan Fictious

Dalam perjalanannya merangkak membuntuti kenyataan kosmos, sains mengisi tiga dekade pertama abad 20 dengan menyeret dunia melihat munculnya tiga teori yang membongkar pandangan manusia atas realitas jagat raya dan akhirnya tentang ilmu pengetahuan itu sendiri. Eksplorasi masih terus dilakukan ke dalam ketiga teori itu bersama upaya besar memadukannya jadi tunggal. Ketiga teori itu, kita tahu, adalah Relativitas Khusus (lahir 1905), Relativitas Umum (1915) dan Mekanika Kuantum (sekitar 1926). Einstein, jelas berperan paling banyak dalam penciptaan teori pertama, bertanggung jawab sepenuhnya untuk teori kedua dan memberi kontribusi penting dalam pengembangan teori ketiga.

Teori Kuantum dirumuskan bersama oleh sekelompok fisikawan internasional, termasuk Max Planck, Einstein, Niels Bohr — ketiganya mengerjakan mekanika kuantum lama —ditambah Louis de Broglie, Erwin Schrodinger, Wolfgang Pauli, Werner Heisenberg dan Paul Dirac — kelimanya membentuk mekanika kuantum baru. Mereka ini, bersama puluhan fisikawan dari berbagai bangsa, menjalin kekuatan yang melampaui batas-batas politik untuk membangun – dalam kalimat Fritjof Capra — salah satu periode yang paling mempesona dalam sejarah ilmu pengetahuan. Periode itu tak hanya dibikin meriah oleh pertukaran-pertukaran intelektual yang gemilang, tetapi juga oleh sikap keras kepala dan keterbukaan pada sistem pengetahuan baru yang mengkristal dalam konflik-konflik manusiawi yang dramatis dan persahabatan-persahabatan pribadi yang mendalam; kemeriahan yang berkelindan dengan kegirangan menegangkan dan ketakutan menekan melihat implikasi radikal paradigma kuantum.

Dianggap sebagai puncak pencapaian tertinggi pengetahuan manusia, sebagian orang juga menganggap mekanika kuantum sebagai penyebab utama ditiupnya sengkakala kematian ilmu. Baik anggapan pertama, apalagi yang kedua, semuanya bisa digugat. Yang pasti adalah mekanika kuantum dengan sangat baik menegaskan status pengetahuan yang fiktif dan hakekat kenyataan yang fictious.[8] Teori kuantum sungguh satu lompatan besar yang merevolusi pandangan sains modern tentang kenyataan, yang memberi makna baru pada sebuah filsafat antik yang dirumuskan bagus di Inggeris, tanah lahirnya empirisme, bahwa “reality is far more fictious than fiction”, bahwa “the subtlety of nature is greater many times over than the subtlety of argument.”

Werner Heisenberg, perumus Prinsip Ketakpastian, dalam komentarnya tentang interpretasi Kopenhagen atas teori kuantum yang dipelopori Neils Bohr, menunjukkan bahwa tafsir itu, dan ilmu pengetahuan dalam arti luas, berawal dari sebuah paradoks. Setiap eksperimen dalam fisika, entah yang merujuk pada gejala kehidupan sehari-hari atau pada fenomena atom, mesti dijelaskan dalam istilah-istilah fisika klasik. Konsep fisika klasik membentuk bahasa yang dengannya kita menerangkan susunan eksperimen kita dan status hasil-hasil eksperimen itu. Kita tak dapat dan tak bisa mengganti konsep-konsep klasik itu dengan yang lain. Padahal, ketakpastian membuat penerapan konsep-konsep ini jadi terbatas. Kita harus ingat keterbatasan jangkauan ini pada saat mempergunakannya, dan kita tak dapat dan tak seharusnya mengingkari keterbatasan itu.

Sampai di sini, konstatasi Heisenberg atas keterbatasan perangkat itu, tidaklah menunjuk hal yang istimewa. Jauh sebelumnya, para penyair, penari, pelukis dan pemusik juga bergulat dengan keterbatasan; dengan keterbatasan kosa kata, gerak tubuh, warna dan nada-nada yang indrawi, untuk menghasilkan sesuatu yang lebih dari sekedar susunan kalimat, tata gerak, pola kromatik atau bunyi-bunyian – sesuatu yang punya efek yang dengan menyingkapkan paradoks dunia dan ilusi manusia, dengan tiba-tiba membentangkan bahkan membikin sebuah dunia baru atau menghadirkan dunia lama yang terkubur di mana mereka yang bersedia masuk kedalamnya juga menjadi manusia baru, setidaknya menjadi ia yang bukan lagi ia yang sebelumnya.

Kesejajaran teori kuantum dengan seni juga terdapat pada kesadaran hubungan antara manusia dan realitas. Contoh bagus ada pada kanvas dalam kanvas René Magritte, The Human Condition I (1933). Alam yang tertangkap pengamatan ilmiah bukanlah alam dalam dirinya sendiri. Ia alam yang tersingkapkan kepada metode penyelidikan. Kerja ilmiah dalam tlatah fisika terdiri atas mengajukan pertanyaan tentang alam dalam bahasa yang dimiliki dan mencoba memperoleh jawaban dari eksperimen melalui alat-alat yang tersedia. Di sini teori kuantum mengingatkan, sebagaimana Bohr tegaskan, kebijakan tua bahwa ketika memburu harmoni dalam kehidupan, ingatan harus aktif bahwa dalam drama eksistensi, manusia sekaligus adalah pemain dan penonton. Dalam relasi ilmiah dengan alam, aktivitas kita jadi sangat penting, ketika harus berhubungan dengan bagian-bagian alam yang dapat kita penetrasi hanya dengan menggunakan peralatan kita yang sejauh ini paling rinci.

Tapi dengan segala keterbatasan dan aturan yang mustahil ditampik itu, dengan Superrealisme berupa kepatuhan pada hukum besi ketakpastian (uncertainty), ketaktentuan (indeterminacy) dan keacakan (randomness) yang berkuasa di struktur terdalam kosmos, mekanika kuantum justeru jadi teori ilmiah paling ampuh dengan konsistensi internal yang sangat kokoh. Karya teoritis Heisenberg sangat sesuai dengan interpretasi statistik Max Born atas fungsi gelombang de Broglie-Schrödinger, misalnya. Ketiganya menopang konsistensi internal itu. Memang, seperti ditunjuk Interpretasi Kopenhagen, konsistensi internal itu harus dibayar dengan memakzulkan determinisme dan obyektivitas dari dunia natural, sekaligus menyingkapkan betapa naifnya akal sehat dan logika yang inheren dalam bahasa jika berhadapan dengan realitas kuantum. Tapi, harga itu yang justeru ikut membebaskan manusia dari delusi “kebenaran absolut”, melepaskannya dari cengkraman reduksionisme ideologis dan distingsi metafisis Cartesian antara manusia dan alam, tubuh dan kesadaran, pengamat dan yang diamati, dst. Kebenaran serba-absolut tak lain dari buah strategi kognitif untuk membuat hidup dan kenyataan khaotik jadi lebih bisa dihadapi.

Asas ketakpastian Heisenberg bahkan memperkuat kegemaran manusia akan jangkauan bebas. Ia memberi ruang kemungkinan bekerjanya sel-sel kelamin tempat gen-gen mengusung keberlangsungan hidup manusia, dan bekerjanya sel-sel syaraf tempat pengetahuan ilmiah ditata dan imajinasi dilambungkan menembus batas-batasnya sendiri. Asas ketakpastian bukan saja membebaskan manusia dari gagasan purba bahwa jalan hidup telah ditetapkan sepenuhnya sebelumnya. Asas ini bahkan menegaskan bahwa kalaupun ada yang disebut takdir maka itu adalah takdir bahwa manusia sendirilah sungguh yang mentakdirkan takdirnya lewat ruang kemungkinan yang terbentang luas. Manusia memang dikerjai untuk bebas. Sedemikian luas dan dalam implikasi filosofis teori kuantum, sampai kini pun para ilmuwan terdepan dunia, para mufassir kuantum belum pernah sepakat “apa itu teori kuantum” sesungguhnya.

Karena jasa kuantum, dunia mendapat perangkat teoretis eksplorasi inti atom, dan lahirlah fisika nuklir. Dasar-dasar pelepasan energi peluruhan radioaktif terpahami dan dimengertilah sumber energi bintang-bintang, dan astrofisika jadi disiplin ilmu modern. Dipelopori oleh Schrödinger lewat kajian tentang hereditas dan thermodinamika yang menelurkan konsep negentropi, pendekatan kuantum pada genetika membawa penemuan struktur DNA dan RNA, dan jadilah biologi molekuler sokoguru revolusi genetika. Teori kuantum juga membuka jalan bagi kajian transistor, mikrochip, gelombang cahaya dan arus listrik pada tempratur rendah yang memungkinkan munculnya kriyogenika, teknologi laser dan revolusi informasi. Selain membawa manusia melakukan kontak dengan komponen-komponen baru kode kosmik — hukum semesta yang baka — yang memprogramkan perkembangan evolusi manusia, teori kuantum jadi kompleks gagasan dengan implikasi praktis yang belum ada padanannya dalam sejarah.[9]

Dengan teori kuantum, fiksi yang dituntun dan digiling oleh realitas itu, atom dengan seluruh rinciannya yang begitu pelik dapat diketahui, hingga studi tentang atom sendiri — bagi sementara ilmuwan — seakan dapat dikatakan hampir sudah. Pencarian unsur-unsur materi fundamental telah bergeser pada akselerator partikel raksasa untuk menguji obyek-obyek jutaan kali lebih renik dari atom, buat mengkonfirmasi rahasia alam yang samar-samar diisyaratkan lewat imajinasi ilmuwan, yang sejarah hidupnya terbawa lengkap pada setiap jumput materi. Pada ujung lain, para kosmolog jadi agak lebih yakin dengan pengetahuan mereka tentang bagaimana alam semesta bermula sekitar 15 milyar tahun silam, dan tentang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi beberapa mikrodetik setelahnya. Belum semua aspek evolusi kosmik telah dipahami memang, namun keyakinan akan “kebenaran” hukum-hukum fisika semesta yang diketahui kini kian mantap dengan kian mudahnya dilakukan pengamatan lebih rinci pada gelombang optis, radio, sinar –x, dan sinar kosmik.

Dari sisi sains sendiri, ia tampak kian bersemangat, kian terjamin kekuatan dan jangkauannya untuk membentuk nasib sosial politik peradaban kita, lebih dari keadaannya di masa silam. Ada memang sejumlah hambatan, terutama bersifat eksperimental, yang untuk sementara menahan kemajuan sains, khususnya fisika. Sedemikian kuatnya hambatan eksperimental ini, ada yang bilang bahwa fisikawan kini tak lagi melakukan fisika,[10] dan fisika sudah merosot jadi sekedar cabang dari estetika di mana sebuah teori paling tinggi mentok sekedar jadi sebuah ekspresi artistik Ini terutama terjadi pada teori Superstring, teori yang sejauh ini jadi kandidat terkuat TOE (Theory of Everything): ia terpaksa harus puas dengan koherensi struktur matematis elegan tingkat tinggi yang korespondensinya dengan realitas alam belum bisa diuji dengan tingkat kesadaran, pengetahuan dan teknologi planet bumi saat ini.

Dalam pergulatannya menyingkap hakekat terdalam kenyataan fisis, setidaknya ada dua jalan yang dilakukan oleh sains mutakhir, dua jalan yang — seperti selalu — saling memilin, saling menembus. Yang pertama adalah terus mengeksploitir kekuatan imajinasi dan sambil mememperluas kekuatan bahasa matematika. Yang kedua adalah mencipta alat-alat bantu yang bisa mensimulasikan secara virtual dinamika kenyataan, di mana kenyataan yang paling sering disimulasikan adalah kehidupan biologis, kesadaran dan pikiran. Yang pertama melepaskan diri dari waktu dengan mengkaji habis dimensi ruang dari skala yang paling besar ke skala yang paling kecil. Yang kedua membingkai dan membekukan ruang seluas ruang bumi saja, tapi kemudian menceburkan diri ke dalam waktu dengan mengkaji sebanyak mungkin variabel gayut waktu yang menghadirkan kenyataan pada batas antara khaos dan tatanan, kompleksitas dan kesederhanaan.

Yang pertama terutama bergelut dengan kenyataan yang tak dapat dicerap indera manusiawi baik karena skalanya yang luar biasa besar maupun yang bukan main kecilnya. Yang kedua umumnya bergulat dengan kenyataan yang langsung bisa dicerap oleh pengalaman inderawi namun tetap membingungkan dan memaksa ilmu bergerak lebih jauh memasuki cakrawala dunia kode yang justeru tak lagi melulu berada di bawah yurisdiksi pengalaman spontan, logika linier dan intuisi manusiawi. Untuk kajian realitas yang tak tercerap indera, contoh jelas datang dari dua keturunan mekanika kuatum: kosmologi kuantum yang antara lain ditekuni Stephen Hawking, dan Superstring M-Theory dengan tokoh utama antara lain Edward Witten. Jika Hawking dan gerombolan kosmolognya yang terserak di seluruh dunia bergelut dengan meletakkan pikirannya di luar ruang-waktu untuk mengetahui awal mula alam semesta, Witten dan komplotannya yang tak kalah bertebarnya meletakkan pikirannya sebelum waktu-ruang untuk mendapatkan Teori Pamungkas yang menjelaskan penciptaan semesta raya seisinya.

Hawking memang meroket karena kajiannya tentang radiasi black hole, tetapi yang membuatnya banyak diperbincangkan orang adalah idenya yang ia sebut sebagai usulan alam semesta nir-batas (no-boundary proposal). Teori kosmos ini dibangun di atas ide jumlahan sejarah (sum over histories) dan waktu imajiner. Richard Feynman mengembangkan ide jumlahan sejarah, berupa teknik integral lintasan, untuk menangani problem posisi elektron yang tersebar rata dalam atom hingga tak dapat diukur serentak posisi dan kecepatannya dengan teliti. Dalam jumlahan sejarah, suatu elektron tak hanya punya satu jalur tunggal, seperti dalam teori klasik, tapi diandaikan mengikuti semua jalur yang mungkin dalam ruang waktu, dengan tiap sejarah ini dikaiti sepasang bilangan: satu menyatakan ukuran gelombang, yang lain menyatakan posisi dalam fase. Ide penting ini — yang berkaitan dengan tafsir baru antara masa lalu dan masa depan, dan yang mengusulkan antimateri adalah sebagai materi biasa yang bergerak mundur dalam waktu — pertama kali dilontar Feynman pada 1964 dan tercantum dalam buku The Character of Physical Law, terbit setahun kemudian. Yang menarik, 23 tahun sebelumnya, terbit kumpulan fiksi Jorge Luis Borges Taman Jalan Setapak Bercecabang (1941) yang antara lain berkisah tentang seorang gubernur cendekia Tiongkok, Ts’ui Pen. Ia mengunci diri di Paviliun Kesunyian Bercahaya untuk membangun sebuah labirin waktu yang adalah sebentuk bayangan tak sempurna, meski juga tak menyimpang, dari alam semesta sebagaimana yang ia pahami; sebuah semesta yang berbeda dari bayangan Newton dan Schopenhauer karena di dalamnya ada deretan waktu yang tak terhitung banyaknya, waktu-waktu yang berkembang membentuk rangkaian, memancar, memusat dan sejajar. Jaringan waktu-waktu ini, yang satu sama lain bisa saling mendekat, memecah, mencabang, dan tak saling menyadari selama jutaan abad, menyangkut segala kemungkinan tentang waktu ke masa depan yang tak terhitung jumlahnya.[11]

Ide jumlahan sejarah Feynman yang mirip persepsi waktu Ts’ui Pen digunakan dengan cerdik oleh Hawking untuk membuat alam semesta bisa dijelaskan seluruhnya oleh ilmu pengetahuan. Mula-mula ia meruangkan waktu lewat piranti matematis bilangan imajiner, bilangan yang bahkan oleh Leibniz si penemu kalkulus dianggap membingungkan dan diberi kualitas mistis: manifestasi dari ruh ilahi, sebentuk amfibi antara being dan not-being. Kita tahu, bilangan imajiner adalah bilangan yang bila dikuadratkan menghasilkan bilangan negatif (di jaman Al-Khawarizmi bilangan negatif juga dianggap membingungkan karena memang kurang dari ketiadaan). Dengan bantuan waktu imajiner, jumlahan sejarah memungkinkan Hawking mengkoordinatkan waktu. Perbedaan arah waktu dengan arah ruang melenyap: waktu meruang dan ruang waktu eksperiensial yang terdiri dari tiga dimesi ruang dan satu dimensi waktu berubah jadi ruang berdimensi empat. Ruang super ini melengkung membentuk permukaan tertutup, tanpa tepi tanpa tapal batas (no-boundary). Waktu, dengan demikian, hadir tanpa awal tanpa akhir, dan sejarah semesta – dari big bang menuju big crunch – jika ruang super berdimensi empat diilustrasikan secara dua dimensi, dapat dipandang sebagai suksesi geometris tiga dimensi dan konfigurasi medan materi spasial.

Secara epistemologis, model ini benar-benar menopang sains karena ia menegaskan hukum-hukum sains berlaku di semua ruang dan waktu. Tak ada singularitas-singularitas di mana hukum-hukum itu tak berlaku. Jagat raya semacam ini ada dengan sendirinya, tanpa prasyarat sesosok Pencipta seperti yang dibayangkan oleh kosmogoni agama-agama besar manusia, dan itulah implikasi teologisnya. Dalam persamaan probabilitasnya, teori kuantum memprakirakan bahwa partikel-partikel atomik dapat muncul di tempat-tempat yang tak diperkenankan oleh mekanika klasik. Prinsip ketakpastian mengijinkan adanya fluktuasi kecil pada energi sebuah sistem dalam selang waktu yang amat singkat, sehingga dalam selang sekejapan 10 exp –30 detik, sebuah elektron dan sebuah positron dapat muncul dari ketiadaan tanpa peringatan, bertemu kembali untuk kemudian melenyap lagi. Penciptaan dari ketiadaan ini terukur jelas di laboratorium. Hukum-hukum kekekalan sama sekali tak melarangnya, dan ketakpastian Heisenberg membuatnya niscaya.

Tak kelewat gampang memang membuat relasi mental antara bentuk nir-bats sebutir bola dengan setiap konsep yang bermakna dari suatu jagat raya empat dimensi nir-bats. Tetapi, seperti dipapar Hawking bersama Jim Hartle, usulan keadaan nir-bats dapat menghasilkan prediksi-prediksi yang pasti mengenai bagaimana jagat raya semestinya berperilaku. Karl Popper tentu akan bilang ini teori ilmiah yang baik. Memang, secara negatif dapat juga dikatakan bahwa usulan keadaan jagat raya yang ditentukan dari jumlahan sejarah tak tunggal yang meruangkan waktu, mirip seorang mabuk mencari sebatang kunci di bawah tiang lampu: tempat itu mungkin bukan tempat ia menghilangkannya, tetapi, apa boleh buat, itulah satu-satunya kawasan terang di mana batangan kunci dapat terlihat; jagat raya mungkin tak mengalami keadaan seperti yang didefenisikan pikiran dan imajinasi ilmiah, tetapi inilah satu-satunya keadaan yang dapat diprediksikan sains — dan dapat difalsifikasi — tentang bagaimana jagat raya seharusnya.

Implikasi luas usulan jagat raya Hawking, membuat pers dunia sering mengaitkan kerjanya itu dalam upaya besar pencarian Teori Semesta. Padahal karya Hawking tak berada dalam arus utama dari upaya tersebut dewasa ini, arus besar yang dipimpin oleh Superstring. Teori yang melibatkan cukup banyak fisikawan dan matematikawan terkemuka di seluruh dunia ini, sudah ditaburkan benihnya sejak dekade pertama abad 20. Ia memang merajalela di gelanggang fisika mutakhir antara lain karena kontribusi seorang mantan mahasiswa sejarah dan wartawan politik, teoritikus yang oleh sementara kalangan dianggap punya pemikiran matematis terbesar sejak Newton.

Pada awalnya, Edward Witten berkonsentrasi mencipta model superstring yang merupakan representasi yang masuk akal atas dunia nyata. Kelak ia berubah pikiran dan berkesimpulan bahwa cara terbaik untuk maksud itu adalah dengan membongkar “asas-asas geometris inti” teori Superstring. Asas-asas ini analog dengan geometri non-euclidean yang dipakai Einstein membangun Relativitas Umum. Upaya Witten mengejar ide itu menceburkannya ke dalam topologi, sebuah cabang matematika yang mengaji sifat-sifat geometris fundamental benda-benda, tanpa menghiraukan bentuk dan ukurannya yang partikular, sambil menguji apakah buhul-buhul (knots) obyek yang tampak beraneka ragam dapat ditransformasikan dari satu bentuk ke yang lain tanpa menyobeknya. Di ujung dekade 80-an Witten mencipta teknik gabungan topologi dan teori medan kuantum yang memungkinkan matematikawan menyingkap simetri-simetri antara buhul-buhul berdimensi tinggi yang mengerikan kusutnya. Selain Fields Medal, hadiah paling prestisius dunia matematika, teknik baru yang ia sebut sebagai “karyaku yang paling memuaskan” itu, memberi Witten perangkat kognitif untuk memperkokoh konstruksi teori superstring menjadi sebuah “keajaiban” yang dia ramalkan akan memdominasi fisika sepanjang paruh pertama abad 21.

Bagi Witten, segenap gagasan besar dalam ilmu fisika sesungguhnya adalah spin-off dari Superstring. Di planet Bumi, teori-teori perkasa fisika ditemukan menurut urutan ini: Relativitas Umum, Teori Medan Kuantum, Superstring dan Supersimetri — yang terakhir ini adalah sebuah konsep yang antara lain mendapat kontribusi besar dari Abdus Salam dan memegang peran vital dalam teori Superstring. Selain menyediakan sebuah kerangka di mana keempat gaya fundamental alam bisa ditunggalkan, supersimetri juga mentransformasikan koordinat ruang-waktu sedemikian rupa sehingga hukum-hukum fisika dapat berlaku sama bagi semua pengamat. Semua ini muncul dengan elegan dalam sebuah hyperruang berdimensi 11 (4 dimensi pertama adalah 3 dimensi ruang dan 1dimensi waktu yang sangat akrab dengan indera kita yang selama ratusan ribu tahun telah mengkonstitusikan cara manusia memandang dan menghidupi alam semesta).

Witten yang tampaknya mewakili kalangan ilmuwan yang yakin bahwa kenyataan dan pengetahuan yang bersifat tunggal dan kekal, yang percaya pada kesatuan pemikiran makhluk cerdas, sekali waktu berkata, bahwa jika memang ada sejumlah peradaban maju di alam semesta ini, keempat ide besar itu pasti juga ditemukan, meski mungkin didapat dengan urutan yang berbeda. Apapun makna dari keyakinan tentang pengetahuan dan kenyataan yang bersifat tunggal dan kekal, yang pasti bahwa pada 1995, para pemburu TOE kembali membuat langkah maju. Di sebuah ceramah monumental di Universitas Kalifornia Selatan, dengan sekali tarik Witten menyatukan karya-karya dualitas-T, dualitas-S yang adalah ekivalen dualitas-T untuk dimensi lain, dan superstring di bawah payung M-theory berdimensi 11. Teori-M juga bergantung pada ide supersimentri, di mana string sebagai obyek dimensi tunggal disempurnakan jadi membran dimensi dua.[12]

Dualitas-T yang berkait dengan dua jenis partikel yang muncul ketika seutas string melilit sebuah dimensi kompak, punya implikasi teoritis besar. Selama sekian dekade, pakar fisika bergulat memahami alam pada skala luar bisa kecil mendekati panjang Planck pada 10 exp –33 cm. Telah lama dianggap bahwa hukum alam, seperti yang kita tahu, remuk pada skala yang lebih kecil dari panjang Planck itu. Yang diimpliksikan oleh dualitas-T adalah bahwa pada skala tersebut, alam dan hukum-hukumnya tampak seperti pada skala besar. Orang lalu membayangkan bahwa jika jagat raya tergulung lebih kecil dari panjang Planck, ia akan mengalami transformasi menjadi sebuah semesta rangkap yang akan tumbuh lebih besar bersamaan dengan mengecil dan ambruknya semesta yang pertama.

Bersama Petr Horava, Witten menunjukkkan jalan menyusutkan dimensi ekstra teori-M menjadi satu segmen garis. Hasilnya adalah dua alam raya berdimensi 10 (masing-masingnya berada di ujung garis tersebut) yang dihubungkan oleh sebuah ruang waktu berdimensi 11. Partikel-partikel — dan string — ada hanya pada alam raya paralel pada ke dua ujung, yang dapat berkomunikasi satu sama lain hanya lewat gravitas. Di samping prediksi penyatuan seluruh gaya fundamental pada skala energi yang bisa dieksperimenkan, paling tidak bisa dihitung persis, visi ruang-waktu Witten-Horava juga dapat menjelaskan paradoks black hole yang dilontarkan Hawking. Teori-M memberi kerangka menghitung besaran entropi yang menyebabkan lubang hitam memancarkan radiasi, dengan nilai besaran yang persis sama yang diramalkan Hawking.

Teori-M juga menjanjikan penyelesaian salah satu soal terbesar teori string: adanya jutaan cara yang berbeda untuk mengerkah ruang berdimensi 10 menjadi 4. Ada banyak prediksi yang bersaing tentang bagaimana sesungguhnya semesta nyata berjalan — saking banyaknya sehingga sama nilainya dengan tidak ada sama sekali. Menurut teori-M, kehadiran lubang hitam sungguh mempengaruhi ruangwaktu, memungkinkan satu ruangwaktu dengan satu bilangan lubang internal tertentu untuk berubah jadi yang lain dengan sebuah jumlah lubang yang berbeda — suatu semesta yang melanggar hukum-hukum klasik topologi. Jika seluruh ruang waktu berhubungan dengan cara yang demikian, mendapatkan sebuah ruangwaktu yang tepat akan jadi masalah yang lebih bisa ditangani. String pada akhirnya memilih ruang waktu yang, katakan saja, memiliki energi terendah dan menempatinya, di mana undulasinya akan menghasilkan partikel-partikel dan gaya-gaya fundamental yang kita kenal — ialah alam raya nyata.

Teori-M tak saja memungkinkan penjelasan tentang bagaimana semesta ruang waktu kita terbentuk dan ada seperti dicerap oleh pengalaman manusia. Ia juga mengguncang Teori Big-Bang, sokoguru terbesar kosmologi modern yang dulu ikut dipopulerkan oleh Hawking bersama Penrose. Dengan segala suksesnya menjelaskan demikian banyak gejala kosmologis, teori Big-Bang punya bolong besar pada rajutan teoritisnya: apa sesungguhnya yang tejadi sebelum Dentuman Besar. Dengan teori Big-Bang, persoalan tentang apakah yang sejatinya menghasilkan densitas dan tekanan yang kemudian membawa ledakan yang tak terkira itu, tertinggal tanpa suatu penjelasan ilmiah yang mungkin. Umumnya soal ini akhirnya diserahkan pada tafsir religius.

Menurut Teori-M, semesta raya mungkin telah memulai hidupnya jauh sebelum Dentuman Besar meledak membentuk semesta ruangwaktu. Dengan kata lain, ada sebentang periode sebelum Big-Bang, ada waktu sebelum waktu. Kosmologi Teori-M sebagai alternatif teori standar Big-Bang, ditopang oleh dua hal: keberadaan suatu partikel/medan baru yang disebut dilaton dan simetri-simetri yang saling berkaitan yaitu dualitas yang sudah disinggung di atas, yang memodelkan semesta pra-Big-Bang terdiri dari sebuah “cerminan” atau imaji ganda dari semesta kita sekarang. Karena itu, pada awal yang sangat awal, seperti dikatakan Gabriele Veneziano, semesta raya sungguh menyerupai semesta yang sekarang dengan satu pengecualian mencolok: semua gaya dasar semesta kekuatannya jauh lebih kecil ketimbang yang sekarang.

Ringkasnya, kosmologi Teori-M dengan konstruk fase ganda semesta raya, menyebabkan bahwa sifat-sifat semesta seperti yang teramati sekarang tidaklah muncul bersamaan dengan ledakan besar yang terjadi belasan milyar tahun yang silam itu. Penrose sendiri dalam bukunya The Emperor’s New Mind, sudah menyatakan Dentuman Besar bukanlah awal semesta raya. Ia bahkan menulis bahwa sifat-sifat jagat raya saat ini secara natural muncul dari sejarah panjangnya sebelum Dentuman Besar. Bagi dunia fisika, skenario pre-Big-Bang menyediakan sumber-sumber baru kehadiran gelombang gravitasional kosmik dan medan-medan magnetik primordial. Bagi dunia awam, teori ini niscaya akan mengubah pemikiran manusia tentang masa silam dan masa depan. Dan jagat raya, di masa depan yang sangat jauh mungkin tak akan mengalami keruntuhan, tapi akan terus menerus berekspansi.

Seperti apapun sesungguhnya semesta raya itu, yang pasti adalah bahwa kehidupan, sekurangnya yang kita kenal, memang hanya dapat ada dalam kawasan ruang-waktu yang di dalamnya satu dimensi waktu dan tiga dimensi ruang tak tergulung begitu kecil, tapi terhampar nyaris tanpa batas. Teori-M memungkinkan adanya jagat raya semacam itu. Bisa jadi betul ada kawasan lain dari jagat raya, atau ada jagat raya lain (apapun mungkin artinya itu), yang di dalamnya semua dimensi mengeriting sedemikian kecil atau ada lebih dari empat dimesi yang hampir datar. Namun, dalam kawasan-kawasan semacam itu takkan ada makhluk cerdas untuk tahu bukan saja jumlah dimensi efektif yang berbeda itu, tapi juga memahami takdir dirinya dan alam raya, lewat pikirannya yang merangkum segenap alam raya tersebut.

Jika upaya penyingkapan tabir rahasia alam semesta dengan memburu batas-batas terjauh ruang dan waktu adalah sebuah kosmos pengetahuan tersendiri, maka di salah satu ujung kosmos ini berkembang sebuah kosmos pengetahuan lain, semacam kosmos cerminan yang kehadirannya dihubungkan dengan kosmos pertama lewat imajinasi, tepatnya lewat eksplorasi imajinasi atas dirinya sendiri, atas kemampuannya merangkum segenap kosmos yang ada. Kosmos cerminan itu selama sekian dekade terakhir hendak dipahami isinya dan didekati batas-batas horisonnya lewat riset tentang pikiran manusia dan tentang kompleksitas: dua bidang riset yang dasar-dasar epistemologisnya telah disusun oleh Alan Turing si bapak kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan John von Neuwman si patriark kehidupan buatan (artificial life).

Ada dua hal yang jadi perhatian besar kompleks pengetahuan di atas. Pertama, dan yang terpenting, adalah medium irreversibel yang dengannya hal-ihwal bisa terjadi: waktu. Hukum gerak yang secara tradisional dipakai menjelaskan prilaku materi pada aras mikroskopik, tidaklah membedakan arah waktu. Tapi kita mengalami kecenderungan kulit yang mengeriput, ide-ide yang melapuk dan peradaban yang meluruh yang menunjukkan bahwa pada aras makroskopik, bekerja satu arah waktu tertentu. Paradoks irreversibilitas yang muncul dari sebuah dikontinyuitas antara dua aras penjelasan itu, memungkinkan mekarnya tatanan keluar dari khaos.

Hal kedua adalah nonlinearitas, sesuatu yang bisa membuat sebuah peristiwa kecil pada satu level organisasi menghasilkan efek besar pada level yang sama atau yang berbeda. Inilah yang tejadi pada umpan balik positif, yang membuat nada yang diamplifikasi menjadi deru yang memekakkan, atau pada kecenderungan atom-atom Plutonium untuk terpecah selama suatu reaksi ledakan nuklir berantai, serta pada meledaknya sebuah paradigma yang beku akibat penyingkapan sebuah penemuan yang menggoncangkan yang memberi cahaya baru pada segenap penemuan sebelumnya. Pendek kata, nonlinearitas menghasilkan sesuatu yang kompleks dan seringkali tak terduga, sebagaimana yang terjadi pada puisi besar yang adalah bentuk permainan dengan bahasa secara nonlinier. Perpaduan antara irreversibilitas dan nonlinieritas inilah yang tampaknya memungkinkan munculnya di sudut kosmos otak manusia yang sejauh ini adalah contoh tertinggi kompleksitas yang dicapai oleh evolusi biologis.

Kemunculan kesadaran dan kecerdasan adalah epik besar tentang peningkatan kompleksitas yang rinciannya berproses secara non-linier. Model kosmogoni Big-Bang yang banyak diterima kini memandang semesta raya sebagai sistem yang sederhana dan homogen, yang kemudian jadi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi dalam tahapan yang berturutan: setelah sejumlah “pematahan simetri” akibat penurunan tempreatur semesta, medan materi energi primordial berkondensasi menjadi empat gaya dasar dari sejumlah keluarga partikel elementer yang kita kenal kini. Partikel-partikel ini seterusnya berintegrasi, pertama menjadi nukleon, kemudian jadi atom hidrogen. Pada saat yang nyaris bersamaan, materi dalam ruang kosmos yang terdistribusi kurang lebih homogen, berkondensasi secara lokal, membentuk suatu distribusi heterogen bintang-bintang dalam galaksi, dalam kluster. Akibat panas dan tekanan, hidrogen dalam rahim bintang membentuk unsur-unsur lain yang berbeda-beda lewat reaksi nuklir. Unsur-unsur yang lebih berat yang terlepas dari rahim bintang kemudian saling berkombinasi lewat reaksi kimia membentuk beraneka ragam molekul. Di bawah kondisi yang tepat, molekul-molekul ini akan membentuk siklus reaksi disipatif, yang pada langkah berikutnya dapat memekarkan bentuk bentuk kehidupan biologis primitif. Dari sana kehidupan bergerak naik menjadi kognisi yang sanggup memikirkan dirinya sendiri yang di abad 20 mengkristal jadi sains kognitif, sebuah bidang besar yang berasal dari leburan setidaknya enam disiplin pengetahuan: filsafat, kecerdasan buatan, antropologi, linguistik, psikologi dan neurosains.[13]

Meski punya masa silam ontologis yang panjang, sejarah pembangunan epistemologis sains kognitif relatif masih cukup pendek. Pembangunan itu bisa dilacak pada perkembangan sains dan teknologi di akhir abad 19 sampai dengan pertengahan abad 20. Adalah Gottlob Frege, yang dengan memasukkan manipulasi simbol-simbol abstrak, memperkenalkan sebuah bentuk baru logika yang melampaui logika penalaran silogistik yang menguasai dunia ilmu sejak Aristoteles. Kemudian datang Russel dan Whitehead. Dengan mencoba mereduksi hukum-hukum dasar aritmetik ke sejumlah proposisi logika elementer, mereka mewariskan pengaruh yang tak terhapuskan kepada generasi pemikir matematis yang berupaya membangun jembatan kokoh antara logika-matematik dan komputasi. Pengaruh itu paling tampak pada Norbert Wiener dan Neumann – keduannya secara paralel menggarap sintesis sibernetik yang memadukan matematika, logika dan sistem syaraf. Dan pada Claude Shannon yang membangun Teori Informasi berdasar anggapan bahwa sirkuit listrik dapat meniru operasi-operasi fundamental pikiran manusia. Bersama dengan kajian tentang model-model neuronal dan sindrom-sindrom neuropsikologis, teori informasi dan sibernetik bisa dianggap sebagai yang paling bertanggungjawab atas lahirnya revolusi kognitif.

Peristiwa terpenting revolusi kognitif jelaslah penemuan konseptual mesin komputer lewat deskripsi matematis Alan Turing pada 1950. Komputer digital pertama — dikenal sebagai mesin Turing Universal — dibangun beberapa tahun kemudian. Bersama ilmuwan lain, Turing mengira bahwa mesin-mesin ini dapat diprogram melaksanakan tugas-tugas “intelektual” kompleks, setidaknya meniru proses-proses mental yang tadinya hanya bisa dikerjakan manusia. Sebagai tanggapan atas usaha-usaha yang oleh para perintisnya disebut Kecerdasan Buatan ini, para filosof mulai merumuskan pendekatan baru pada problem purba tentang relasi antara pikiran dan otak, tentang determinasi kategori mental dan lingkaran hermeneutik, perimbangan antara pengetahuan empiris dan pengetahuan apriori, keterkaitan antara pengetahuan abstrak dan pengetahuan spesifik, dll. Memang, persoalan awal yang dieksplorasi adalah analogi khusus yang diajukan AI: relasi pikiran dan otak analog dengan relasi program dan komputer. Pengertian bahwa pikiran secara esensial adalah entitas mirip program yang dieksekusi di otak, tentu saja mengobarkan debat filosofis tentang hakekat kegiatan mental. Isu yang diangkat antara lain: mungkinkah komputer dapat benar-benar memahami bahasa, atau benarkah komputer “punya” pengalaman sadar sebagai hasil dari eksekusi program yang betul.

Gagasan serupa bahwa aktivitas mental dapat dijelaskan sebagai pemrosesan informasi muncul di wilayah psikologi pada saat yang bersamaan. Pengaruh penting datang dari proposal Newell dan Simon bahwa sebuah program komputer adalah sebuah teori psikologis tentang bagaimana manusia mengerjakan tugas yang disimulasikan. Kalangan psikolog lain juga mengeksplorasi ide pemrosesan informasi sebagai jalan untuk memecah cengkraman behaviorisme. Kaum behavioris yang telah menjajah psikologi selama sekian dekade, mengklaim bahwa obyek-obyek kajian yang cocok untuk psikologi ilmiah hanyalah perilaku yang jelas, dan dengan demikian setiap referensi dikesampingkan sebagai semata-mata keadaan mental internal. Pendekatan pemrosesan informasi menegaskan bahwa kegiatan mental dapat dianggap sebagai suatu struktur operasi untuk mengkonstruksi dan mentransformasikan representasi internal dan memberikan satu jalan kokoh di mana kegiatan-kegiatan mental dapat dispesifikasi secara ketat dan diuji secara ilmiah. Akibat pergeseran paradigma ini, pemrosesan informasi menyisihkan bahaviorisme sebagai kekuatan dominan dalam psikologi.

Ide yang berkaitan juga merevolusi ilmu linguistik, diawali dengan penerbitan buku penting Chomsky, Syntactic Structure, pada 1957. Buku ini menawarkan satu pendekatan transformasional kepada grammar di mana “struktur permukaan” suatu pernyataan berasal dari suatu “stuktur dalam” unit-unit linguistik primitif melalui satu seri kaidah transformasi. Struktur formal transformasi ini berkaitan erat dengan keadaan terbatas automata dalam teori komputasional dan pendekatan pemrosesan informasi dalam psikologi. Ide-ide Chomsky dalam linguistik, filsafat dan psikologi kemudian mengilhami banyak pakar yang karya-karyanya disunting Jerry Fodor dan Jerrold Katz dalam The Structure of Language (1964). Dari antologi inilah antara lain — bersama dengan antologi kumpulan Edward Figenbaum & Julian Feldman (Computer and Thought, 1963) dan Marvin Minsky (Semantic Information Processing, 1968) untuk menyebut beberapa dari literatur yang banyak itu – tumbuh menguat paradigma sains kognitif ortodoks yang memandang proses-proses mental sebagai kegiatan manipulasi simbol di mana struktur sintaksis dan semantik mengikuti segugus kaidah komputasional.

Bahkan sejak awal ketika pikiran manusia disamakan dengan komputer, sudah muncul banyak kritik. Pukulan telak datang ketika kompleks ide-ide self-organisation dan matematika sistem dinamik naik pentas di dekade 70-an. Dari lingkaran filsafat dan psikologi, salah satu kritik yang bergema kuat dilontar Hubert Dreyfus dalam What Computer Can’t Do (1972). Diilhami antara lain oleh Merleau-Ponty dan Heidegger, Dreyfus menggugat asumsi paradigma ortodoks. Asumsi psikologis berupa keyakinan yang belum terjustifikasi bahwa pikiran memang berfungsi seperti sebuah komputer digital yang memanipulasi simbol-simbol; asumsi epistemologis bahwa program-program komputer dapat dipahami sebagai formulasi pikiran manusia; dan asumsi ontologis bahwa data tentang dunia yang diolah manusia dalam pikirannya, terdiri dari satuan-satuan diskrit yang bersifat tertentu dan eksplisit yang bisa diproses secara heuristik – ketiga asumsi ini, betapapun membantu, memang sangat cocok untuk komputer tapi tidak untuk manusia. Paradigma ortodoks mungkin memadai untuk menangani sebentuk kecerdasan murni yang diisolir dari dunia, kecerdasan komputasional yang dalam memanipulasi simbol-simbol sungguh sangat canggih bahkan melampaui kemampuan komputasi manusia, tapi masih sangat jauh untuk sekedar mendekati pemahaman dan peniruan seluruh kerja kompleks pikiran manusia yang serba tak terduga yang ditemui dalam sejarah. Bahkan untuk sekedar meniru kemampuan kognitif serangga pun tak.

Pendekatan lebih baru yang mencoba melampaui model komputasional, datang lewat pembuatan model-model otak dan pemrosesan mental yang secara biologis realistik, yang seringkali disebut dengan neural network atau parallel distributed processing. Jika tadinya otak dipandang sebagai mesin yang memanipulasi simbol, kini ia dilihat sebagai sesuatu yang mirip dengan pandangan kaum tekstualis postmodernis terhadap teks: suatu tenunan mahakompleks dengan jaringan yang berlapis-lapis dan saling merujuk. Unit-unit dari suatu jaringan (analog dengan neuron-neuron otak) adalah prosesor-prosesor sederhana, dan hubungan-hubungan antara prosesor yang amat sangat banyak itu, punya kekuatan yang beraneka ragam. Pemrosesan informasi bersifat paralel, yakni terjadi secara simultan dan terdistribusi di mana setiap koneksi individual berpartisipasi dalam pengelolaan jenis-jenis informasi yang beraneka ragam. Dengan meniru cara organisme hidup menangani problem yang mereka hadapi dalam pertempuran untuk lestari, para ilmuwan mengembangkan alat-alat baru buat memecah banyak problem kompleks. Di antara pengembangan itu adalah genetic algorithms, program komputer yang meminjam ide dari evolusi biologis, dan artificial neural network, perangkat kecerdasan buatan yang terilhami oleh penemuan-penemuan di bidang sistem syaraf pusat. Namun demikian, paradigma berbasis otak yang juga disebut connectionism ini, belakangan digugat dan diperluas karena pikiran manusia, kognisinya, memang jauh lebih besar ketimbang sekedar otaknya.

Autopoesis atau Teori Santiago bisa disebut sebagai salah satu teori paling maju dalam gerakan revolusi kognitif. Diajukan oleh Francisco Varela dan Humberto Maturana, teori yang mengambil nama dari akar kata yang juga membentuk puisi, yakni poesis dalam pengertian Aristotelian: membuat, mencipta – ini menandaskan bahwa kognisi adalah karakter dasar seluruh makhluk hidup. Bahkan organisme bersel tunggal pun melakukan kognisi, dan itu bukan sekedar pengenalan lingkungan tapi adalah pelahiran sebuah dunia (bringing forth a world) sebagai perluasan diri si makhluk dalam cara yang disebut structural coupling, semacam fenomen khaos yang mengikuti kaidah-kaidah kompleksitas.[14] Ringkasnya, sistem hidup adalah sistem kognitif dan kehidupan sebagai proses adalah sebuah proses kognisi, proses penciptaan, yang dibentuk oleh segenap aktivitas yang terlibat dalam perwujudan berkesinambungan sistem autopoetik dalam lingkungan struktur disipatif.

Mengidentikkan kehidupan dengan kognisi, dengan penciptaan, adalah salah satu sumbangan besar teori Autopoesis pada revolusi kognitif yang akan mengubah radikal hidup dan pemahaman manusia atas dirinya.[15] Sejumlah pemikir visioner menyatakan bahwa dengan sains dan teknologi kognitif, dipadu dengan teknologi cyber-quantum, hidup manusia akan dikelilingi oleh banyak hal yang akan segera jadi sepele seperti transfer kesadaran dan kecerdasan ke jaringan komputer dunia yang kemudian akan diumpan balik ke otak manusia untuk melambungkan kecerdasan dan membentuk semacam immortalitas elektronik. Planet, dan kelak galaksi, yang dihidupi manusia akan dibuat jadi global brain dengan perbendaharaan pengetahuan, kapasitas ingatan dan kecepatan pemrosesan simbol yang nyaris tak terhingga.[16]

Tapi, kontribusi terbesar sains kognitif bukan hanya pada revolusi yang memungkinkan manusia hidup dengan otak teknologis yang superpintar atau menjadi kognonaut yang berjalan dari satu semesta pengertian ke semesta pengertian lain. Kebutuhan untuk mengerti rasionalitas manusia, kesadarannya, emosi-emosi, persepsi dan hasrat-hasratnya, untuk memahami mengapa otak menyerupai teks dan proses bio-kognisi meniru proses berbahasa, memaksa sains kognitif membuka diri pada kajian-kajian sastra, kebudayaan, sejarah dan praktis seluruh ilmu-ilmu tentang manusia. Gerak keluar itu bukan saja memberinya cahaya dan ketercekaman baru mengetahui apa yang mungkin dicapai oleh tubuh dan ketakutan, oleh kata-kata dan passi; untuk kembali menegaskan pikiran sebagai miniatur kosmos yang mampu melakukan apa saja sebab — seperti kata Joseph Conrad — segala sesuatu ada di dalamnya, semesta masa lalu dan juga semesta masa depan. Daya yang muncul dari ilmu tentang khaos dan kompleksitas, memberi sains kognitif kekuatan untuk jadi poros penggabungan cakrawala cakrawala pengetahuan, untuk melihat hubungan antara kegiatan bermetafora dan pembuatan konsep yang jalin-menjalin dengan — meminjam Adorno — endapan menyejarah penderitaan manusia, dengan munculnya kehidupan biotik di tatasurya. Tegasnya, pengetahuan ini jadi rantai yang menghubungkan evolusi kosmis, biologis dan kognitif, menjalinnya jadi suatu kesinambungan agung dalam pola yang mirip set Mandelbrot, dan melengkapinya jadi sebuah drama kolosal; drama dengan evolusi yang proses fisiknya jauh lebih rumit dari yang dibayangkan Darwin, dengan teleologi yang jauh lebih dahsyat dari yang dipikirkan Hegel, dan dengan latar metafisik yang bisa jadi jauh lebih menggetarkan ketimbang yang diimajinasikan oleh para nabi dan kaum suci pengajar doktrin gradasi wujud: drama alam semesta yang sedang bekerja secara luar biasa fantastik untuk secara nyata mencipta dirinya sendiri lewat pikiran manusia.

Sementara baiklah diringkas dulu kesimpulan mutakhir sains yang tentangnya para ilmuwan umumnya tak lagi berdebat: kajian di aras kosmos fisis terus-menerus menggarisbawahi bahwa kenyataan alam memang lebih liar dari apa yang dimajinasikan manusia, bahkan lebih liar dari kemampuan manusia menghayalkannya; sementara kajian tentang kosmos kognitif menunjukkan betapa kenyataan alam dengan khaos dan kompleksitasnya ternyata lebih dekat kepada pikiran dan imajinasi manusia ketimbang pikiran dan imajinasi itu sendiri.

Relasi ajaib imajinasi dan realitas memungkinkan ilmu mutakhir seperti cacing yang setengah sadar dituntun — atau malah dikerjai? — alam mendaki keluar dari ceruk kenyataan yang selama ini dihidupi, sementara di luar ceruk itu masih terhampar gunung-gunung, samudera dengan palung-palungnya, nebula dan superkluster. Dalam upaya pendakian itu, satu-satunya penuntun rasa ingin tahu sains hanyalah keindahan. Fungsi keindahan sebagai penengah antara imajinasi dan realitas sungguh tidak remeh. Sains bisa tumbuh karena keindahan sejauh ini adalah ciri dasar semesta. Banyak ilmuwan yakin bahwa keindahan dalam suatu teori hampir mirip dengan pembuktian. Keindahan adalah tanda kesatuan internal sebuah teori. Paul Dirac, penemu antimateri — partikel yang ia dipergoki lewat deduksi matematika dan baru dikonfirmasi oleh eksperimen sekian tahun kelak — pernah bilang: jauh lebih penting mendapatkan persamaan yang elegan ketimbang eksperimen yang cocok.

Tetapi, kendati teori yang elegan sangat penting, namun keterbatasan nalar manusia, juga dalam kemampuannya menghadapi keindahan, sering menipu sendiri manusia. Watak fiktif ilmu dan watak fiksius realitas akan terus mendera nalar untuk selalu menguji teorinya, untuk terus membuktikan dan mewujudkan apa yang secara teoritis mungkin. Pada skala besar, pada magnitude yang berkelindan dengan dorongan evolusioner menaklukkan dunia, lewat industri dan birokrasi raksasa, deraan itu akan terbentang bagi sejumlah pengamat luar sebagai berubahnya ilmu dan teknologi menjadi ideologi yang nyaris mahakuasa. Tampaknya itu yang dilihat oleh Mazhab Frankfurt, khususnya Habermas, ketika bicara dalam uraian termasyhur tentang ilmu dan teknologi yang berkembang secara kuasiotonom dengan pengendali dan penentu bukan sebuah tujuan yang sekaligus menjadi normanya. Yang terjadi adalah setiap ditemukan teknik baru, teori baru, segera diusahakan pula bagaimana teknik dan teori tersebut dapat dan harus digunakan. Maka terhamparlah satu etik aneh: bukannya tujuan yang menetukan cara, melainkan cara yang menentukan tujuan.[17]

Dengan mood epistemologis seperti itu, rasionalitas ilmiah dan teknologis memang bisa terlihat bergerak gemuruh seperti stoomwalls yang berjalan pelan tak tertahankan menggilas rata segenap otherness yang tegak di depannya, membelah rimba raya makna yang wingit dan lanskap idilik dunia tradisi; membakar kosmos dingin dunia primitif dan membentangkannya menjadi kancah membara bagi preservasi dan homogenisasi diri peradaban modern. Tetapi, dibelakang setir dan panel kontrol mesin besar itu, dibelakang hiruk pikuk disenchantment of the world dan revolusi perubahan bumi manusia itu, terlihatlah para ilmuwan yang pernah diejek sebagai sang pendeta baru pemegang kebenaran itu, ternyata bukan melulu makhluk hebat yang bekerja kalap dengan sebuah etik ganjil yang menakutkan. Mereka alami memang betapa sains memberi kemampuan memprediksi peristiwa dan menguasai kenyataan, kemampuan yang membuahkan sebentuk kekuasaan yang bekerja dalam dunia sampai batas-batas yang mereka sendiri tidak bayangkan. Namun, mereka yang kadang terlihat linglung atau mungkin hidup sebagai tetangga yang menjengkelkan — apa boleh buat, perilaku sosial, seperti halnya dengan tata iman, tak defenitif hubungannya dengan kecemerlangan menyusun dunia teori; mereka yang sering dibikin rikuh oleh kebuntekan dan kekersangan hati kapital, oleh ketaksabaran heroik menggelegar ideologi-ideologi; mereka ini tak lebih dari makhluk terbatas yang terus menerus terdera oleh kegamangan atas status kebenaran pengetahuannya, yang pikirannya sobek antara watak fiktif ilmu dan watak fiksius kenyataan, dan yang mencoba mengejar penghiburan dengan terus bergerak maju mengkonfrontir pengetahuannya. Dalam konfrontasi itu mereka terus-terusan dipaksa takluk mengaku bahwa alam memang sering sisnis pada karya-karya mereka. Tapi di sisi lain, perenungan karakter fantastis bahkan surealistis dari realitas terasa selalu memanggil-manggil – dalam kalimat Einstein juga – bagai sebuah pembebasan.

Adalah panggilan pembebasan itu yang ikut membentuk fungsi fundamental sistem sosial sains untuk memperluas interplay antara imajinasi dan kritik dari kegiatan privat menjadi kegiatan publik, menjadi kegiatan dunia, menjadi sejarah. Memang, perasaan menyamudera, suwung, setelah sebuah penemuan dan penciptaan — batu penjuru sejati seorang seniman — bagi ilmuwan yang paling beruntung dan berbakat sekalipun hanyalah satu titik dalam proses panjang hidup dalam, dan bersama, ilmu. Dulu, proses ini memberi ilmu kekuatan perkasa mencabut fascinosum et tremendum primitif-tradisional yang kendati ujungnya mungkin menempatkan manusia secara imajiner di pusat kosmos tapi secara nyata melumpuhkannya dalam takhyul yang menipu. Sains jadi kekuatan penjinak khaos dan pengusir kegelapan demon yang menguasai dunia ribuan tahun, si penyeret waktu memasuki sejarah terang-benderang ego sang penguasa kata-kata dan benda-benda yang akan mendikte dunia. Tapi proses ini juga yang kelak menyeret ilmu memergoki fascinosum et tremendum baru yang lebih kolosal akibat pertemuan dengan kenyataan yang lebih fantastik, lebih grotesque, dan lebih khaotik ketimbang yang ditemui di jaman gelap prasejarah ilmu. Dan ketika kata Pencerahan dan Akal-budi nyaris kehilangan referen, manusia pun menerima bahwa dirinya cuma parasit pendatang baru yang membusuk akibat ulahnya sendiri di sebintik debu biru pucat sepele di salah satu sudut tanpa arti jagat raya. Tapi yang ajaibnya, dan inilah salah satu bentuk kekuatan fantastik kosmos, parasit ini tampaknya justeru dipersiapkan untuk melaksanakan fungsi yang mungkin vital, bukan sekedar partisipasional, dalam memastikan kekekalan, kelangsungan hidup dan penyempurnaan diri kosmos raya.

Sains Sebagai Perangkap

Status pengetahuan yang fiktif dan watak kenyataan yang fiksius, rasanya memberi kita cukup dasar untuk menerima keterbatasan manusia jika otaknya — yang di akhir abad 20 ini masih dibiarkan serupa dengan otak leluhurnya yang mencerap dan membagi dunia secara biner — kini mempersepsi dunia sebagai paduan antara fakta dan fiksi. Andai alam semesta yang teramati ini hanya terdiri dari fakta dan fiksi maka dapat didefenisikan bahwa fakta adalah apa saja yang belum tersentuh dan berubah oleh imajinasi manusia, sedang fiksi, tentu saja, adalah seluruh hal selain fakta. Realitas kosmos mungkin memang jauh lebih luas dari fiksi ilmu. Tapi dalam hal fakta yang teramati, terlihatlah betapa fiksi ilmu, imajinasi ilmu, dalam beberapa hal ternyata jauh lebih besar dan mendahului fakta yang terobservasi. Kekuatan pengamatan dengan teknologi yang kian perkasa, membuat cakrawala fakta terbentang kian luas. Tetapi begitu fakta-fakta terkena sentuhan imajinasi, serta merta ia berubah jadi sumber inspirasi fiksi, kenyataan beralih jadi bahan mentah bagi penciptaan. Kedahsyatan imajinasi dan kekuatan pengamatan membuat fakta dan fiksi tampak berlomba dan berintekasi saling memperbesar diri.

Dalam perlombaan fakta dan fiksi ini, yang hanya mungkin oleh adanya kognisi yang kritis, diam-diam alam menjalankan muslihatnya menuntun manusia mengatasi kemanusiaannya: menjebaknya mencapai tataran yang dulu tak berani diimpikan oleh imajinasi paling gila sekalipun. Manusia, yang tubuhnya terdiri dari unsur-unsur yang dulu dibentuk dalam perut bintang-bintang, tampak memang lebih seorang khalik ketimbang makhluk, sesosok tuhan yang mengidap amnesia, yang imajinasinya bukan saja jadi instrumen evolusi untuk menjinakkan keliaran kenyataan, tapi juga alat untuk menyembuhkan amnesianya. “Ingatan” sayup (mungkin premonisi atau bisa jadi sekedar déjà vu?) tentang diri sebagai makhluk ilahiah betapapun tak pernah benar-benar hilang dan selalu muncul dalam sejarah perenungan manusia. Namun, karena belum kokoh benar, tiap ide yang menyarankan keilahian manusia kerap ditanggapi dengan kegamangan, yang kadang demikian berat dan coba diatasi dengan menipu diri lewat bayangan akan kutuk yang tak tertanggungkan manusia. Reaksi itu adalah inti mitologi buah khuldi dan Promotheus, kisah kehancuran Dr. Frankenstein Mary Shelley dan Dr. Moreau H.G. Wells. Juga inti tabu incest: larangan universal yang membentuk masyarakat dan menjadikan sekaligus menahan manusia tetap manusia, dan mencegahnya jadi lebih dari sekedar manusia karena impian incest, setidaknya di usia dewasa — menurut Carl Gustav Jung — adalah perlambang bersatu dengan, atau melebur jadi realitas tertinggi pencipta segala ada.

Ketika merenungkan sejarah sains sebagai tatanan fiksi kompleks yang tumbuh memperluas dan membersihkan diri menjadi kekuatan penyingkap fakta-fakta kosmos, yang lalu menemukan bahwa fakta-fakta tersebut ternyata jauh lebih fiksius dari fiksi yang paling liar sekalipun — penemuan yang memperkuat kesadaran akan keterbatasan fiksi ilmu pengetahuan, kesadaran yang justeru memberinya kekuatan untuk terus menerus mentransendir keterbatasan itu; sejarah yang ketika menata fiksi dari fakta-fakta alam bukan saja berhasil membentangkan eksistensi realitas yang luas tak terkira, tapi juga berhasil memperkaya fiksi itu sendiri — saya berpikir bahwa sains telah beroperasi dengan kegiatan yang mirip kerja para dekonstruksionis: menyusun teks sendiri lewat pembongkaran teks-teks lain dan dengan demikian berusaha melebihi teks-teks itu dengan mengatakan sesuatu yang tak dikatakan dalam teks-teks itu; bergulat dengan kehadiran yang tertunda dan kesilaman yang mutlak, yang konon bisa membawa pelaku dekonstruksi melayang ke posisi di seberang pengetahuan mutlak.

Tetapi melihat ilmu, dengan skala yang jauh lebih dahsyat, melakukan dekontruksi terhadap alam semesta, terhadap apapun yang bisa dijangkaunya, ternyata baru satu hal. Gambaran yang tampil di situ adalah sang dekonstruksionis yang aktif, sedangkan teks-teks, kendati memang diperkaya dan tampil bersinar-sinar dengan cahaya baru, hanya jadi pengiring pasif, tanpa prakarsa asali, ibarat relasi antara pengukuran yang dipilih dan fakta yang teramati dalam ranah kuantum. Gambaran ini bagus, tapi ia melenyapkan sejarah, yakni sejarah rentetan koinsidensi kosmik prinsip antropik, sejarah kenyataan kosmos yang mengkonstitusikan takdir dalam kode genetik manusia untuk merealisasi diri setinggi-tingginya lewat alam, dan lewat realisasi diri manusia itu alam justeru menghamparkan kebesarannya. Ringkasnya, alam semesta dengan cara yang luar biasa rumit dan sedemikian susah payah melahirkan dari dirinya makhluk cerdas dan terus menerus menuntun intelek itu menjadi Pencipta sebagai salah satu jalan bagi semesta raya — teks maha besar itu — untuk menuliskan dirinya.

Kerja besar kosmos menuliskan dirinya berjalan jelas lewat pertentangan antara pengetahuan-yang-fiktif dan kenyataan-yang-fiksius. Lewat otaknya yang diberikan alam — lewat kemampuan “berbahasa” yang disiapkan dalam benaknya seperti yang ditunjukkan Chomsky sehingga ia, sebagaimana telah disadari Socrates, senantiasa berada dalam state of knowledge — manusia berhasil menumpuk pengetahuan yang luar biasa. Tetapi penumpukan yang dahsyat itu senantiasa dihantui rasa gamang akan kebenaran, konsistensi dan kelengkapan pengetahuan itu sendiri. Bersama dengan penegasannya bahwa semesta dunia Platonik matematika tak dapat direduksi menjadi suatu aksara berhingga simbol-simbol dan satu gugusan terbatas aksioma dan kaidah-kaidah inferensi, teorema Gödel menunjukkan bahwa pengetahuan yang konsisten tak lengkap dan pengetahuan yang lengkap tak konsisten.

Bagaimana pula manusia yakin pada pengetahuannya yang ia timbun tentang kelahiran alam semesta, padahal jarak ruang dan waktu yang luar biasa besarnya membuatnya mustahil menyaksikan jagat raya dilahirkan? Bagaimana mungkin manusia bisa menuntaskan pengetahuannya tentang alam semesta dan segenap isinya, padahal ia tahu mustahil mengetahui sesuatu jika ia terperangkap dalam obyek itu, sementara manusia takkan mungkin berada di luar alam semesta yang dihidupinya ini? Dan kalaupun kelak benar-benar ditemukan sebuah Teori Mahasemesta tentang genealogi jagat raya dan semua hal yang terjadi di dalamnya, yang dengan segala macam abstraksi matematis dan eksperimen imajiner superumit disimpulkan punya kemampuan pengorganisasian data, penjelasan gejala dan peramalan kebolehjadian peristiwa yang benar-benar hebat dan belum pernah dimiliki dunia, teori seperti ini toh tetap bukan apa-apa: ia hanya sebuah teori. Fiksi!

Dan andaipun revolusi ilmu dan teknologi memberi manusia instrumen dengan kecerdasan mengerikan yang bisa mensimulasi alam semesta seisinya, menjadi semacam artificial universe, itu juga tetap bukan apa-apa kecuali hanya simulakrum yang diturunkan dari rasio dan prasangka manusia, bukan semesta pada dirinya sendiri. Dan kenyataan yang fiksius — belum cukupkah peringatan yang diuarkan sejarah ilmu untuk tidak curiga betapa kenyataan semesta dengan segenap watak fantastik dan surealistiknya bisa saja selama ini mengecoh manusia yang dibikin sangat terbatas itu dengan memberinya sejumput revelasi semu agar manusia berpikir bahwa mereka mengerti kenyataan padahal tak?

Cara paling logis menyelesaikan kontradiksi pengetahuan fiktif manusia tentang semesta seisinya dengan watak fiksius realitas kosmos hanyalah sebuah “tindak ilahiah”: mencipta sendiri alam semesta. Itulah solusi yang benar, sebagaimana empat tahun lalu manusia mencipta domba Dolly dari kelenjar tetek, untuk mengecek pengetahuan fiktif-tentatifnya tentang biologi kromosom dan rekayasa genetika. Karena itu, jika pengetahuan tentang semesta dan seisinya terus menerus menumpuk, dan tumpah, dan bertemu dengan tanah sejarah yang matang menjadi lahan persemaian alam semesta, imajinasi dan intelegensi manusia kelak akan benar-benar, setelah lewat sekian kesalahan, mencipta sendiri semesta raya; bukan sekedar sebuah planet ganjil yang — seperti dalam cerita Borges: Tlön, Uqbar, Orbius Tertius — lengkap dengan beragam arsitektur dan kartu kocoknya, keseraman mitologi-mitologi dan pelbagai dialek bahasanya, aljabar dan apinya, perdebatan-perdebatan teologi dan metafisikanya. Tapi sebuah semesta yang juga komplit dengan cluster dan materi gelapnya, dengan hukum genetik dan pergulatan kognitif makhluk hidupnya, namun dengan tingkat kesempurnaan yang bisa jadi lebih subtil ketimbang semesta “asali” yang sekarang kita hidupi.

Dengan apa alam semesta buatan akan dibenihkan? Mungkin betul dengan kehampaan. Dengan fluktuasi kuantum, atau jika kita melihat semesta raya sebagai makhluk hidup, mungkin ia bisa diklon, direkayasa, dari struktur dasarnya yang terkecil yang kita tahu menyimpan segenap sejarah semesta. Memang, dari benih semesta ini masih ada sejumlah masalah antara lain inflasi kosmik pascapenciptaan yang tumbuh melampaui cahaya. Tetapi, selama waktu dan imajinasi bersetubuh, penciptaan akan menemukan jalannya. Penciptaan — pelahiran diri — semesta adalah hal yang tak terelakkan, wajar, mungkin sudah terjadi — akibat ketakpastian dan keacakan yang meraja di struktur dasar materi — dan selalu akan menjadi tiap kali hidup dan kognisi berdenyut, tiap kali metafor mekar dan teori rekah, tiap kali pengetahuan kembali sadar diri dan berkata ‘tidak’ terhadap pengidentikan dengan kenyataan. Setelah mencipta semesta raya seisinya — semesta yang dalam skala superkosmos[18] kira-kira besarnya cuma seukuran atom dibanding kosmos hunian manusia yang dibayangkan Einstein dan Hubble; ibarat setetes buih renik, tanpa arti, di bawah hamparan badai samudera mahaluas — maka imajinasi-intelek yang jelas berkembang sangat jauh itu niscaya akan terus didera, ditipu, dinanti-nanti, dituntun dengan cara yang belum bisa dibayangkan, mungkin dengan dibiarkan, untuk pada akhirnya menciptakan juga superkosmos tersebut.

Memang, beberapa paragraf di atas adalah spekulasi nalar cacing di depan keluasan jagat raya. Takkan ada yang bisa tahu persis apa yang akan terjadi dengan ilmu pengetahuan dan kecerdasan di masa depan. Ilmu-ilmu tentang chaos dan kompleksitas sudah menunjukkan bahwa tentang masa depan yang terbentang dengan kemungkinan yang tak terbatas, ternyata sangat sulit untuk meramalkannya, jauh lebih sulit ketimbang menciptakannya. Kalau ada hal yang kadar spekulasinya sukup rendah karena preseden sudah banyak terjadi dalam sejarah ilmu dan sebab itu agak lebih aman untuk dipegang maka itu adalah ini: pada saat keturunan intelektual manusia berhasil mencipta superkosmos, kenyataan fiksius yang melatari superkosmos itu niscaya akan kembali menghamparkan berkahnya dengan menampakkan jejak sebagai sesuatu yang kedahsyatannya meledak di luar jangkauan imajinasi paling liar para pencipta itu. Karenanya, alangkah menakjubkannya bahwa penciptaan supersemesta raya seisinya, betapapun tampak agung dan akbarnya hal itu, bukanlah keharusan terakhir dalam sejarah makhluk berakal.***

Tanjung Barat, 1998-99

Nirwan Ahmad Arsuka

Dengan tajuk yang berbeda (“Ilmu di Simpang Alaf”) tulisan ini dimuat dalam Laporan Penelitian “Kebijakan Kebudayaan di Masa Orde Baru” Kerjasama Pusat Penelitian dan Pengembangan Kemasyarakatan dan Kebudayaan — LIPI dengan The Ford Foundation, Jakarta 2001.

Dimuat juga sebagai artikel di Jurnal Melintas — Universitas Parahyangan, Bandung, Thn 17, No 52 & 53, April – Agustus 2001

No Comments

Leave a Reply